Sunday, August 26, 2012

Day-6: Belajar bersyukur

Aku bersyukur memiliki orangtua yang mengajarkan kami untuk selalu bersyukur. Kami selalu diajarkan untuk bersyukur masih bisa makan, masih punya pakaian, masih punya tempat tinggal, dan masih bisa sekolah. Apabila kami mulai tidak bida mensyukuri hidup ini, mereka mengajarkan untuk melihat orang-orang yang belum beruntung, yang tidak memiliki salah satu di atas, atau bahkan semuanya, dengan begitu, kami akan kembali bersyukur.

Alhamdulillah, dengan didikan seperti itu, kini kami tidak mudah tergiur dengan barang-barang mewah. Melihat orang makan enak dan mahal ya cuek aja, masih bisa senyum, masih bisa bersyukur bisa makan dengan cukup. Lihat mobil mewah, rumah mewah, paling sebatas, "wuiihh keren ya, gimana ya rasanya naik mobil itu?", dan sebatas komentar-komentar sewajarnya, tidak lantas iri dengan yang memilikinya.

Lihat orang-orang pakai baju mewah, jalan-jalan keluar negeri pun, alhamdulillah tidak muncul rasa iri. Tadinya aku bingung, kok ya bisa mental seperti ini terbentuk? Sementara ada orang-orang yang bereaksi lain. Lalu aku ingat bagaimana mama dan papaku selalu mengulang-ulang berkata, saat di tv atau di jalan kami melihat nasib orang-orang yang kurang beruntung, yang makan saja susah, tempat tinggal tidak punya, boro-boro punya baju bagus, baju saja cuma yang melekat di badan, apalagi sekolah, duit darimana, dan mamaku atau papaku akan berkata, "nah, lihat tuh nak, orang-orang mau makan aja susah, tempat tinggal ngga punya, mau sekolah ngga punya duit. Kamu harus bersyukur bisa makan kenyang, tempat tinggal ada, sekolah bisa, baju masih bagus", dan kalimat-kalimat senada itu.

Dulu sih, setiap dinasihatin begitu, rasanya boseeeen banget, sampe nanggepinnya cuma, "ya..ya..ya..", "iya ma.. iya pa..", atau cuma angguk-angguk kepala biar "ceramahnya" cepet selesai. Sekarang, rasanya pengen getok kepala "si adu kecil" yang ngga tau sopan itu :p, dan sekarang, akan kuulang nasihat itu meski si mira udah bosen dan angguk-angguk kepala tanda nasihatnya sudah dihapal di luar kepala dan tertanam di bawah sadar bahwa apapun yang dimiliki patut kita syukuri. Supaya dia siap mental saat dewasa, dan tak perlu iri dengan yang dimiliki orang lain.

0 comments: