Thursday, August 30, 2012

Day-14: Imam Mahdi dan Dajjal


Mumpung masih ingat dan masih cukup segar dalam ingatan, hari ini aku ingin menunaikan janji untuk menuliskan mengenai Imam Mahdi dan Dajjal yang kudapat dari pengajian. Akan kubagi juga dari sedikit informasi yang pernah kubaca, yang aku masih belum tahu kebenarannya, mohon dicek lagi.

Imam Mahdi, cmiiw (correct me if i'm wrong), adalah seseorang yang dijanjikan untuk memimpin dunia di bawah hukum islam, dan dia merupakan salah satu tanda akan terjadinya kiamat. Menurut apa yang pernah kubaca, Imam Mahdi adalah seseorang yang bernama sama dengan Rasulullah Muhammad SAW, dan memiliki nama ayah yang sama dengannya, Abdullah.

Kemudian, dari pengajian kemarin, ada informasi yang mungkin banyak dari kita sudah tahu, bahwa suatu saat akan ada orang yang dibaiat secara paksa di depan Makkah oleh sekitar 300 orang (kalau ngga salah pak ustadz menyebut 313 orang), maka orang itulah Al-Mahdi. Jika masih ragu, maka tunggu saja, karena setelah itu akan datang pasukan dari arah timur (timurnya Makkah kata pak ustadz mungkin syam atau mana lagi gitu aku lupa) yang akan menangkap Al-Mahdi namun pasukan itu akan tertimbun tanah, mungkin akibat gempa besar, dan akan dibiarkan oleh Allah beberapa orang selamat untuk melaporkan berita tersebut ke negerinya.

Kemudian berita tersebut akan tersebar keseluruh dunia, bahwa ada pasukan besar yang tertimbun, dan saat inilah umat islam harus sadar, bahwa orang yang dinanti-nanti telah datang. Dan kita harus segera berhijrah.

Mengenai Dajjal, menurut pak ustadz, kalau melihat keadaan dunia sekarang ini, kemungkinan Dajjal muncul hanya tinggal menunggu waktu saja. Mungkin dia sudah berada di tikungan jalan dan sebentar lagi menampakkan diri. Dan kemudian Dajjal ini mengaku sebagai tuhan, berhati-hatilah. Sebab dia bisa menipu, seolah-olah dia bisa menyembuhkan semua penyakit, bisa menghidupkan orang mati. Hal ini ditunjukkan agar kita percaya bahwa dialah tuhan.

Pak ustadz mengajak kita untuk berdoa, agar kita diberi petunjuk oleh Allah, agar bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dan diberi kekuatan untuk memilih yang benar. Maka itulah, dalam tulisanku dua hari sebelumnya, dikatakan, jika muncul Dajjal, janganlah ragu untuk memilih nerakanya, sebab itu adalah surga bagi manusia, dan yang ditunjukkan Dajjal adalah lapisan luarnya.

Wallahu a'lam.

Wednesday, August 29, 2012

Day-13: Focused mind

Beberapa waktu yang lalu, di kantorku ada training gratisan, yaitu training online alias e-learning yang berjudul "Focused Mind". Training ini wajib bagi seluruh pegawainya. Mungkin pihak management khawatir dengan tingkat fokus yang dimiliki pegawainya. Mengapa? Sebab, dengan teknologi seperti sekarang ini, sering sekali kita melakukan banyak hal bersamaan, alias multitasking, sehingga kita tidak bisa fokus terhadap satu hal. Contohnya saja, bekerja sambil facebook-an, sambil twitter-an, sambil blogging, sambil browsing, sambil chatting, dan sebagainya. Hal seperti ini mengurangi tingkat fokus kita terhadap satu hal, dan bukan tidak mungkin menurunkan tingkat efisiensi bekerja kita dan pada akhirnya akan merugikan perusahaan.

Mungkin itu sebabnya pihak management meminta seluruh karyawannya untuk mengikuti training ini. Ada satu hal bagus yang dicontohkan di training ini dan cukup menempel di kepalaku, dia mengeluarkan satu soal penjumlahan, aku lupa berapa persis angkanya, misalkan, "berapa 37+25?" Lalu dia mengatakan yang kurang lebih artinya, "tidak mungkin anda bisa menjawab jika anda tidak fokus". Memang iya sih, saat dia bertanya itu, aku berhenti melakukan hal lain dan fokus terhadap satu pertanyaan itu.

Jadi bagaimana supaya kita bisa memperyajam fokus kita? Apakah dengan belajar soal penjumlahan atau soal matematika lain? Hmm, mungkin itu bisa membantu, tapi bukan itu maksudku di sini. Maksudku adalah, mungkin, untuk manusia yang pada jaman sekarang yang sudah terbiasa multitaksing, ada baiknya kembali belajar singletasking untuk kembali mempertajam fokus.

Tuesday, August 28, 2012

Day-12: Lapisan surga dan neraka

Hari ini aku akan berbagi mengenai sedikit hal yang kudapat dari pengajian kemarin. Di cluster tempatku tinggal, ada pengajian bulanan, pembicaranya kemarin ustad Ihsan Tanjung. Aku datang ke pengajian itu tidak tepat waktu dan ketika aku datang, yang sedang dibahas adalah mengenai Dajjal dan Imam Mahdi. 

Mungkin akan terlalu panjang jika aku menceritakan mengenai kemunculan Dajjal dan Imam Mahdi sekarang. Semoga bisa berbagi di lain waktu, mungkin bukan berbagi tapi sekedar mengingatkan. Sebab, aku yakin banyak yang sudah tahu mengenai mereka, atau yang belum tahu bisa google. Yang ingin aku bicarakan justru mengenai lapisan yang menutupi surga dan neraka.

Yang disampaikan oleh pak ustadz kurang lebih begini (semoga aku tidak melebih-lebihkan atau mengurangkan):

Setelah Allah menciptakan surga, dikatakanlah kepada malaikat jibril, "Wahai Jibril, coba kau tengok surga yang telah Ku buat, dan katakan apa yang kau lihat."

Setelah Jibril melihatnya, dia kembali pada Allah dan berkata, "Ya Allah, demi kemuliaan-Mu, tidak akan ada manusia yang tidak ingin memasuki surga-Mu."

Setelah itu Allah SWT menciptakan lapisannya, kemudian Allah berkata lagi pada malaikat Jibril, "wahai Jibril, coba kau tengok surga itu lagi sekarang, dan katakan apa yang kau lihat."

Lalu Jibril berkata, "Ya Allah, demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada manusia yang ingin memasuki surga-Mu."

Mengapa Jibril bisa berkata begitu? Sebab Allah menutupinya dengan hal-hal yang menurut manusia tidak mengenakkan, tidak menyenangkan, tidak memuaskan, tidak bebas, dan sebagainya. Padahal di balik itu ada surga.

Lalu Allah menciptakan neraka dan kembali meminta malaikat Jibril untuk melihatnya, dan Jibril berkata,"Ya Allah, demi kemuliaanmu, tidak akan ada manusia yang ingin memasuki neraka-Mu." Kemudian Allah menutupi neraka dengan lapisan dan kembali meminta Jibril untuk melihatnya. Lalu apa kata malaikat Jibril? "Ya Allah, demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada manusia yang tersisa kecuali semua memasuki neraka-Mu."

Mengapa malaikat Jibril bisa berkata begitu, sebab dia melihat bahwa lapisan yang menutupi neraka adalah keinginan manusia, human desire. Semua yang terlihat menyenangkan, memuaskan, bebas, ada di sana. Makanya kata pak ustadz kemarin, salah satu kalimat yang diucapkan adalah jika Dajjal muncul nanti, ingatlah, yakinlah untuk memilih nerakanya, sebab, nerakanya Dajjal adalah surga bagi manusia.

Sekian dulu, semoga bermanfaat.
Wallahu a'lam.

Monday, August 27, 2012

Day-9: Belajar dari kucing


Ada tiga ekor kucing yang suka berkeliaran di daerah depan rumahku. Sepertinya mereka terdiri dari ibu dan dua anaknya, sebab, yang kecil suka menyusu pada yang besar, tapi aku ragu apakah yang satu lagi adalah anaknya juga, sebab dia terlalu besar untuk menyusu, dan aku kurang memperhatikan apakah dia jantan atau betina (mungkin hari ini akan kuperhatikan jenis kelaminnya). Tapi meski dia jantan, belum tentu juga dia adalah pasangannya. Jadi mengapa terus bersama? Atau masih kerabat? Baiklah, cukup sampai di situ. Bukan soal kekerabatannya yang mau aku bahas, tapi soal lain. Jadi untuk sementara kita simpulkan saja mereka ibu dan anak-anaknya.

Si ibu, berwarna putih abu-abu (kok kayak seragam SMU? Oh, whatever, focus please), si anak yang besar belang tiga (putih, abu-abu, dan kuning), sementara yang paling kecil berwarna hitam sepenuhnya.

Awal kami menyadari adanya ketiga kucing ini adalah karena mereka suka mengacak-acak tong sampah di depan rumah karena mencari makanan. Aku dan suami agak kesal sebab plastik sampah jadi berantakan. Tapi anakku malah senang karena ada banyak kucing. Tapi hebatnya, dia memang selalu senang terhadap apa pun sih, pikirannya belum kotor sama hal-hal negatif seperti orang dewasa, jadi selalu semangat dan positif. Memang, kita harus banyak belajar dari anak kecil, semangatnya, positifnya, kejujurannya, ide-idenya, belajarnya, dan masih banyak lagi. Tapi bukan itu yang mau aku bahas di sini. Tapi hal lainnya.

Karena tong sampah berantakan yang berarti mereka lapar, dan karena anakku suka kucing, akhirnya tercetus ide "sekali-sekali memberikan makanan sisa ke ketiga kucing itu". Sudah beberapa kali aku dan anakku memberikan mereka makan, di rumput di daerah terluar rumah tentunya. Sebab kalau terlalu dekat dengan pintu masuk, khawatir kucingnya lama-lama masuk ke rumah cari makan.

Sudah beberapa kali hal ini kami lakukan. Lalu kemarin, ada beberapa sisa ceker ayam yang kalau dibiarkan bisa basi, di anget-angetin lagi pun percuma karena ngga akan ada yang makan. Akhirnya, daripada mubazir, akan diberikan pada "keluarga kucing".

Anakku seneng banget melempar ceker-ceker itu ke kucing, sampai kucingnya malah kabur karena takut. Aku bilangin untuk lempar pelan-pelan supaya kucingnya mau makan. Ketika ketiga kucing itu sedang asik makan potongan ceker, Anakku pun meminta lagi potongan ceker baru untuk dilempar. "Nanti, tunggu makanannya habis," kataku. Tapi yang namanya anak kecil, kalau sudah ada maunya kadang sangat konsisten dan persistent. Akhirnya, karena kupikir toh ngga ada ruginya kasih satu potong lagi, jadi kukabulkan keinginannya. Toh resikonya paling ada sisa tulang ayam yang ditinggalin karena salah satu kucing mengambil yang baru.

Tapi apa yang terjadi saudara-saudara? Kucing-kucing itu tidak mengambil makanan yang dilempar. Mereka cuma melirik sebentar lalu melanjutkan makannya. Anakku sampai bertanya, "Ma, kok ayamnya ngga dimakan?" "Iya, soalnya makanan yang dia pegang belum habis, jadi dia habiskan dulu supaya ngga mubazir," begitulah jawaban sotoy dariku dari kesimpulan sementara yang kuambil. Lalu salah satu dari mereka makanannya habis, dan baru si kucing itu menghampiri makanan yang baru. Kucoba lagi memberi makanan saat semuanya sedang makan. Hal yang sama tejadi lagi, mereka cuma melirik dan kembali pada makanan masing-masing. Setelah habis, baru mereka mendatangi yang baru. Kucoba lagi dan lagi, tapi hasilnya tetap sama. Subhanallah. Ternyata kucing tidak memiliki sifat rakus. Ternyata aku sebelumnya telah su'udzon pada mereka, menyangka mereka punya sifat rakus seperti manusia, yang dapat tergiur saat melihat barang yang lebih baru, lebih bagus, lebih enak, dan lebih-lebih lainnya. Subhanallah. Ternyata kucing memiliki sifat bersyukur terhadap apa yang mereka miliki. Ternyata manusia bisa belajar dari kucing, belajar bersyukur terhadap apa yang dimiliki, belajar menguasai hawa nafsu, meskipun godaan makanan ada di depan mata.

Sunday, August 26, 2012

Day-6: Belajar bersyukur

Aku bersyukur memiliki orangtua yang mengajarkan kami untuk selalu bersyukur. Kami selalu diajarkan untuk bersyukur masih bisa makan, masih punya pakaian, masih punya tempat tinggal, dan masih bisa sekolah. Apabila kami mulai tidak bida mensyukuri hidup ini, mereka mengajarkan untuk melihat orang-orang yang belum beruntung, yang tidak memiliki salah satu di atas, atau bahkan semuanya, dengan begitu, kami akan kembali bersyukur.

Alhamdulillah, dengan didikan seperti itu, kini kami tidak mudah tergiur dengan barang-barang mewah. Melihat orang makan enak dan mahal ya cuek aja, masih bisa senyum, masih bisa bersyukur bisa makan dengan cukup. Lihat mobil mewah, rumah mewah, paling sebatas, "wuiihh keren ya, gimana ya rasanya naik mobil itu?", dan sebatas komentar-komentar sewajarnya, tidak lantas iri dengan yang memilikinya.

Lihat orang-orang pakai baju mewah, jalan-jalan keluar negeri pun, alhamdulillah tidak muncul rasa iri. Tadinya aku bingung, kok ya bisa mental seperti ini terbentuk? Sementara ada orang-orang yang bereaksi lain. Lalu aku ingat bagaimana mama dan papaku selalu mengulang-ulang berkata, saat di tv atau di jalan kami melihat nasib orang-orang yang kurang beruntung, yang makan saja susah, tempat tinggal tidak punya, boro-boro punya baju bagus, baju saja cuma yang melekat di badan, apalagi sekolah, duit darimana, dan mamaku atau papaku akan berkata, "nah, lihat tuh nak, orang-orang mau makan aja susah, tempat tinggal ngga punya, mau sekolah ngga punya duit. Kamu harus bersyukur bisa makan kenyang, tempat tinggal ada, sekolah bisa, baju masih bagus", dan kalimat-kalimat senada itu.

Dulu sih, setiap dinasihatin begitu, rasanya boseeeen banget, sampe nanggepinnya cuma, "ya..ya..ya..", "iya ma.. iya pa..", atau cuma angguk-angguk kepala biar "ceramahnya" cepet selesai. Sekarang, rasanya pengen getok kepala "si adu kecil" yang ngga tau sopan itu :p, dan sekarang, akan kuulang nasihat itu meski si mira udah bosen dan angguk-angguk kepala tanda nasihatnya sudah dihapal di luar kepala dan tertanam di bawah sadar bahwa apapun yang dimiliki patut kita syukuri. Supaya dia siap mental saat dewasa, dan tak perlu iri dengan yang dimiliki orang lain.

Saturday, August 25, 2012

Day-5

Pernahkah terpikir, mengapa islam identik dengan kekerasan? Dengan terorisme? Padahal, banyak muslim yang baik, yang lembut, tapi tidak muncul ke permukaan. Mungkin, dilihat dari sifat pribadinya saja, orang-orang yang arogan, yang keras, cenderung muncul di permukaan, dengan mudah mendapat perhatian orang lain, dan dengan mudah juga mendapat musuh. Sementara orang yang lembut hatinya, biasanya cenderung pendiam, dan mereka berbuat baik tanpa membesar-besarkannya, sebab takut kebaikannya berubah niat menjadi riya'. Sebab itu mereka berbuat baik secara sembunyi-sembunyi, cukup Allah yang mengetahui perbuatan baik mereka.

Sebagai muslim, aku ngga pernah percaya bahwa islam itu ajaran yang kasar, identik dengan terorisme. Sebab, teladan kita saja, Rasulullah SAW adalah orang yang lembut hatinya (sejauh yang aku tahu atau baca). Kita hanya berperang saat harus berperang, bukannya perang yang mengada-ada. Bukannya menyerang tanpa target yang jelas, hanya karena mereka non-muslim lantas mereka pantas dibunuh, bukan begitu caranya. Sekarang yang lebih penting adalah perang pemikiran, bagaimana mengembalikan pemikiran kaum muslim kembali pada tempatnya, para perempuan menutup aurat, anak-anak dan dewasa jauh dari hal-hal yang melalaikan (game, film, musik, dll), kembali mempelajari al quran dan hadits secara sungguh-sungguh, lebih mengenal lagi para tokoh dan pahlawan dalam islam, tidak mengkotak-kotakkan agama dan non agama, karena sesungguhnya keseluruhan dari hidup ini adalah ibadah.

Mengapa pelajaran sejarah dan sejarah dalam islam dalam buku pelajaran (setahu saya) sama sekali tidak bersinggungan? Padahal seharusnya dalam sejarah mesir ada persinggungan dengan cerita nabis musa, dalam peperangan-peperangan besar seharusnya bersinggungan dengan para pahlawan islam, tapi mengapa sama sekali tidak ada? Mengapa teori evolusi darwin yang bodoh itu masih saja berada di kurikulum? Mengapa penemu benua amerika, atau tokoh-tokoh barat lainnya seakan terlalu diagung-agungkan dan dibesar-besarkan di dalam sejarah? Adakah niat terselubung dibalik itu?

Tugas kita bersamalah untuk mengembalikan cara pikir muslim kembali pada Al-Quran dan As-sunnah.

Wallahu a'lam.

Friday, August 24, 2012

Day-4

Hari ini aku akan menca membahas tentang air zam-zam. Pernahkah kau membaca tentang penelitian bahwa tumbuhan dan air bisa mendengar? Tumbuhan yang dipuji-puji dan diperdengarkan musik klasik akan tumbuh baik, sedangkan tumbuhan yang dicela-cela dan diperdengarkan dengan musik yang keras seperti musik rock, akan tumbuh dengan lambat bahkan cenderung mati. Air pun begitu, kandungannya akan jauh lebih baik ketika dia mendengar hal-hal yang baik.

Kemudian terpikirkan olehku mengenai air zam-zam, mengapa begitu banyak kesehatan dan kesembuhan dibalik orang-orang yang meminumnya? Mungkin inilah jawabannya, sebab air zam-zam diliputi oleh orang-orang yang beribadah haji dan umroh, orang-orang yang selama di sana selalu membaca quran, memanjatkan doa, menyebut nama Allah, memujinya, memujanya. Tidak ada kata celaan, tidak ada kalimat negatif. Sehingga yang didengar oleh air zam-zam hanyalah kata-kata yang baik saja.

Bagiku, tumbuhan dan air saja yang faktanya baru muncul (sudah lama sih sebenarnya) bahwa mereka bisa mendengar, akan berkembang baik jika diliputi kalimat-kalimat yang baik. Apalagi manusia yang jelas-jelas mendengar. Tentu akan berkembang dengan baik jika manusia ini diliputi kalimat-kalimat yang baik, diperdengarkan ayat-ayat quran, dipuji saat berbuat baik, dinasihati yang baik saat berbuat salah, bukannya dicela, dimaki-maki. Ditambah lagi, Allah tidak cuma memberikan pendengaran pada kita, tapi juga penglihatan, penciuman, dan lisan (betul tidak?). Maka dengan begitu, diri kita akan lebih cepat merespon hal-hal yang baik, sayangnya, begitu juga hal-hal yang buruk. Maka jika ingin diri kita, pasangan kita, anak kita, seluruh keluarga kita berkembang dengan baik, jauhilah hal-hal yang buruk, termasuk di antaranya kata-kata yang buruk.

Saturday, August 18, 2012

Day-3 (dengan revisi)

Kali ini aku akan membahas mengenai hambatan. Pernahkah kau merasa, ketika menghapal satu surat pendek dalam Al-Quran, ada satu ayat yang rasanya lebih sulit dibanding ayat lainnya? Ayat ini harus dihapal berulang kali lebih banyak dibanding ayat-ayat lainnya. Tapi jika ayat ini telah berhasil dihapal, ayat-ayat berikutnya akan terasa lebih mudah dan satu surat pun berhasil dihapal.

Atau dalam kasus lain, yang terjadi padaku, saat berlatih partitur sebuah lagu, hampir selalu ada bagian yang jauh lebih susah dari bagian yang lain, sehingga bagian itu harus diulang berkali-kali lebih banyak dibanding bagian lainnya sampai tangan ini menguasainya dengan baik. Bagian ini selalu jadi penentu, apakah aku berhasil menguasai lagu ini? Atau aku menyerah dan membiarkan lagu ini "separuh jadi" alias tidak berhasil kukuasai?

Dalam hidup pun, aku merasa ada hal-hal seperti ini. Hampir selalu ada hambatan dalam setiap fase kehidupan, dan apabila kita bersabar melaluinya, fase berikutnya akan terasa jauh lebih mudah. Tinggal pilih, mau berhenti di tengah-tengah dan membiarkannya separuh jadi, atau bersabar melaluinya dan menjadikannya sempurna?

Sampai bertemu di "jurnal sepuluh menit" berikutnya! InsyaAllah besok :)

Friday, August 17, 2012

Day-2 (dengan revisi)

Menurutmu, jika kau memiliki kemampuan untuk mencipta, apakah engkau akan menciptakan boneka yang bisa bereproduksi? Dan kau juga berikan mereka kemampuan berpikir. Mereka bisa berbicara, makan, tidur, mempelajari ilmu, dan lain sebagainya. Maukah kau? Kalau aku sih tidak mau. Merepotkan. Bermain "cloud and sheep" yang cuma bisa makan, tidur dan bereproduksi saja mengurusinya sudah repot bukan main ketika dombanya sudah mulai banyak. Bikin kewalahan. Bagaimana kalau bisa dibuat berpikir?

Belum lagi kita perlu menentukan nasibnya bagaimana, selama hidupnya dia ngapain aja, bertemu dengan siapa saja. Iya kalau menurut, kalau melawan? Kan kita sudah berikan akal pada mereka? Apa tidak kesal saat mereka melawan nasibnya, padahal yang kita tunjukkan adalah demi kebaikan mereka?

Takut dilawan dan dikalahkan sih ngga, lah wong kita yang ciptain kan? Ibarat main cloud and sheep, tinggal matiin aja permainannya.

Jadi untuk apa menciptakan manusia? Walahu a'lam. Allah memang Maha Tahu.

Thursday, August 16, 2012

Day-1 (dengan revisi)

Pernahkah kau berpikir, apakah jaman dahulu sudah ada hair extension? Apakah jaman dahulu sudah ada kartu kredit? Atau asuransi-asuransi yang sedang marak seperti saat ini? Dan entah apalagi yang jaman dahulu belum ada, tapi sudah ada aturannya dalam Al Quran atau pun hadits.

Jadi, siapa lagi yang mungkin menurunkan ayat-ayat quran kalau bukan Allah? Siapa lagi yang mungkin mengetahui keadaan dari awal jaman hingga akhir jaman kalau bukan Allah? Al-Quran tidak butuh revisi. Isinya sama dari awal jaman hingga akhir jaman. Dan isinya sesuai dengan jaman mana pun. Sebab yang diatur tetaplah sama, manusia.

Masih adakah yang berpikir bahwa al-quran ditulis manusia? Kalau ada, sungguh bodoh. Coba saja buat satu ayat jika kau mampu. Seperti yang dikatakan Allah pada Al-Quran.

Bagi yang perempuan, masih mau kah membuka aurat padahal jelas-jelas disebutkan dalam Al-Quran bahwa wanita muslimah harus menutupnya? Yakinlah bahwa itu untuk kebaikan kita, kemudahan kita. Masih ragukah kamu terhadap apa yang diwajibkan kepadamu oleh Allah yang menciptakanmu? Tuhan yang sama yang menciptakan langit dan bumi dan segala kebaikan yang ada di dalamnya.

Wednesday, August 15, 2012

Habits

Wah, sudah hampir dua bulan ngga posting di blog. Bukan berarti aku ngga nulis, justru hampir tiap hari aku nulis, dalam rangka membentuk habits baru. Habits baru? Apa itu maksudnya? Biar lebih jelas, aku copy saja catatan dari hari ke sebelas latihanku berikut ini:

--------------------------------------------------------
Day-11: Kebiasaan, dalam bahasa inggris berarti habits. Hari ini aku ingin membahas alasan mengapa aku menulis ini dan itu setiap hari dan diawali dengan judul "Day-". Sebab, baru-baru ini aku menamatkan buku berjudul habits, karangan Felix Y. Siauw.

Sesuai dengan judulnya, buku ini membahas mengenai bagaimana cara membangun habits. Sebenarnya, bagi orang-orang yang senang dengan buku semacam ini, mungkin tidak asing lagi bahwa yang namanya membentuk kebiasaan itu adalah sesuatu yang dilakukan berulang-ulang tanpa putus sampai kebiasaan itu terbentuk. Sampai kita merasa ada yang aneh atau ada yang kurang jika tidak melakukannya.

Berapa lama sampai sesuatu yang kita lakukan itu bisa dikatakan kebiasaan atau habits? Variatif, tapi yang kuketahui rata-rata mengambil 20-30 hari berturut-turut baru sesuatu itu dinamakan kebiasaan. Rene Suhardono misalnya, mengambil 21 hari dalam Misi-21 nya.

Umat muslim tentu familiar dengan bulan ramadhan, apalagi sekarang sedang bulan ramadhan, bahwa puasa ramadhan yang dilakukan selama 28-30 hari berturut-turut adalah salah satu bentuk membangun kebiasaan baru. Apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh, insyaallah, kebiasaan baik yang kita lakukan setiap hari selama bulan ramadhan, akan menjadi kebiasaan baru yang baik buat kita.

Tapi ingat syaratnya, setiap hari, tanpa putus, dan selama 28-30 hari. Buku ini pun mengambil contoh dari bulan ramadhan, karena itu patokannya 28-30 hari. Tapi ada ilmu baru bagiku di sini, yang belum kutemukan di buku yang pernah kubaca, dan menurutku cukup efektif dalam menjaga kesinambungan kebiasaan baru yang sedang kita bentuk agar tidak putus selama kurang lebih sebulan itu. Apa itu?