Sunday, November 23, 2014

Thursday, August 07, 2014

Sistem pengajaran


Setiap sekolah memiliki sistem pengajaran masing-masing, maka ketika kita survey sekolah, kita akan menemukan konsep yang berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lain, meskipun mungkin antara satu dan lain ada kemiripan.
Hal itu terjadi di Indonesia, dan gw rasa, itu juga terjadi di sini.

Dengan adanya beda konsep inilah, setiap anak maupun orangtua memiliki pilihan dalam menentukan sekolah.
Dari beberapa sumber yang gw baca dan juga dengar, sebaiknya untuk urusan sekolah, anaklah yang menentukan pilihan, orangtua hanya memfasilitasi dengan mengajaknya survey dan berdiskusi mengenai sekolah-sekolah tersebut.
Ketika survey sekolah buat anak gw, ada beberapa TK yang kami datangi, yang mendapat rekomendasi dari beberapa tempat, dan juga TK yang berada di dekat tempat tinggal kami. Dan dari sinilah satu di antara beberapa TK tersebut dipilih oleh anak gw. Karena sebelumnya sudah pernah bersekolah, tentu saja gw punya tolak ukur, perbandingan antara sekolah yang gw survey dengan sekolah yang lama.

Di sekolah yang lama, metode pengajaran buat anak TK adalah lemah lembut. Dan yang paling gw suka di sekolahnya yang lama adalah setiap anak diciptakan unik, spesial, jenius. Jadi gurunya berusaha melihat apa kelebihan si anak, tidak menggunakan standar yang sama yaitu baca-tulis-hitung.
Misalkan saja anak gw, dia paling suka menggambar dan keterampilan, yang sekarang ini di TK biasanya lebih terkenal dengan “art and craft”, maka itulah yang dipuji oleh gurunya, sehingga rasa percaya diri anak semakin berkembang. Terus terang untuk ukuran membaca dia agak lambat jika dibanding beberapa temannya, karena dia baru bisa mengenal huruf, tapi belum bisa membaca *ya iyalah namanya juga baru 5 tahun* tapi untuk urusan menghitung dia sudah mahir.

Guru-guru juga tidak perlu bersuara keras agar didengar murid, dan gw setuju banget dengan hal ini. Keras bukan berarti dipatuhi dan lembut bukan berarti dilanggar. Maksudnya apa? Ngga perlu bersuara keras supaya anak nurut, lembut pun bisa asal kita tatap-tatap mata dengan si anak, dan yakin bahwa si anak mengerti, insya Allah dia akan nurut. Kekerasan itu tidak menyelesaikan semua hal.
Guru-guru di TK ini pun memposisikan diri sama dengan si anak. Maksudnya kalau berkomunikasi dengan anak, mereka akan berlutut atau jongkok sehingga mata ketemu mata. Bukannya berdiri dan mata ketemu kaki.

Got the point? Kemana kira-kira pembicaraan ini akan gw bawa?
Ya. Standar di sekolah anak gw sekarang (sepanjang pengamatan gw yang singkat ini, dan gw sangat berharap pengamatan gw salah), adalah baca-tulis-hitung, gurunya mengeluarkan suara yang keras *tapi bukan galak*, anak-anak harus disiplin dalam artian duduk diam di kursi-tangan rapi di meja, kalau murid tidak fokus maka guru akan memukul penggaris ke meja *bukan memukul anaknya kok*, guru berdiri dan murid duduk.

Sounds familiar? Ya, begitulah sistem pengajaran kita jaman dulu, bukan jaman sekarang. Gw ngga bilang sistem ini jelek, hanya gw merasa kurang cocok. Lalu kenapa gw memasukkan anak gw ke sekolah itu? Jawabannya adalah karena dia suka di sana.
Dia suka dengan suasana gedungnya, dengan banyak gambar planet ditempel, keterampilan anak-anak dipajang dimana-mana. Dia suka dengan gedung yang luas. Dia suka dengan sistem anak duduk di kursi dengan meja (karena dia ngga suka di sekolahnya dulu duduk di karpet dengan bentuk melingkar bersama guru dan teman).

Dan tebakan gw, dia juga suka karena tantangannya besar, bahasa pengantar inggris dan bahasa percakapan bahasa melayu. Dia belum mengerti keduanya dan justru karena itu dia tertantang.
Well, what can I say? Dia yang akan menjalani sekolah di sana, jadi selama dia enjoy, ngga masalah buat gw.

Memang di sekolah ini kemampuan anak-anaknya lebih maju dibanding di sekolah yang lama. Dengan umur yang sama, mereka sudah bisa membaca tiga huruf dan tiga kata sehingga sudah bisa membaca satu kalimat, misalnya “A big hen”. Hafalan Qurannya juga sudah lebih maju dibanding sekolah yang lama. Mungkin inilah salah satu kelebihan metode yang gw sebut tadi. Gurunya juga baik-baik, seperti yang gw bilang tadi, bersuara keras bukan berarti galak dan marah-marah, mereka bersuara keras agar didengar.
Lalu apa yang gw takutkan sebenarnya? Gw cuma takut anak gw tidak menjadi unik di sana, tidak mengeluarkan seratus persen kemampuan dirinya, tapi hanya mengikuti peraturan dan standar sekolah. Ngga “full of energy”, “full of passion”, “think out of the box”, “full of creativity”, dan semacamnya *lebay ngga sih?*. Tapi sekali lagi, semoga pengamatan gw yang singkat ini salah, semoga pilihan kami ini benar.

Amiin....

Saturday, July 26, 2014

Super duper late post

Satu keluarga. Bapak, Anak, Ibu. Kok kayak keluarga gw ya? :p
Oke, salah satu keuntungan punya blog adalah, ketika kita posting tentang kegiatan jalan-jalan, dan suatu saat kita membutuhkannya sementara memori otak kita lagi ngga bisa diajak kerjasama alias lupa, kita tinggal cari di blog kita dan tarraaaaa.. datanya ada. Contoh yang terjadi pada gw kayak gini, “Eh waktu itu ke bali tahun berapa ya? Bulan apa ya?”, “Waktu itu sate yang enak di jogja namanya apa ya?”, “Tahun kemarin ke bandung ngga sih?”, “Yang waktu itu makan iga enak banget di mana ya?”,dan sebagainya. Dan gw tinggal membuka blog, cari, dan ketemu!

Tapi pada saat gw menyadari keuntungan ini, penyakit malas muncul untuk menghalangi gw nge-blog *alesan*. Dan tahu ngga penyakit apa yangklopbanget sama penyakit malas ini? Yang kalo penyakit ini mucul setelah penyakit malas maka kerugiannya adalah akut? Itu adalah penyakit LUPA.
Oke, sebelum dua penyakit ini menyerang lagi maka gw akan cepat-cepat mem-posting hal ini, karena ini penting! *cieelah lebay*


Februari 2014, Mr. F alias laki gw dapet tugas di bali. Karena udah janji sama Mira kalo ayahnya tugas keluar kota lagi dia harus ikut, maka dipenuhilah janji itu. Alhamdulilah, kebetulan tugasnya ke Bali. Kenapa Mira mau ikut kalo ayahnya keluar kota? Karena dia tahu kalo ayahnya keluar kota berarti nginep di hotel dan ada kolam renang. Haha, jadi bukan jalan-jalannya yang dia pengen, tapi nginep di hotel dan berenang di kolam renang. Maka berangkatlah kami ke bali, Selasa, 11 Februari 2014 sampai Minggu, 16 Februari 2014.
Sesuai keinginannya, maka aku dan Mira di hotel aja dari hari selasa sampai hari jumat. Ngapain? Ya berenang lah. Kebetulan hotelnya juga hotel kecil dan kolam renangnya pas di depan kamar, jadi ya bangun tidur, keluar, jebyuuuurrrr! Lagian ayahnya juga kerja, jadi ngga bisa jalan-jalan, ntar ayahnya ngiri kalo gw berdua mira doang jalan-jalannya :P *padahal ngga berani jalan berdua doang*

Karena hotelnya dekat banget sama pusat oleh-oleh Krisna, tinggal jalan kaki, makanya selasa sampai jumat itu paling jalan-jalannya ke Krisna doang, sama McD kalo mira lg pengen, jarak ke McD juga tinggal jalan kaki.
Sabtu Minggu baru jalan-jalan. Sabtu ke Bird Park, Reptille Park, Bakas Elephant Safari, ditutup dengan makan malam di Menega Cafe-Jimbaran. Minggu beli pie susu, ke Bali Zoo, Pantai Pandawa.
Bird Park dan Reptille Park.... Gw sih ngga terlalu rekomendasi ya, mendingan sekalian ke Taman Safari aja atau Bali Zoo aja, tapi kalo penasaran pengen tau kayak gw sih ya boleh aja nyobain datang, lagipula selera orang kan beda-beda :D
Kalau Bakas Elephant Safari terus terang gw ngga sempat nyobain karena pas sampe udah mau tutup dan waktu itu hujan angin mulai turun, jadi licin dan berbahaya kalau mau naik gajah. Kalo dilihat dari medannya dan dari yang gw baca, keliling gajahnya di rute alam bebas, kalo buat yang suka naik gajah sih oke ya, tapi gw sih ngga begitu suka, udah pernah nyobain waktu di taman safari dulu. Selain itu Bakas Elephant Safari tempatnya jauh dan harganya mahal *buat gw* jadi gw sih ngga rekomendasi tempat ini ya....

Menega sih udah jadi favorit gw, tiap ke bali selalu ke sana, enak, harga terjangkau, view bagus.
Bali Zoo, ya oke lah, meski menurut gw tetap lebih bagus Taman Safari.
Pantai Pandawa, oke lah.... Tadinya sih ngga mau ke pantai, cuma kok rasanya aneh aja kalo ke Bali tapi ngga main di pantai, makanya akhirnya kesini deh :D

Baiklaah, segitu aja dulu, ngga mau terlalu panjang. Bagi yang mau liat-diat foto.. monggo....


"Main petak umpet"
Oke.. sembunyi ya.. aku hitung.. 1..2..3..

Thursday, July 24, 2014

Cuaca

Judulnya ngga kreatif amat ya? Cuaca.

Oke, masih tentang Kuala Lumpur, kali ini gw mau ngebahas cuaca, sama pembagian waktu juga sih. Cuaca di Kuala Lumpur kurang lebih sama dengan Jakarta, cuma di sini lebih kering, sementara Jakarta lembab. Saking keringnya sampe ngga keringetan, tapi kulit sama tenggorokan jadi berasa banget keringnya.
Saking keringnya, anak gw kulitnya sampe kering dan bruntusan (gw ngga ngerti istilah medisnya, bahasa indonesianya pun gw ngga tau, pokoknya bentuknya kayak kalo kulit kita lagi merinding gitu deh). Tenggorokannya pun kering sampe radang tenggorokan. Kok jadi terdengar menakutkan ya? Sebenernya ngga juga sih, inti yang mau gw sampaikan adalah, siap-siap adaptasi cuaca kalo ke sini. Kalo anak gw mungkin karena kecapean begitu sampe sini hampir tiap hari pergi terus makanya sakit.
Oke, sekarang soal pembagian waktu. *Nah loh, soal cuacanya kok sedikit? Padahal judulnya Cuaca. Ya sudahlah..*
Kembali ke pembagian waktu, di Kuala Lumpur waktunya GMT+8, di Jakarta GMT+7, padahal menurut gw lebih cocok kalau di sini juga GMT+7. Kenapa? Kita lihat kenapa....
Karena jadwal matahari terbit dan terbenamnya hampir sama dengan Jakarta, contohnya aja, waktu adzan Shubuh di Jakarta berkisar jam 4.45 sementara di Kuala Lumpur 5.50, sementara jam kerja dan sekolah sama dengan Jakarta.
Biar gampang, kita anggap adzan Shubuh Jakarta jam 5.00, Kuala Lumpur jam 6.00
Misalkan saja jam kerja dan sekolah (TK) jam 8.00, kalau misalkan kita punya kebiasaan baru bersiap-siap setelah adzan shubuh, maka di Kuala Lumpur kita hanya punya waktu 2 jam, sementara kalau di Jakarta kita punya waktu 3 jam.
Untung di sini ngga macet kayak Jakarta. Coba bayangin berapa banyak orang Jakarta bela-belain berangkat jam 5 pagi demi menghindari macet? Dan kalo misalkan itu terjadi di sini (berangkat jam 5 pagi), berarti orang-orang baru pada shalat Shubuh di kantor (karena adzan baru jam 6), dan berangkat jam 5 pagi di sini, sama seperti berangkat jam 4 pagi di Jakarta *helloooowww... ngga kurang pagi tuuh....*
Malamnya beda lagi, karena magribnya baru jam 7.30, kalo ngeliat jam pas mo shalat tuh rasanya aneh, kayak udah bukan waktu magrib. Udah gitu kalo mau tidur berasa malem banget, jadi kalo biasa di Jakarta tidur jam 11, di sini udah jam 12, jadi yaa gitu deeh....
Oke, mungkin gw cuma jetlag aja kali ya.. tapi gw rasa pendapat gw ini ada benarnya juga kan? Eh tapi gw jadi mikir, pengaturan seperti ini pengaruh ke semangat dan rajinnya seseorang ngga ya? Karena kalo gw sih kalo berangkat sekolah atau kerja pagi tuh rasanya lebih seger dan lebih semangat, dan karena semangat maka kinerjanya juga lebih baik. Hmm.. kalo diterapkan di Jakarta gimana ya? Jakarta GMT+8, atau tetap GMT+7 tapi anak masuk sekolah jam 6 :D

Tuesday, July 22, 2014

Sayangi Kuala Lumpur


Pemukiman dan stasiun kereta
 
Ngga terasa, udah lebih dari dua minggu gw di sini. Apa yang mau gw tulis semenjak beberapa hari setelah sampai di sini, sudah hampir menguap. Lebih baik gw tulis sebelum semuanya hilang.

Kesan pertama ketika sampai di Kuala Lumpur adalah, kota yang modern. Kecanggihan, kebersihan, dan keteraturan (transportasi) kotanya mirip Singapore, meski ngga sebersih Singapore. Tata kota dan pemukimannya mengingatkan pada Jakarta dan Singapore. Terus terang, suasananya tampak nyaman dan bikin betah *semoga*.

Selain itu, keberagaman penduduknya yang melayu-cina-india-bule juga mengingatkan gw akan singapore, bahkan singapore ngga seberagam ini karena di sana melayu ngga terlalu banyak, dominasinya cina dan india. Jadi bisa dibilang (menurut pendapat gw pribadi), Kuala Lumpur adalah Singapore kedua.

Lalu kenapa judulnya “Sayangi Kuala Lumpur”? Karena gw menemukan tulisan ini dimana-mana, sampai-sampai ini membuat gw berpikir, “Oh jangan-jangan ini sebabnya kota ini bersih dan teratur? Karena penduduknya menyayangi kuala lumpur?”

Kenapa gw bisa berpikir begitu? Karena gw iri. Ya, gw iri. Gw pengen Jakarta bisa kayak gini. Dan gw ngga mengerti kenapa Kuala Lumpur bisa dan Jakarta ngga bisa. Gw ngga tau apakah slogan ini berpengaruh atau ngga, tapi mungkin bisa jadi pertimbangan seandainya Jakarta pun dibuat dengan slogan “Sayangi Jakarta” dan tulisannya dipasang dimana-mana. Sehingga lama-kelamaan tulisan ini terekam di alam bawah sadar kita dan kita pun pada akhirnya benar-benar menyayangi Jakarta.

Satu lagi yang mungkin membuat kota ini tampak bersih dan teratur, satu hal yang di Kuala Lumpur dan Singapore ngga ada tapi di Jakarta ada, satu hal yang bisa membuat jalan di trotoar, pinggir jalan, halte, dan stasiun tampak lengang adalah tidak ada orang-orang yang duduk/berdiri menyesakinya. Siapa di Jakarta yang menyesakinya? Yaitu pedagang, pengemis, pengamen, pembagi brosur, dan semacamnya.

Gw ngga ngerti, terus terang gw ngga ngerti. Dan jangan tanya gw bagaimana penyelesaiannya. Diusir sama petugas pun sampai sekarang belum berhasil. Menyalahkan pemerintah atas ini itu pun ngga ada gunanya. Mungkin memang “Sayangi Jakarta” bisa jadi salah satu penyelesaian, agar masyarakat tidak saling menuding tapi berpikir bagaimana bersama-sama menyelesaikan ini semua.

Sebab, masyarakat sekarang ini, apalagi di musim pilpres, lagi seneng-senengnya merasa benar sendiri dan menuding, menyudutkan pihak lain. Dan gw baru sadar, ternyata banyak sekali orang indonesia, di jagat media sosial terutama, merasa paling benar sendiri dan ngga bisa menerima perbedaan. Siapa yang berbeda, dialah yang salah, mungkin begitu slogannya.

Ah, jadi ngelantur ke pilpres....

Tapi ngga apa-apa, sekalian gw mau cerita, kalau keesokan hari setelah gw sampai di Kuala Lumpur adalah hari pilpres. Jadi sampe Kuala Lumpur hampir tengah malam, besoknya langsung pilpres :D udah gitu aja infonya, ngga perlu nyebut angka 1,2,3, dan seterusnya.... Judulnya aja HAK pilih, jadi hak-hak gw alias suka-suka gw mau pilih yang mana dong :p

Back to Kuala Lumpur, jadi apa dong kelebihan Jakarta dibanding Kuala Lumpur? Menurut gw, kelebihannya adalah, Jakarta punya tukang ojek, Kuala Lumpur ngga :D jadi kalo mo pergi ke ”jarak tanggung” (naik taksi/kereta/bis kedeketan, jalan kaki kejauhan) jadi galau.. paling ujung-ujungnya ya naik taksi, atau jalan kaki.

Udah deh segitu dulu, insya Allah kapan-kapan disambung lagi.. Oia foto-foto ngga banyak, maklum bukan penarsis sejati :p

Tuesday, February 04, 2014

Frozen 1 minute


Akhir-akhir ini gw lagi demen banget sama yang namanya film FROZEN. Seperti film-film kartun disney lainnya, film ini meninggalkan kesan yang mendalam, karakter yang kuat, dan soundtrack yang bagus-bagus.
Menurut gw, film ini adalah tentang Elsa dan bukan yang lainnya. Soalnya karakternya kuat banget sampe yang lain terlihat jadi figuran. Tambah lagi, suaranya mantap banget. Dua lagu favorit gw di film ini adalah lagu Let it Go, yaitu pas bagian dia sendirian di pegunungan es dan dia membuat istananya sendiri, yang kedua pas Elsa berdialog dengan Anna, di istana es-nya, di saat dia dikasih tau adeknya kalau dia telah membuat “eternal winter” dan dia merasa ngga bisa lepas dari kutukannya. Mau lihat? Nanti gw kasih youtubenya di bawah.

Salah satu yang menarik juga adalah waktu Anna minta ke Olaf untuk menunggu sebentar (wait a minute), tapi Olaf mengartikannya sebagai “ tunggu 1 menit”, kemudian Olaf pun mulai menghitung. Di hitungan ke empat, pintu mulai ditutup dan Anna mulai memanggil kakaknya, Elsa. Kemudian terjadi dialog singkat, dan tak lama kemudian Olaf masuk sambil menyebutkan hitungan ke 58, 59, dan 60. Di sinilah kelihtan hebatnya film Disney, mereka tidak pernah main-main dalam membuat dialog, cobalah ikut menghitung, kalian akan menemukan bahwa dialog itu betul-betul 60 detik alias 1 menit!

Nonton gih filmnya, dijamin ngga nyesel :D

Aahhh... youtubenya kok ngga keluar yaahh.. ya udah deh linknya aja nih:

http://www.youtube.com/watch?v=moSFlvxnbgk

http://www.youtube.com/watch?v=yqJ7LtZgMAc

 

Friday, January 17, 2014

Badan Geologi dan Floating Market, Bandung

Salah satu kebiasaan dari kebanyakan orang Jakarta adalah menghabiskan waktu akhir pekannya ke Bandung atau Puncak. Ternyata, gw tidak termasuk orang kebanyakan. Setelah ngintip blog gw sendiri, ternyata gw ke bandung ngga sampe sebulan sekali #ya-eyalah. Dari semenjak jaman gw kerja, cuma lima kali gw ke bandung. Dan pada setiap kunjungannya, ada kesan tersendiri :)

Pertama, waktu ada meeting di Bandung, Juni 2006. Ini adalah pertama kalinya gw tugas keluar kota, pertama kalinya gw keluar kota sendiri, tidak bersama keluarga, dan pada waktu itu, gw perempuan sendiri, dan berangkat pakai mobil kantor, bukan naik travel ataupun kereta, di tambah lagi, di sana adalah pertama kalinya gw main bilyard. Banyak “pertama”nya ya :D
Kedua, waktu jalan-jalan sama temen-temen kantor, masih di bulan Juni, 2006. Meskipun ini bukan pertama kalinya gw keluar kota tanpa keluarga, tapi ini pertama kalinya gw JALAN-JALAN keluar kota. Di sini gw juga ketemu temen-temen baru, dan di sini juga pertama kalinya gw clubbing, dan semoga itu yang terakhir kalinya. Ahh emang gw anak ngga gaul :D
Ketiga, waktu jalan-jalan sama Misua, November 2007. Cerita yang ini ngga ada di blog, terlalu pribadi, hihihi. Tapi ini juga pertama kalinya gw pergi sama dia sebagai suami istri, jadi banyak kenangannya juga :D
Keempat, jalan-jalan keluarga, lagi-lagi di bulan Juni, 2011. Kali ini pergi udah ada buntutnya, karena memang jalan-jalan juga tujuannya mau nemenin buntut ini main ke Kampung Gajah, abis itu emak-bapaknya makan di Maja House deh, meskipun si buntut juga doyan sama makanan di Maja House :D
Kelima, menjalankan Misi21, Oktober 2011. Ini juga pertama kali gw jalan-jalan keluar kota sendirian, seru deh pokoknya :D
Lalu... Ternyata keluarga kecil kami ini dapat kesempatan jalan-jalan ke bandung lagi :) jadi, sekarang terbentuklah poin keenam :)

Keenam, Badan Geologi dan Floating Market, Desember 2013. Jadi ceritanya, mira lagi seneng-senengnya sama Dinosaurus. Udah agak lama sih sebenernya, semenjak dia masih playgroup. Dia suka gambar dino, punya mainan dino, bikin mainan dino, sampe pagi sebelum sekolah nonton acara “Dino Dan” dulu, dan barang paling update tentang dino adalah sprei dino :D ngga percaya? Nih liat aja.

Intro Victor Echo Romeo Tango


I am weird, yes I am.
Most people feel comfortable hanging out with their friends,
While I am enjoying myself to be alone.
I am alone but I'm not lonely.

I am weird, yes I am.
I can spend hours and hours alone, reading, writing, or anything I would like to do.
You can call me introvert, or anything.
I don't mind.
I am not asking you to understand.
Just let me be alone.

#edisi curang (curhat terang-terangan)