Saturday, September 29, 2012

Pembelaan terhadap Muhammad Rasulullah SAW


Belum lama ini beredar film yang dikatakan menghina Muhammad Rasulullah SAW. Sudah beberapa waktu lalu aku ingin menulis tentang ini, tapi sayang, baru sempat sekarang. Ketika aku membaca berita itu di salah satu website, dan mencari tahu seperti apa filmnya di youtube, dan juga membaca kejadian yang dilakukan umat muslim sebagai aksi protes sampai akhirnya ada pihak yang terlukai dan terbunuh, aku sangat menyayangkan hal itu terjadi.

Sungguh, jika kita meneladani sifat Rasulullah SAW, beliau tidak akan mengijinkan kita berbuat kekerasan seperti itu. Masih ingat kisah pengemis buta yahudi yang selalu menghina beliau tetapi Rasulullah SAW tetap mengasihinya dengan memberinya makan setiap hari, bahkan dengan menghaluskannya terlebih dahulu agar pengemis itu tidak kesusahan mengunyahnya? Dan itu beliau lakukan sampai akhir hayatnya, sehingga ketika Abu Bakar As-shiddiq menggantikannya, pengemis buta itu tahu bahwa orang ini bukan orang yang biasa, sebab dia tidak menghaluskan makanannya terlebih dahulu. Setelah pengemis buta itu tahu bahwa yang menyuapinya selama ini adalah Rasulullah SAW maka dia pun mengakui Rasulullah SAW dan masuk islam.

Lihat betapa lembut sifatnya. Manusia tidak akan takluk dengan kekerasan, tapi dengan kelembutan. Masih ingat kisah ketika Rasulullah SAW mendatangi suatu kota dan dilempari batu? Sehingga malaikat Jibril menawarkan agar mereka ditimpa gunung sebagai balasan atas perbuatan mereka. Apa kata Rasulullah SAW? “Sesungguhnya mereka berbuat begitu karena mereka tidak tahu.” Beliau menolak perbuatan kaum itu dibalas.

Ada lagi contoh kasus orang yang menghina Muhammad Rasulullah SAW, sehingga Umar bin Khattab menawarkan diri untuk membunuh orang itu, tapi Rasulullah SAW menolak. Beliau memilih cara kelembutan daripada kekerasan.

Dengan pengetahuanku yang minim ini, kurasa masih banyak contoh lainnya.

Lalu bagaimana kita harus bersikap? Menurut pendapat pribadiku, jika kita melakukan kekerasan, semakin yakinlah orang-orang yang memusuhi islam bahwa islam identik dengan kekerasan. Sebaliknya, kita harus tetap lembut dan menjaga amarah dan menunjukkan pada orang-orang bahwa islam adalah agama yang benar dan menjadikan pemeluknya orang-orang yang lembut dan santun sikapnya. Berikanlah contoh bahwa kita meneladani Rasulullah SAW yang lembut hatinya, bahwa beliau adalah manusia yang mulia akhlaknya.

Wallahu a’lam.

Ayat dalam Quran


Berapa jumlah ayat dalam Quran? Yang aku ingat, selama aku sekolah, yang di ajarkan adalah 6666 ayat, tapi karena aku tidak yakin akan ingatanku, maka aku googling. Dan apakah ingatanku benar? Ya. Tapi apakah fakta itu benar? Tidak. Ternyata jumlah ayat dalam Quran bukan 6666. Jadi berapa?

Jawabannya: Bervariasi. Kalau mau tahu lebih lanjut silakan cari di google.

Kenapa bisa bervariasi? Karena ketika menyampaikan wahyu, ada saatnya ketika Rasulullah SAW berhenti untuk mengambil nafas kemudian melanjutkan. Nah, ada yang mengambil kesimpulan saat berhenti itu berarti satu ayat, tapi ada juga yang menyimpulkan bahwa kalimat lanjutannya masih satu ayat. Bisa dikatakan bahwa ketika Rasulullah SAW berhenti sebentar, ada yang menganggap itu titik, ada juga yang menganggap itu koma.

Menurutku, berapa pun jumlahnya itu tidak masalah. Semua benar, selama isi dari Quran itu sendiri tetap sama, tidak berubah.

Wallahu a’lam.

Tiket masuk surga


Seandainya neraka dan surga diperlihatkan, dan orang-orang ramai-ramai ingin masuk surga, dan seandainya masuk surga bisa dibayar dengan tiket satu orang seharga lima ratus triliun atau lebih dari itu, niscaya orang-orang akan bekerja keras demi mendapatkan tiket itu. Padahal Allah telah meminta yang lebih mudah dari itu.

Aku kutip dari buku “Ensiklopedia” Kiamat – Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar:

Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan dari Anas ibn Malik r.a. bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Seorang kafir dipanggil menghadap pada hari kiamat, lalu ditanyakan kepadanya, ‘Bagaimana jika kamu memiliki emas seisi bumi, apakah kamu akan menebus dirimu dengan itu?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Kepadanya dikatakan, ‘Dahulu Aku telah meminta yang lebih mudah dari itu.’”

Wallahu a’lam

Tuesday, September 18, 2012

Kebebasan beribadah


Mengapa jaman sekarang semakin banyak orang yang menjelek-jelekkan pemerintah? Memang, kuakui, pemerintahan mereka banyak kekurangannya, tapi bukan berarti dengan begitu lantas kita bisa mencela-cela seenaknya. Bukankah berdirinya mereka di “singgasana” pemerintahan adalah karena pilihan kita? Tidak merasa memilih? Nah karena tidak memilih itu pula lah yang menyebabkan mereka berdiri di posisinya sekarang.

Bukan maksudku untuk manut-manut juga pada mereka karena mereka pemimpin, tidak. Patuhlah jika menurut kalian mereka benar, dan ingatkanlah jika menurut kalian mereka salah. Ingatkan dengan cara yang baik, santun, bukan dengan kekerasan, juga tidak mempermalukan dan merendahkan mereka. Manusia mana sih yang mau dipermalukan, direndahkan?

Seburuk-buruknya pemerintah sekarang, kita masih harus bersyukur karena kita diberi kebebasan beribadah. Adzan magrib masih diputar di televisi, adzan setiap waktu shalat masih berkumandang di berbagai masjid, salat jumat masih ditegakkan, salat di hari raya Idul fitri dan Idul adha masih diperbolehkan, wanita berhijab tidak dilarang (meskipun masih ada segelintir perusahaan yang melarang).

Untuk itulah paling tidak kita berterimakasih dan berhenti mencela mereka. Kalau memang merasa mereka salah, berbuatlah sesuatu, jangan sekedar mencela di belakang.

Wallahu a’lam.

Perlindungan anak dan wanita dalam islam


Beberapa waktu lalu, aku membuka salah satu link dari facebook milik sebuah lembaga yang suka mengadakan seminar mengenai orangtua-anak. Isi link itu adalah sebuah berita mengenai pencabulan seorang anak TK oleh anak SMP akibat menonton video porno. Innalillahi, betapa mengerikan. Berita-berita seperti ini sungguh menakutkan ibu-ibu yang memiliki anak perempuan.

Mungkin itulah sebabnya, dalam islam, seorang perempuan, anak-anak maupun dewasa, kalau keluar rumah harus ditemani oleh muhrimnya. Siapa saja muhrimnya? Setahuku, please cmiiw, kakak/adik laki-laki, ayah/ayah mertua, paman, ponakan, kakek. Nah, kalau sudah ditemani orang-orang ini saat keluar rumah, insyaallah aman. Nah, siapa yang masih mikir kalau peraturan ini ribet? Bukannya justru aman dan melindungi kita?! Eh tapi kalau ngga salah istri sih masih bisa keluar asal seijin suami ya (cmiiw)?

Wallahu a'lam.

Jadilah seperti musafir

Waktu itu, aku mendengarkan sebuah kajian mengenai bagaimana cara kita hidup di dunia, sayangnya aku mendengarkannya cuma sebentar, tapi intinya dikatakan di sana, jadilah kita hidup di dunia ini seperti musafir, seperti orang asing. Apa maksudnya?

Yaitu bahwa kita di dunia ini hanya sebentar, hanya persinggahan sementara untuk melanjutkan perjalanan, kita juga perlu memiliki perbekalan yang cukup untuk melanjutkan perjalanan kita, ke tujuan yang sebenarnya.

Nah cuma segitu penjelasan yang aku dengar, tapi lumayan dapat kan intinya. Tujuan akhir kita kan justru kehidupan akhirat, dan di dunia ini memang kita lagi “singgah” untuk mengumpulkan bekal perjalanan kita selanjutnya. Jadi kumpulkanlah bekal kita sebaik-baiknya. Dunia ini cuma tempat singgah, bukan tempat menetap, jadi pikirkan baik-baik apa yang perlu kita kumpulkan agar bekal kita cukup untuk menempuh akhirat nanti.

Wallahu a’lam.

Alasan emak-emak :p


Banyak kerjaan, blog pun terbengkalai.. Wkwkwkwk.. Alesan! Padahal tinggal copy paste ke blog :P

Tapi emang, habits ini agak terbengkalai semenjak pulang lebaran dan ngga ada pembantu. Soalnya, aku nulis itu di waktu shubuh, sementara pas ngga ada pembantu, jam segitu udah berkutat di dapur dan di tempat nyuci baju *multitasking mode* jadi sekarang berasa mulai habitsnya dari awal deeehhhh.... *menarik nafas panjaaangggg dan beerrrraaaattt*

Tapi bagaimanapun juga, terimakasih pembantukuuu :p

Ya udah deh daripada kebanyakan prolog, abis ini insyaallah aku posting tulisannya yang sudah seharusnya entah kapan diposting :p

Tuesday, September 11, 2012

Menjaga hubungan baik dengan Allah


Kalau ada teman kamu yang baik, menolong kamu saat kamu kesusahan, menghargai kamu di saat senang, setia padamu, dapat dipercaya, dan sifat-sifat baik lainnya, apakah kamu juga akan baik padanya? Akan sayang padanya? Dan kamu merasa bahwa temanmu itu adalah seseorang yang berharga? Apakah saat temanmu kesulitan kamu akan menolongnya?

Kemungkinan besar, jawaban semua pertanyaan di atas adalah iya. Maka sebaiknya begitu jugalah cara kita menjaga hubungan kita dengan Allah, selalu mendekati-Nya dalam setiap keadaan, susah dan senang, bukan hanya meminta pertolongan saat kita susah. Semoga dengan cara begitu Allah semakin sayang pada kita, semakin ingat dengan kita, dan menolong kita agar selalu berada di jalan-Nya yang lurus, seperti yang ada dalam Al-Fatihah ayat 7 yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Coba pikir, misalnya kita punya teman yang ngga pernah datang pada kita saat mereka senang, tapi giliran lagi susah, selalu minta pertolongan sama kita. Gimana rasanya?

Bukannya membandingkan Allah dengan manusia, Allah itu sama sekali bukan tandingan manusia, dan Allah memiliki sifat-sifat yang mulia. Contoh-contoh di atas hanya agar kita lebih mengintrospeksi diri terhadap cara kita berlaku kepada Allah SWT. Apakah tingkah laku kita selama ini adalah tingkah laku yang pantas sebagai mahluk pada Tuhannya?

Wallahu a’lam.

Agama yang diridhai


Waktu itu dalam sebuah kajian dzuhur di kantor, pembicaranya adalah seorang yang dahulunya non muslim, dia membandingkan isi Al-Quran dengan kitab yang dulu menjadi pedomannya. Subhanallah, terlihat sekali dengan jelas perbedaan tata bahasanya, keindahannya, kesempurnaannya. Al-Quran jelas datangnya dari Allah, sementara kitab yang satunya jelas ditulis manusia. Kata sang pembicara, sedikit sekali kebenaran dan keaslian dari kitab yang dulu jadi pedomannya itu.

Di kajian itu dia juga membahas, bahwa tidak ada nabi dan rasul Allah yang membawa agama selain islam. Sebab semua menyuruh untuk menyembah Allah saja, semua menyeru untuk mengikuti agama yang lurus, yang berarti islam. Kalau dipikir-pikir dia betul juga, semua nabi kan menyeru untuk menyembah Allah dan hanya Allah saja, bukan yang lainnya, dan tidak ada Tuhan selain Allah. Sedangkan yahudi bukan agama, tapi nama kaum, begitu kan ya? Begitu juga nasrani? Kayaknya sih begitu, jadi ngga ada yang bawa agama selain islam, nama agama selain islam yang berkembang ini adalah berasal dari nama kaum atau nama pembawanya. Jadi semua nabi dan rasul Allah membawa islam dan penyebarannya selesai dan sempurna pada masa Muhammad Rasulullah SAW, sesuai potongan isi surat Al-Maidah ayat 3, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku ridhai islam itu jadi agama bagimu."

Wallahu a'lam.

Saturday, September 08, 2012

Day-35: Tidur mimpiin syaithan? Hiii....


Aku pernah mendengar di sebuah radio bahwa bahkan saat tidur pun, syaitan dapat mengganggu kita melalui mimpi yang dibisikkannya. Astaghfirullah. Lalu bagaimana dong supaya terhindar dari bahaya itu?

Berdoa. Dan kalau dari informasi yang kudengar di radio, bukan sembarang doa yang dipanjatkan, melainkan ayat kursi alias Al-Baqarah ayat 255. Bagi yang sudah hapal Ahamdulillah, tinggal dibaca sungguh-sungguh saat mau tidur, bagi yang belum yuk hapalkan supaya tidur kita tenang.

Wallahu a'lam.

Day-34: Minum nanah borok? Hoeks!


Kemarin, aku membaca sebuah tulisan yang katanya dari kisah nyata, namun karena aku juga tidak mengenal penulisnya, jadi aku tidak bisa sepenuhnya percaya bahwa itu kisah nyata. Diceritakan bahwa ada seorang pramugari yang koma begitu menginjakkan kaki di Madinah dalam rangka ingin menunaikan ibadah haji. Singkat cerita, selama koma itu ternyata dia bermimpi yang sangat nyata, bahwa dia mendapat perlakuan seperti yang disebutkan dalam Al-Quran mengenai neraka, bahwa dia dibakar dalam api yang sangat panas, memakan buah berduri yang menyakitkan perut dan tenggorokan namun dia tetap memakannya karena dia merasakan lapar yang amat sangat, meminum air nanah karena dia merasakan haus yang amat sangat. Setelah sadar dari koma, dia bertaubat.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, cerita ini bisa jadi nyata, bisa jadi fiktif. Tapi nilai yang bisa kita ambil di dalamnya sangat baik, yaitu mumpung kita masih di dunia, bertaubatlah, sebelum waktu kita habis. Marilah hidup sesuai pedoman yang sudah diberikan, Al-Quran dan As-Sunnah.

Di cerita itu juga mengajak semua perempuan untuk menutup aurat, sebab dia katakan satu helai rambut yang dilihat oleh selain muhrim, maka baginya satu dosa. Bayangkan, berapa jumlah rambut kita? Bagi yang belum berhijab, coba hitung berapa laki-laki bukan muhrim yang sudah melihatnya? Jangan lupa hitung tempat umum seperti mall, bis, jalanan, dan sebagainya.

Kalau dipikir, yang namanya manusia itu emang kebanyakan bandel banget ya? Udah dibilangin tetap saja ngga nurut. Padahal peringatan-peringatan mengenai kiamat, neraka itu sudah dituliskan secara jelas, gamblang dalam Quran. Dan peraturan mengenai hidup kita ini sudah secara lengkap dibahas di Al-Quran dan Sunnah, tinggal ikutin saja kok.

Ibaratnya kita ini mau berenang di sungai, tapi di pinggirnya ada tulisan, "Awas banyak buaya lapar!" Kalau yang percaya dan takut sih batal berenangnya, mungkin piknik dekat-dekat situ juga ogah, takut buayanya naik ke darat, malah kaburrr pergi jauh-jauh. Tapi yang nekat atau ngga percaya sih bakalan tetap berenang. Nasibnya? Ya bisa ditebak sih.

Atau misalnya di tengah lapangan ada rumah yang lagi terbakar hebat, dilahap api. Kita mau menyebrang lewat tengah lapangan, lalu ada orang yang memperingatkan, "Awas itu ada api!" Kira-kira mau nekat menyebrang lewat tengah kobaran api atau memutar lapangan?

Ibu-ibu nih biasanya yang akrab sama panasnya api, soalnya kalo di dapur suka ada aja kecelakaannya, ya kecipratan minyak panas lah, kesenggol panci lah, dan sejenisnya. Harusnya yang ibu-ibu, termasuk saya, lebih takut sama neraka soalnya sering merasakan panasnya api dunia. Sementara kalau dikutip dari surat Al-Qariah ayat 10 dan 11, "Tahukah kamu apa neraka hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." Dan kalau masih ingat pelajaran agama di sekolah, panasnya api neraka itu jauh jauh jauh jauuuuuuuuuhhhhh lebih panas dari api dunia. Kayaknya ngga bisa dibayangin ya? Makanya ngga usah dibayangin, mendingan kita jauhin aja semampu kita.

Buat ibu-ibu, termasuk saya, kalau lagi ngegosip, dengerin gosip, nonton gosip, atau apa pun yang ada gosip-gosipnya, bayangin aja disuruh minum nanah borok, atau makan gunting/pisau, atau disiram minyak panas, insyaallah cukup ampuh buat bikin ilfil ngegosip dan berhenti ngegosip. Kalau berhasil, mungkin cara ini juga bisa dipakai ketika akan melakukan hal buruk lainnya, meskipun sebenarnya, kalau dibandingin sama neraka aku yakin sama sekali bukan tandingannya.

Wallahu a'lam.

Day-32: Kembali ke jaman baheula


Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa seorang muslim wajib bisa menguasai memanah, berkuda, dan berenang. Bagi orang yang hidup di jaman sekarang dengan segala kemajuan teknologi yang ada mungkin berpikir, untuk apa? Berenang masih oke lah, masih sesuai dengan jaman, tapi berkuda? memanah?

Kita berkuda paling kalau lagi berlibur dan memang ada fasilitas naik kuda keliling. Itu pun kudanya lari pelan sambil diikuti sama penjaganya. Memanah? Kalau tidak dengan keinginan sendiri, rasanya jarang orang mau memanah. Mana peralatannya tergolong mahal.

Di jakarta sendiri, setelah browsing, aku hanya tahu satu tempat yang menyediakan arena berlatih memanah, yaitu di senayan. Dan untuk umum hanya hari rabu dan sabtu kalau tidak salah, pada jam-jam tertentu. Semakin sedikit fasilitas akan membuat orang semakin malas, kecuali orang itu punya keinginan kuat.

Sebuah hadits lain mengatakan bahwa mendekati akhir jaman akan muncul pemimpin umat muslim yang dijuluki Al-Mahdi, didukung oleh Nabi Isa AS, dan akan berperang melawan fitnah terbesar yaitu Ad-Dajjal. Dalam tanda-tanda yang disebutkan mengenai akan kemunculannya mereka, ada teori-teori yang bermunculan bahwa sebelum mereka datang akan ada bencana besar yang melumpuhkan seluruh teknologi yang sudah ada.

Kalau sudah begini, akan menjadi masuk akal mengapa umat muslim diwajibkan bisa memanah, berkuda, dan berenang. Semua senjata mutakhir sudah lumpuh, lantas berperang dengan apa kita kalau bukan panah, pedang, tombak? Semua alat transportasi tidak berfungsi, pakai apa kalau bukan kuda? Dan kalau kita perlu menyebrang pulau sementara perahu terbatas, atau paling tidak kita siap kalau perahu itu tenggelam, ya kita harus bisa berenang. Dan wajar kita wajib bisa menguasai semua itu kalau suatu saat kita akan kembali berperang seperti jaman baheula.

Sekarang, coba perhatikan anak-anak kecil, mereka begitu antusias dengan berenang, berkuda, dan memanah, apalagi kalau sedang main perang-perangan. Nah, sebagai orangtua sebaiknya kita memfasilitasi keinginan kuat ini dengan mengajaknya ke tempat-tempat berlatih, sekaligus mengikuti sunnah :)

Wallahu a’lam.

Friday, September 07, 2012

Day-27: Riya di hari "pembagian rapor"


Kemarin, di mobil aku mendengarkan salah satu stasiun radio yang sedang membahas hari akhir. Dari penggambaran pembicaranya, aku menyimpulkan hari akhir itu seolah-olah seperti anak sekolah yang sedang dibagikan nilai sekolah, dipanggil satu-satu oleh gurunya ke depan, lalu dibeberkan kepada setiap murid yang hadir di kelas, berapa nilai anak yang di depan itu pada masing-masing pelajaran, berapa yang benar, berapa yang salah, nyontek atau tidak, juga bagaimana dia selama belajar di sekolah, apakah serius atau tidak, pernah tertidur atau tidak, dan sebagainya.

Mungkin kita semua tahu, bahwa manusia yang jahat sudah jelas ganjarannya, salah satu yang disebutkan di Quran kalo ngga salah ahli kitab ya? Yang "mengedit" kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelum Al-Quran? Lalu bagaimana dengan manusia yang baik? Yang banyak berbuat baik. Hati-hati, sekali lagi, hati-hati, termasuk saya juga perlu sangaaaat hati-hati, terhadap riya. Dan semoga tulisan ini bukan termasuk riya. Amiin.

Mengapa? Sebab, amal perbuatan yang riya tidak diterima di sisi Allah SWT. Innalillahi wa inna illaihi raaji'un. Sia-sialah segala amal kita di dunia jika ini terjadi. Terus terang hal ini sangat menakutkan bagiku, di mana kita hidup di dunia yang rentan pada perbuatan riya. Apa itu? Facebook, twitter, blog, youtube, dan masih banyak lagi aplikasi penunjang bagi kita untuk pamer, alias riya. Lantas apa gunanya segala amal perbuatan kita di sisi Allah kalau semua tidak diterima?

Wajar ngga kalo amalnya ditolak meskipun amal kita baik? Logikanya begini, kamu ngasih kado, terserah kadonya apa, dan kita tahu kado itu sangat didambakan oleh orang yang mau kita kasih kado, tapi kita melakukannya karena ingin dipuji orang lain. Contohnya begini, kita lagi suka sama cowok, dan misalnya kita pengen banget dikasih bunga mawar sama cowok itu. Eh, pucuk dicinta ulam tiba, si cowok ngasih kita bunga mawar, ngga cuma satu malah, tapi sebuket besaaar. Eh ngga taunya si cowok ternyata ngasih kita bunga supaya dipuji sama cewek lain. Kesel ngga? Bakal diterima ngga tuh bunga? Apa malah kita lempar ke mukanya sambil maki-maki?

Bukannya membandingkan Allah dengan manusia, karena Allah tiada bandingannya, cuma sedikit gambaran mengenai seorang hamba agar berkaca apakah perlakuannya pada Tuhannya sudah pantas?

Mengenai riya’ ini juga ada di salah satu buku anak yang pernah kubaca, tentang seorang manusia yang rumahnya di pinggir jalan, dan saat dia sedang membaca Quran, ada seseorang lewat dan secara halus riya’ masuk ke dalam dadanya dan menyebabkan bacaannya sedikit dikencangkan. Akibatnya, ayat yang dia baca saat bacaannya dikencangkan itu tidak diterima :(( . Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun....


Semoga kita semua dijauhkan dari riya'. Ya Allah, jauhkanlah kami dari riya'. Semoga tulisan ini tidak termasuk riya'. Amiin.

Day-26: Hafidz Quran


Pernah heran sama orang-orang yang bisa hafal Al Quran? Heran dalam arti kepikiran, "kok bisa ya?" Dan ngga sekedar menghapal bahasa arabnya, tapi juga mengerti artinya. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin memang lebih mudah menghapal kalau kita tahu artinya, kita tahu bahasanya, kita mengerti kata per kata.

Coba bayangkan suatu bahasa yang tidak kamu mengerti selain arab, kalo aku bahasa perancis misalnya, atau bahasa belanda, atau bahasa jepang, korea, rusia (loh kok jadi banyak?). Lalu kamu disodorkan satu novel tebal dalam bahasa itu lalu disuruh hapalkan. Atau bukan disuruh tapi memang kamu sendiri yang tergerak untuk membaca dan menghapalnya. Apa yang kamu lakukan?

Mungkin apa yang kamu dan aku lakukan kurang lebih sama, akan ada persamaan, dan mungkin perbedaan, tapi tujuannya sama, seperti metode pendidikan jaman sekarang, ada berbagai metode, tapi tujuannya sama: menjadi bisa.

Kalau aku, mungkin akan memulai dengan bagaimana cara membaca bahasa itu, seperti anak kecil yang baru belajar huruf. Setelah bisa baca, mungkin aku akan mulai membolak-balik kamus, mencari arti kata per kata dari setiap kalimat. Kalau sudah mengerti, baru akan kumasuki proses penghapalan. Dan yang paling penting, yang namanya belajar, akan lebih mudah dan lebih cepat jika ada orang yang membimbing, mengajari, alias guru. Itulah sebabnya kita bersekolah.

Di umur yang sudah segini, aku jadi merasa malu sekali belum menghapal Al Quran. Padahal katanya pedoman hidup, tapi kok belum hapal? Malah ngga tahu sebagian besar isinya. Astaghfirullah. Ngapain aja hidup selama ini? Memang ya, yang namanya manusia itu penuh dengan kelalaian.

Sebenarnya menghapal Al Quran itu bukanlah sesuatu yang mustahil, buktinya banyak orang yang sudah berhasil melakukannya. Dan kalau kita lihat proses yang kutulis di atas, seharusnya itu hal yang mudah bukan? Seandainya saja niat kita kuat, itu bukanlah proses yang sulit.

Coba pikir, kalau sehari saja kita meluangkan waktu lima menit. Lima menit saja untuk menghapal satu ayat. Di dalam Al Quran ada enam ribuan ayat, jika satu tahun dihitung 365 hari, kita akan berhasil menghapal dalam 20 tahun. Memang terdengar lama, tapi berarti bukan hal mustahil kan? Kalau mau lebih cepat, maka luangkan waktu lebih banyak. Coba pikir, berapa waktu yang kamu gunakan untuk hal lain, untuk nonton tv misalnya, atau internetan, mainan handphone dengan segala socmed yang ada, game, mandi, makan, tidur, ngobrol. Masa iya buat kepentingan akhirat cuma mau meluangkan lima menit?

Kalau mau lebih cepet ya luangkan waktu sepuluh menit, jadi hapal dalam 10 tahun. Atau 20 menit, jadi hapal dalam lima tahun. Atau bagi orang-orang yang lebih beruntung, yang kemampuan menghapalnya tinggi, yang bisa menghapal lima atau lebih ayat dalam lima menit, akan lebih cepat hasilnya. Subhanallah, betapa beruntungnya orang-orang seperti itu kalau kemampuannya digunakan untuk hal-hal yang baik.

Tulisan ini bukan cuma mengingatkan kamu, tapi lebih terutama mengingatkan diriku sendiri yang suka lalai. Kalau bahasa orang-orang jaman sekarang, self toyor, biasanya pake hashtag kalo di twitter :p

Bukan berarti aku seakan-akan mewajibkan untuk menghapal Al Quran, karena yang lebih penting adalah mengamalkannya. 

Wallahu a'lam.

Day-25: Renggangnya shaf wanita di masjid


Setiap bulan ramadhan, masjid biasanya lebih ramai dari biasanya, karena umat muslim banyak yang menunaikan ibadah shalat tarawih berjamaah, tak terkecuali para wanitanya. Sayang sekali, entah mengapa mayoritas jamaah wanita pada enggan membentuk shaf yang rapat, malah pada membuat jarak, belum lagi ditambah sajadah-sajadah lebar yang bisa muat dua orang kalau saja rapat.

Aku sendiri mengalaminya, sulit sekali mengajak orang berdempet saat shalat, paling-paling cuma geser dikit doang, gimana mau kelingking ketemu kelingking kalau sajadahnya saja lebih lebar dari jarak bahu ke bahu, bisa-bisa harus berdiri ngangkang maksimal baru bisa rapat shafnya.

Padahal kalau ngga salah dalam satu hadits (maklum hapalanku masih rada-rada), Allah menyukai hamba yang shalat berjamaah dengan rapat, laksana bangunan yang kokoh. Gimana mau kokoh kalau berdirinya jarang-jarang? Yang ada juga bolong-bolong kayak bangunan dimakan rayap. Kalau ngga salah lagi, ada juga yang mengatakan (ngga tau hadits atau bukan), kalau bolongnya shaf itu akan diisi oleh syaithan. Gimana mau khusyuk shalatnya kalau kiri kanan diisi syaithan?

Yang biasa kutemukan, justru ibu-ibu yang mengajak untuk merapatkan shaf malah ngga dipedulikan sama yang lain, pura-pura ngga denger, atau melirik tanda malas, atau malah dianggap seakan, "duh, rese banget sih nih ibu, terserah gw dong mau duduk dimana".

Satu lagi, setahuku, sebaik-baik wanita adalah yang jamaahnya paling jauh dari shaf laki-laki. Jadi menurutku, pendapat yang selama ini mengajak wanita untuk mengisi shaf paling depan itu kurang tepat. Harusnya diisi dari yang paling belakang baru ke depan. Dan tidak lupa, shafnya RAPAT!

Pernah merasakannya? Kalau punya cara yang jitu, mohon dibagi dong caranya. Atau bagi yang biasa jadi imam atau penceramah, sekedar masukan aja, kajian awal ramadhan diisi dengan pentingnya merapatkan shaf, dan setiap mau mulai shalat mohon diingatkan ibu-ibunya agar merapatkan shaf.

Wallahu a'lam.

Day-23: Istiqamah


Istiqamah, itulah buku yang sedang kubaca saat ini, yang belum kuselesaikan. Istiqamah dapat diartikan dengan konsisten, terus-menerus. Dalam buku itu dituliskan bahwa sesungguhnya Allah menyukai amalan yang dilakukan terus-menerus, walaupun sedikit.

Mengapa begitu? Walahu a'lam. Yang jelas kita dapat membandingkan kekuatan sesuatu yang istiqamah meskipun kecil dengan sesuatu yang besar tapi hanya dilakukan sekali. Apa itu?

Buku ini mencontohkan dengan setetes air yang menjatuhi batu, tapi dengan tetesan yang terus-menerus, dia akan berhasil melubangi batu. Berbeda dengan air seember misalnya, yang dituang langsung ke atas batu, maka tidak akan berhasil melubangi batu.

Monday, September 03, 2012

Day-19: Yang malam diurus pagi, yang pagi diurus malam. Eh?


Hari sabtu kemarin ada acara seminar orangtua murid di sekolah anakku. Ada satu hal yang sangat berguna menurutku dan dapat menjadi pembiasaan baru bagiku. Sebenarnya hal ini pernah kulakukan, sekali-sekali, dan tidak sadar bahwa ini bisa dijadikan kebiasaan. Apa itu?

Inillah yang dikatakan pembicaranya, "biasakan urusan pagi diurus malam, dan urusan malam diurus pagi." Maksudnya bagaimana? Sang pembicara mencontohkan begini, untuk urusan sahur, malam sebelum sahur ditanya, anak mau bangun jam berapa, cara banguninnya bagaimana, kalau ngga bangun juga mau diapain, sahurnya mau apa, dan sebagainya. Jadi malam sebelumnya sudah ada perjanjian tentang bagaimana besok pagi. Nah pas sahur nanti tinggal ditagih. Begitu juga misalnya untuk urusan buka.

Nah disinilah pentingnya membiasakan menepati janji pada anak. Sebab, naluri anak adalah meniru orangtua. Kalau orangtuanya membiasakan selalu menepati janji sejak anak itu masih bayi, meski (menurut sebagian orang) mereka belum mengerti. Dan kalau kita biasa begitu, insyaallah anak menepatinya. 

Nah, sekarang ini sedang aku coba praktekkan untuk membiasakan dia bangun pagi, biar sekolahnya ngga telat melulu :p Semoga berhasil. :)

Day 16: Tidur atau tidak ya?


Jaman sekarang ini, betapa pentingnya mengatur waktu dengan baik dan memenuhi jadwal yang kita miliki. Betapa tidak? Bagiku, akhir-akhir ini waktu seminggu terasa cepat sekali, dan rasanya kalau dilewatkan begitu saja maka kita rugi.

Contohnya saja, pada waktu luang yang ada, kita menggunakannya untuk santai, tidur, menonton tv atau hal-hal lain yang kurang bermanfaat. Padahal waktu luang itu bisa kita gunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat, yang bisa berguna untuk hari-hari berikutnya atau masa depan. Misalnya saja waktu luangnya dipakai untuk membaca buku yang berguna, atau memikirkan bagaimana cara memulai atau mengembangkan bisnis, dan masih banyak hal yang berguna lainnya. Terserah kamu saja, apa yang menurutmu berguna?

Mungkin pada awalnya tidak mudah, apalagi kalau sudah biasa menggunakan waktu luang untuk bersantai-santai. Tapi jika sudah berhasil, insyaallah kita lebih menghargai waktu, mengerti betapa pentingnya menggunakan waktu dengan bijaksana.

Semoga tulisan ini juga bisa menyemangatiku saat penyakit malas mendatangiku.

Wallahu a'lam.

Day 15: Kapan mengajak anak ke masjid?


Aku pernah mendengar sebuah pendapat di radio dan aku setuju dengannya. Pendapat apakah itu? Yaitu bahwa perkenalkanlah shalat kepada anak di rumah, bukan di masjid ataupun mushola. Ajarkan dulu bagaimana shalat dan adab di masjid, baru mengajak anak di masjid. Kalau anak sudah mengerti, baru ajak dia ke masjid.

Hal ini tentu akan membantu diri sendiri dan jamaah lainnya di masjid agar bisa shalat dengan khusyuk, tanpa terganggu candaan dari anak-anak, kadang teriakan, kadang tangisan, belum lagi tingkah mereka berlari ke sana kemari.

Bagaimana mengajarkan anak shalat? Apakah dengan melatihnya membaca dan menghafal bacaan dan gerakan shalat dulu? Lantas kalau begitu, umur berapa baru bisa diajak ke masjid? Mungkin ada yang berpikiran begitu. Kalau pendapat pribadiku, ajak saja mereka shalat berjamaah. Awalnya mungkin dia cuma melihat, kadang mengikuti, kadang gangguin, auratnya juga belum tertutup, kalau perempuan kadang belum mau pakai mukena. Tapi lama kelamaan, melihat ibunya selalu pakai mukena dan tertib saat shalat, insyaallah anak akan mengikuti. Ditambah lagi, kalau shalat jamaahnya dibiasakan magrib dan atau isya (sebab biasanya shubuh belum bangun), insyaallah anak itu sudah hafal Al-fatihah.

Nah, kalau sudah tertib begini, ditambah ajarkan bahwa di masjid itu harus tertib, rapi, suaranya pelan, kalau ngga ikut shalat maka duduk diam di tempat, maka insyaallah anak itu sudah siap diajak ke masjid. Umur berapa itu? Kurang lebih umur tiga tahun sudah siap, asal sebelumnya sudah dibiasakan ikut shalat berjamaah bersama ibu dan atau ayahnya.

Wallahu a'lam.