Thursday, August 07, 2014

Sistem pengajaran


Setiap sekolah memiliki sistem pengajaran masing-masing, maka ketika kita survey sekolah, kita akan menemukan konsep yang berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lain, meskipun mungkin antara satu dan lain ada kemiripan.
Hal itu terjadi di Indonesia, dan gw rasa, itu juga terjadi di sini.

Dengan adanya beda konsep inilah, setiap anak maupun orangtua memiliki pilihan dalam menentukan sekolah.
Dari beberapa sumber yang gw baca dan juga dengar, sebaiknya untuk urusan sekolah, anaklah yang menentukan pilihan, orangtua hanya memfasilitasi dengan mengajaknya survey dan berdiskusi mengenai sekolah-sekolah tersebut.
Ketika survey sekolah buat anak gw, ada beberapa TK yang kami datangi, yang mendapat rekomendasi dari beberapa tempat, dan juga TK yang berada di dekat tempat tinggal kami. Dan dari sinilah satu di antara beberapa TK tersebut dipilih oleh anak gw. Karena sebelumnya sudah pernah bersekolah, tentu saja gw punya tolak ukur, perbandingan antara sekolah yang gw survey dengan sekolah yang lama.

Di sekolah yang lama, metode pengajaran buat anak TK adalah lemah lembut. Dan yang paling gw suka di sekolahnya yang lama adalah setiap anak diciptakan unik, spesial, jenius. Jadi gurunya berusaha melihat apa kelebihan si anak, tidak menggunakan standar yang sama yaitu baca-tulis-hitung.
Misalkan saja anak gw, dia paling suka menggambar dan keterampilan, yang sekarang ini di TK biasanya lebih terkenal dengan “art and craft”, maka itulah yang dipuji oleh gurunya, sehingga rasa percaya diri anak semakin berkembang. Terus terang untuk ukuran membaca dia agak lambat jika dibanding beberapa temannya, karena dia baru bisa mengenal huruf, tapi belum bisa membaca *ya iyalah namanya juga baru 5 tahun* tapi untuk urusan menghitung dia sudah mahir.

Guru-guru juga tidak perlu bersuara keras agar didengar murid, dan gw setuju banget dengan hal ini. Keras bukan berarti dipatuhi dan lembut bukan berarti dilanggar. Maksudnya apa? Ngga perlu bersuara keras supaya anak nurut, lembut pun bisa asal kita tatap-tatap mata dengan si anak, dan yakin bahwa si anak mengerti, insya Allah dia akan nurut. Kekerasan itu tidak menyelesaikan semua hal.
Guru-guru di TK ini pun memposisikan diri sama dengan si anak. Maksudnya kalau berkomunikasi dengan anak, mereka akan berlutut atau jongkok sehingga mata ketemu mata. Bukannya berdiri dan mata ketemu kaki.

Got the point? Kemana kira-kira pembicaraan ini akan gw bawa?
Ya. Standar di sekolah anak gw sekarang (sepanjang pengamatan gw yang singkat ini, dan gw sangat berharap pengamatan gw salah), adalah baca-tulis-hitung, gurunya mengeluarkan suara yang keras *tapi bukan galak*, anak-anak harus disiplin dalam artian duduk diam di kursi-tangan rapi di meja, kalau murid tidak fokus maka guru akan memukul penggaris ke meja *bukan memukul anaknya kok*, guru berdiri dan murid duduk.

Sounds familiar? Ya, begitulah sistem pengajaran kita jaman dulu, bukan jaman sekarang. Gw ngga bilang sistem ini jelek, hanya gw merasa kurang cocok. Lalu kenapa gw memasukkan anak gw ke sekolah itu? Jawabannya adalah karena dia suka di sana.
Dia suka dengan suasana gedungnya, dengan banyak gambar planet ditempel, keterampilan anak-anak dipajang dimana-mana. Dia suka dengan gedung yang luas. Dia suka dengan sistem anak duduk di kursi dengan meja (karena dia ngga suka di sekolahnya dulu duduk di karpet dengan bentuk melingkar bersama guru dan teman).

Dan tebakan gw, dia juga suka karena tantangannya besar, bahasa pengantar inggris dan bahasa percakapan bahasa melayu. Dia belum mengerti keduanya dan justru karena itu dia tertantang.
Well, what can I say? Dia yang akan menjalani sekolah di sana, jadi selama dia enjoy, ngga masalah buat gw.

Memang di sekolah ini kemampuan anak-anaknya lebih maju dibanding di sekolah yang lama. Dengan umur yang sama, mereka sudah bisa membaca tiga huruf dan tiga kata sehingga sudah bisa membaca satu kalimat, misalnya “A big hen”. Hafalan Qurannya juga sudah lebih maju dibanding sekolah yang lama. Mungkin inilah salah satu kelebihan metode yang gw sebut tadi. Gurunya juga baik-baik, seperti yang gw bilang tadi, bersuara keras bukan berarti galak dan marah-marah, mereka bersuara keras agar didengar.
Lalu apa yang gw takutkan sebenarnya? Gw cuma takut anak gw tidak menjadi unik di sana, tidak mengeluarkan seratus persen kemampuan dirinya, tapi hanya mengikuti peraturan dan standar sekolah. Ngga “full of energy”, “full of passion”, “think out of the box”, “full of creativity”, dan semacamnya *lebay ngga sih?*. Tapi sekali lagi, semoga pengamatan gw yang singkat ini salah, semoga pilihan kami ini benar.

Amiin....

0 comments: