Monday, August 27, 2012

Day-9: Belajar dari kucing


Ada tiga ekor kucing yang suka berkeliaran di daerah depan rumahku. Sepertinya mereka terdiri dari ibu dan dua anaknya, sebab, yang kecil suka menyusu pada yang besar, tapi aku ragu apakah yang satu lagi adalah anaknya juga, sebab dia terlalu besar untuk menyusu, dan aku kurang memperhatikan apakah dia jantan atau betina (mungkin hari ini akan kuperhatikan jenis kelaminnya). Tapi meski dia jantan, belum tentu juga dia adalah pasangannya. Jadi mengapa terus bersama? Atau masih kerabat? Baiklah, cukup sampai di situ. Bukan soal kekerabatannya yang mau aku bahas, tapi soal lain. Jadi untuk sementara kita simpulkan saja mereka ibu dan anak-anaknya.

Si ibu, berwarna putih abu-abu (kok kayak seragam SMU? Oh, whatever, focus please), si anak yang besar belang tiga (putih, abu-abu, dan kuning), sementara yang paling kecil berwarna hitam sepenuhnya.

Awal kami menyadari adanya ketiga kucing ini adalah karena mereka suka mengacak-acak tong sampah di depan rumah karena mencari makanan. Aku dan suami agak kesal sebab plastik sampah jadi berantakan. Tapi anakku malah senang karena ada banyak kucing. Tapi hebatnya, dia memang selalu senang terhadap apa pun sih, pikirannya belum kotor sama hal-hal negatif seperti orang dewasa, jadi selalu semangat dan positif. Memang, kita harus banyak belajar dari anak kecil, semangatnya, positifnya, kejujurannya, ide-idenya, belajarnya, dan masih banyak lagi. Tapi bukan itu yang mau aku bahas di sini. Tapi hal lainnya.

Karena tong sampah berantakan yang berarti mereka lapar, dan karena anakku suka kucing, akhirnya tercetus ide "sekali-sekali memberikan makanan sisa ke ketiga kucing itu". Sudah beberapa kali aku dan anakku memberikan mereka makan, di rumput di daerah terluar rumah tentunya. Sebab kalau terlalu dekat dengan pintu masuk, khawatir kucingnya lama-lama masuk ke rumah cari makan.

Sudah beberapa kali hal ini kami lakukan. Lalu kemarin, ada beberapa sisa ceker ayam yang kalau dibiarkan bisa basi, di anget-angetin lagi pun percuma karena ngga akan ada yang makan. Akhirnya, daripada mubazir, akan diberikan pada "keluarga kucing".

Anakku seneng banget melempar ceker-ceker itu ke kucing, sampai kucingnya malah kabur karena takut. Aku bilangin untuk lempar pelan-pelan supaya kucingnya mau makan. Ketika ketiga kucing itu sedang asik makan potongan ceker, Anakku pun meminta lagi potongan ceker baru untuk dilempar. "Nanti, tunggu makanannya habis," kataku. Tapi yang namanya anak kecil, kalau sudah ada maunya kadang sangat konsisten dan persistent. Akhirnya, karena kupikir toh ngga ada ruginya kasih satu potong lagi, jadi kukabulkan keinginannya. Toh resikonya paling ada sisa tulang ayam yang ditinggalin karena salah satu kucing mengambil yang baru.

Tapi apa yang terjadi saudara-saudara? Kucing-kucing itu tidak mengambil makanan yang dilempar. Mereka cuma melirik sebentar lalu melanjutkan makannya. Anakku sampai bertanya, "Ma, kok ayamnya ngga dimakan?" "Iya, soalnya makanan yang dia pegang belum habis, jadi dia habiskan dulu supaya ngga mubazir," begitulah jawaban sotoy dariku dari kesimpulan sementara yang kuambil. Lalu salah satu dari mereka makanannya habis, dan baru si kucing itu menghampiri makanan yang baru. Kucoba lagi memberi makanan saat semuanya sedang makan. Hal yang sama tejadi lagi, mereka cuma melirik dan kembali pada makanan masing-masing. Setelah habis, baru mereka mendatangi yang baru. Kucoba lagi dan lagi, tapi hasilnya tetap sama. Subhanallah. Ternyata kucing tidak memiliki sifat rakus. Ternyata aku sebelumnya telah su'udzon pada mereka, menyangka mereka punya sifat rakus seperti manusia, yang dapat tergiur saat melihat barang yang lebih baru, lebih bagus, lebih enak, dan lebih-lebih lainnya. Subhanallah. Ternyata kucing memiliki sifat bersyukur terhadap apa yang mereka miliki. Ternyata manusia bisa belajar dari kucing, belajar bersyukur terhadap apa yang dimiliki, belajar menguasai hawa nafsu, meskipun godaan makanan ada di depan mata.

1 comments:

Della said...

Hmmm.. jadi pengen nyoba :D