Wednesday, February 17, 2016

Tinggalkan saja, jangan lihat kucing

Ketika anak masih balita, kemudian ayah atau ibunya mau pergi, baik itu bekerja, ke pasar, atau tempat lainnya, kerap kali anak menangis. Kemudian karena tidak tega, akhirnya neneknya, pengasuhnya, tantenya, atau siapa pun yang dititipi anak tersebut, berkata seperti ini:

“Yuk lihat kucing yuk, puss mana.. puss.. meong..” sambil pura-pura mencari kucing, padahal kucingnya belum tentu ada.

Bukan cuma kucing yang jadi pengalih perhatian, terkadang burung, ayam, bahkan cicak. Kemudian ketika si anak teralihkan perhatiannya, diam-diam orangtuanya berangkat berjingkat-jingkat. Tanpa pamit. Tanpa sepengetahuan anak.

Alasannya? Kasihan kalau menangis. Lagi-lagi berbohong, seperti pada “Dinding yang nakal”. Kali ini berbohong dan berkhianat.

1.       Berbohong
Mengapa pergi diam-diam disebut berbohong? Maling ambil curiannya diam-diam atau terus terang? Apakah maling sedang jujur? Tapi kan kalau pergi diam-diam ngga ada yang hilang? Bagi anak, orangtuanya lah yang “hilang”.

2.       Berkhianat
Kok berkhianat? Coba aja kalau kamu lagi bareng sama sahabat kamu, eh tiba-tiba dia pergi aja gitu ngga ngajak-ngajak, kita ditinggal. Rasanya gimana?

“Kenapa sih ribet amat? Bukannya anaknya juga masih kecil, belum ngerti apa-apa?”


Yang bilang begini kayaknya kurang baca nih. Anak kecil mungkin belum bisa ngomong, tapi bukan berarti mereka ngga mengerti. Semua hal akan disimpan dalam otak, kebanyakan di alam bawah sadar. Karena itu ketika dewasa, kemungkinan akan berpengaruh pada perilakunya. Silakan baca buku-buku parenting kalau ngga percaya. Yang jelas, kalau tetap berbohong, itu akan tercatat dalam catatan amal kita.

Tuesday, February 16, 2016

Maco dan Badu Episode 7: Ganteng dan Cantik



Ketika Badu sedang merekam, Maco datang dengan berlari. Ternyata Maco sedih karena temannya mengatakan bahwa dirinya jelek. Badu tidak setuju dengan perkataan teman Maco. Menurutnya, semua yang jantan itu ganteng dan semua yang betina itu cantik. Apakah Maco percaya pada Badu? Yuk kita lihat di video ini.

Monday, February 15, 2016

Karena cinta kau kubela, Ibu....

Mengapa mereka mencelamu?
Mereka bilang kau pezina
Mereka bilang kau di neraka
Aku tidak percaya
Karena bagiku kau wanita mulia

Mengapa mereka membencimu?
Kata mereka kau berkhianat
Kata mereka kau berdusta
Aku tidak percaya
Karena bagiku kau wanita mulia

Bagaimana mungkin aku mencelamu?
Bagaimana mungkin aku membencimu?
Sedangkan kau adalah ibuku
Tentu saja aku cinta padamu

Kau lah ummul mukminin*
Ibunya kaum mukmin

Pantaskah seorang anak mencela ibunya?
Membenci ibunya?
Tidak pantas seorang  anak membenci ibunya

Mereka yang mencelamu
Berarti tidak mengenalmu
Mereka yang menghinamu
Berarti tidak mencintaimu
Dan aku benci orang-orang yang menghinamu



*Aisyah Radhiyallahu 'anha, istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

Sunday, February 14, 2016

Marak kampanye LGBT, cintaku dan cintamu

Akhir-akhir ini media sedang marak mengenai isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Aku bukan ingin membahas mengenai pengertiannya, karena sudah cukup banyak artikel yang membahasnya. Aku ingin membahas sebuah tahap sebelum seseorang memasuki ranah LGBT.

LGBT adalah perbuatan yang dilarang dalam agama islam, banyak orang yang sudah tahu itu. Lantas kenapa mereka masih melakukan? Karena mereka kalah. Ya, pelaku LGBT adalah orang-orang yang kalah dari hawa nafsu mereka.

Ada yang terbawa lingkungan, ada yang merasa terperangkap dalam tubuh yang salah. Apapun alasannya, itu adalah nafsu yang harus dilawan. Biasanya, sebelum terjerumus dalam perilaku LGBT, mereka merasakan SSA, singkatan dari Same Sex Attraction, alias mereka merasakan ketertarikan terhadap sesama jenis. Pada tahap ini, bukan waktunya menyerah kalah pada hawa nafsu, tapi waktunya melawan, fight back! Jangan mau kalah.

Caranya bagaimana? Mintalah pertolongan pada Allah, dan banyak-banyaklah mempelajari Al-Quran. Bukankah Al-Quran itu obat segala penyakit hati? Dan Same Sex Attraction itu adalah salah satu penyakit hati? Yang namanya penyakit ya harus berusaha disembuhkan.

Penyakit hati ada banyak, contohnya saja, iri, dengki, sombong, kikir, dan lain-lain. Kadarnya juga berbeda, ibarat penyakit badan, ada yang ringan, ada yang berat. Tapi kadar penyakit hati itu bagaimana, Allah lah yang paling tahu.

Orang yang diberikan penyakit sombong banyak yang berusaha sembuh. Orang yang diberi penyakit pelit, juga banyak yang berusaha sembuh. Begitu juga dengan yang suka menggunjing, atau penyakit hati lainnya. Kalau yang diberi penyakit hati jenis lain saja mau berusaha sembuh, mengapa pelaku LGBT tidak?

Selamat bagi yang berusaha sembuh, semoga Allah memberi kemudahan. Yang aneh adalah orang-orang yang bangga dengan perilaku LGBT mereka, penyakit kok dipelihara?

Menjawab pertanyaan mereka, “Kalau kaum Nabi Luth diazab karena perilaku homoseksualnya, kenapa kami tidak diazab seperti mereka?”  Nah inilah, sebaiknya sebelum melontarkan pertanyaan, perhatikan dulu bagaimana kisah para Nabi itu. Sebelum kaum-kaum itu diazab, para Nabi dan pengikutnya yang setia yang mentauhidkan Allah dan mengikuti Nabi akan diselamatkan terlebih dahulu, sehingga yang diazab adalah benar-benar kaum yang membangkang dan tidak mau menuruti perintah Allah.

Ada lagi, coba perhatikan Al-Quran, surat Al-Anfal (8) ayat ke 33:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka sedang mereka meminta ampun.”

Bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, azab tidak akan turun selama beliau masih hidup, dan selama masih ada umat muslim yang meminta ampun atau beristighfar.

Jadi intinya, selama pelaku LGBT masih hidup di antara orang-orang yang beristighfar, mereka tidak akan diazab seperti kaum-kaum terdahulu, azab mereka adalah setelah mati dan setelah kiamat.


Jaman sekarang ini, kampanye LGBT seolah semakin marak, semakin terbuka dan meluas. Untuk apa sibuk kampanye? Padahal, cinta pada sesama manusia adalah sesuatu yang rentan, sesuatu yang mudah lapuk. Sedangkan cinta kepada Tuhan adalah sesuatu yang agung, jauh lebih indah, dan layak diperjuangkan. Jika kalian pelaku LGBT berjuang atas nama HAM, maka kami pun berjuang atas nama agama. Jika kalian memperjuangkan cinta kepada sesama jenis, maka kami pun memperjuangkan cinta kami kepada Tuhan.

Saturday, February 13, 2016

Friday, February 12, 2016

Siapa penemu bluetooth?

Mouse.. bluetooth, earphone.. bluetooth, kirim file.. bluetooth.

Teknologi bluetooth memang sangat membantu, ngga perlu lagi kabel dimana-mana. Jadi pengguna memang enak, tinggal pakai, tapi siapakah penemunya?

Ternyata teknologi bluetooth ini bukan satu orang yang menemukan, tapi banyak orang karena ini adalah sebuah proyek yang dipromotori oleh lima perusahaan besar yaitu Ericsson, IBM, Intel, Nokia, dan Toshiba.

Lalu kenapa namanya bluetooth? Ternyata diambil dari nama Raja di akhir abad sepuluh, Harald Blatand yang di Inggris dijuluki Harald Bluetooth, kemungkinan karena giginya berwarna gelap.

Ia adalah raja Denmark yang telah berhasil menyatukan suku-suku yang sebelumnya berperang, termasuk suku dari wilayah yang sekarang bernama Norwegia dan Swedia. Bahkan wilayah Scania di Swedia, tempat teknologi bluetooth ini ditemukan juga termasuk daerah kekuasaannya. Kemampuan raja itu sebagai pemersatu juga mirip dengan teknologi bluetooth sekarang.

Lebih lengkapnya bisa dilihat di sini.


Thursday, February 11, 2016

Jika hidup ini singkat, kenapa masih buang waktu?


Gambarnya sudah cukup menggambarkan isinya: Jika hidup ini singkat, kenapa masih buang waktu?

Pikirkan apa hal-hal yang paling penting dalam hidupmu. Buat prioritas. Utamakan waktumu untuk hal-hal yang ada di bagian atas prioritasmu. Ini waktumu, ini hidupmu, pergunakan sebaik-baiknya.

Ngomong sih gampang, hehe.. iya kan? Sama lah, aku juga masih berusaha.

Kalau bingung gimana caranya menyusun prioritas, mungkin bisa dibayangkan, kalau hidup kita ini tinggal 30 hari lagi, hal-hal apa saja yang mau kita lakukan? Target dunia, target akhirat? Hubungan dengan keluarga, teman, tetangga? Pekerjaan?


Semoga dengan memberikan tenggat waktu seperti ini, prioritas akan terlihat.

Wednesday, February 10, 2016

Dinding yang nakal

Pernahkah ketika anakmu jatuh atau kepentok, kalimat seperti ini yang keluar?

“Aduh, sakit ya? Dindingnya nakal ya. Huh! Huh!” sambil memukul dinding yang nakal.

Yang disalahkan kadang bukan cuma dinding, bisa juga lantai yang nakal, atau lemari yang nakal, atau meja yang nakal, atau kursi yang nakal.

Saat mengucapkan kalimat itu, sadarkah kita apa yang sedang kita lakukan?
1.       Kita mengajarkan anak berbohong
Betulkah benda-benda itu yang nakal? Bukan kan? Berarti kita sedang berbohong. Berbohong pada anak, berarti mengajarkan berbohong pada anak, sebab kita memberikan contoh. Jadi kalau suatu saat anak kita berbohong, jangan salahkan teman-temannya, lingkungannya, atau sekolahnya. Tapi salahkan diri sendiri, berkaca dan introspeksi, apa yang sudah kita lakukan padanya semasa dia kecil.

2.       Kita mengajarkan anak mencari kambing hitam, tidak sportif.
Ketika anak kita jatuh, itu kesalahannya sendiri, bukan benda di sekitarnya. Apakah suatu saat nanti kalau dia main bola dan membuat kaca jendela pecah, yang salah adalah jendelanya? Jendela nakal! Kenapa jendela ada di situ? Atau kalau nanti ada buku sekolah yang tertinggal di rumah, itu salah bukunya? Kenapa bukunya ngga masuk tas? Atau salah ibunya, kenapa ibu ngga masukin ke tas? Lah yang sekolah siapa?

Apa sih salahnya kita bersimpati kepada anak dengan berkata, “Sakit ya nak? Mana yang sakit sini ibu lihat.” Lalu kita mengusap kepalanya, menciumnya, dan berkata, “Lain kali hati-hati ya nak.”


Ada yang salah dengan kalimat itu? Kita bersimpati, kita jujur, dan kita sportif. Dengan harapan sikap itu akan menular pada anak kita.

Tuesday, February 09, 2016

Maco dan Badu Episode 6: Doa setelah bersin



Ketika Maco dan Badu hendak bermain, Maco memilih pesawat dan Badu memilih boneka. Sempat terjadi perselisihan antara mereka sebelum akhirnya mereka setuju untuk bermain boneka naik pesawat. Kemudian Maco bersin dan mengaduh. Karena seharusnya bukan kata “aduh” yang diucapkan maka Badu mengajarkan doa setelah bersin pada Maco. Apa doanya? Yuk belajar dari video ini.

Monday, February 08, 2016

Aku tak mau

Aku tak mau kalau Tuhan itu tak ada.
Sebab siapa yang akan membalas temanku yang memukulku?
Aku tak berani sebab dia lebih besar dariku.

Aku tak mau kalau Tuhan itu tak ada.
Sebab siapa yang akan mengadili anak-anak tetangga itu yang mengambil mangga-manggaku?
Padahal aku sudah menunggu lama untuk kumakan bersama adikku.

Aku tak mau kalau hidup cuma di dunia ini.
Sebab itu tak adil.
Jika aku lahir miskin dan sampai mati miskin, aku tak akan pernah merasakan naik mobil.
Jangankan naik mobil, makanan enak pun mustahil.

Aku tak mau kalau Tuhan ada dua.
Sebab kalau yang satu minta begini, yang satu minta begitu, aku tak tahu harus ikuti perintah yang mana?

Aku  mau Tuhan itu satu.
Kalau satu hanya pada-Nya aku boleh patuh.
Kalau satu berarti Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Satu yang adil, satu yang memiliki nama-nama yang indah, satu yang tak akan pernah mendzalimi hamba-hambanya.
Satu yang membuatku tenang.

Sebab aku tahu, aku tak akan pernah dirugikan sekecil apapun.

Sunday, February 07, 2016

Air hujan yang asin

Waktu itu aku mendapat broadcast message yang isinya tentang pengalaman seorang perempuan bersama saudaranya (kalau ngga salah ponakannya) yang terombang-ambing di laut akibat karamnya kapal yang mereka tumpangi.
Yang membuat takjub adalah bagaimana mereka menghadapi hal tersebut. Jika ini dialami oleh kita, apa yang akan kita lakukan? Akankah kita tetap bersyukur dan berdoa? Atau kita pasrah? Atau justru menyalahkan Tuhan?
Yang dilakukan perempuan ini dan saudaranya adalah tetap bersyukur dan berprasangka baik terhadap Allah. Mereka tetap shalat, meski waktu shalat hanya bisa mereka perkirakan saja, sebab memperkirakan waktu di tengah lautan lepas bukanlah hal mudah.
Ketika saudaranya ini lapar dan haus, setelah terombang-ambing berjam-jam, bukannya marah atau mengeluh, perempuan ini menyarankan saudaranya yang masih kecil itu untuk menelan air liurnya dengan niat menghilangkan lapar dan dahaga. Mengapa tidak minum air laut? Sebab air laut yang asin itu bukannya menghilangkan dahaga, malah akan menambah kehausan.
Entah berapa lama kemudian, hujan turun dan mereka bersyukur akan hal tersebut. Sebab air hujan yang tawar akan melegakan dahaga mereka yang kehausan. Mereka bersyukur....
Lalu, apakah kita yang dengan mudah mendapatkan air minum ini sudah bersyukur? Bahkan aksesnya mungkin sangat mudah. Tinggal berjalan beberapa langkah, menekan tombol, dan cuurrr.. segelas air putih segar pun didapatkan dari sebuah galon yang duduk manis di atas dispenser.
Itu baru satu hal: Air. Bagaimana dengan nikmat-nikmat Allah yang lain? Yang luar biasa banyaknya.
Betul sekali firman-Nya, sedikit sekali di antara kita yang bersyukur.
“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” [Q.S Al-A’raaf (7):10]
Lalu bagaimana kalau air hujan itu diturunkan asin?
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” [Q.S Al-Waqi’ah (56):68-70]


QOTD – Berkata baik atau diam

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.”

 - Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam-

Hadits ini terdapat pada HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47.

Sumber dari sini.

Lihatlah betapa indahnya islam, karena orang yang berada di sekelilingnya, baik yang muslim atau yang tidak, akan merasa aman. Dari apa? Dari lisan yang menyakiti, atau yang sia-sia. Bukan cuma orang disekelilingnya, bahkan dirinya sendiri pun Insyaa Allah aman. Dari apa? Dari lisan yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa.


Tapi apakah umat muslim sekarang ini menjaga lisannya? Wallahu a’lam.

Friday, February 05, 2016

Siapa pencipta cangkir bergagang?

Lagi-lagi terpikir hal ini ketika minum kopi susu. Saat menggenggam cangkir di tangan, terpikir tentang siapa pencipta cangkir bergagang? Sehingga minuman panas tidak terasa panas di tangan, jadi kita bisa menggenggam cangkir tanpa takut kepanasan. Begitu pula minuman dingin.

Lalu aku pun mulai berselancar di dunia maya. Dari wikipedia, pembahasan mengenai cangkir sangat pendek, dan disebut bahwa cangkir pada masa awalnya tidak bergagang. Yang ada sejarahnya tentang gagang ini justru mug. Dan ternyata pencipta mug pertama kali tidak diketahui siapa, tapi yang pernah ditemukan mug berdekorasi di Yunani sekitar 4000 sampai 5000 SM dan terbuat dari tanah liat.

Pembuatan mug berubah-ubah sesuai jaman, sebelum tanah liat, kemungkinan mug dibuat dari kayu, tapi karena tidak tahan lama maka mulai dibuat dari tanah liat, kemudian logam, sampai akhirnya penemuan porselen di Cina sekitar tahun 600 M yang membawa era baru bagi mug.

Lebih lengkapnya bisa baca di sini.


Thursday, February 04, 2016

Istirahat sejenak

Terkadang kita perlu berhenti sejenak, atau bahkan mundur selangkah, untuk melihat, sedang sibuk apakah kita sekarang? What am I doing right now? Am I in the right path? Apakah betul ini jalan yang kita inginkan? Betulkah kita sedang menuju tujuan kita?


Dengan berhenti atau mundur sejenak, semoga kita bisa melihat lebih jelas, dan kembali ke jalan yang benar jika kita sedang tersesat.

Allah bukan Maha Pemarah

“Ayo shalat! Kalau ngga shalat nanti Allah marah lho.”

Suka ngomong begitu ke anak? Betulkah Allah marah kalau anak kita ngga shalat? Bukannya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang? Bingung ngga nanti anak kita, katanya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, kok suka marah-marah?

Ada juga yang mengkambinghitamkan nama Allah ini untuk urusan duniawi, misalkan:

“Ayo mandi, nanti Allah marah.”
“Ayo kerjain pe-er, nanti Allah marah.”

Bukankah saat kita bilang begitu, kita cuma cari jalan pintas supaya anak nurut? Karena kita tahu anak kita takut sama Allah, supaya nurut maka nama Allah dibawa-bawa.

Coba cari nama Allah, apa ada Maha Pemarah? Bukannya nama Allah baik-baik semua? Karena memang Allah tidak menurunkan sesuatu kecuali kebaikan. Artinya, semua yang Allah turunkan adalah kebaikan. Kalau manusia mengalami musibah, itu akibat ulah dia sendiri.

Kalau mau anak nurut sama kita, coba belajar, mungkin ada hal yang kita belum tahu, jangan pakai jalan pintas. Bukankah akan lebih baik jika kita menanamkan rasa cinta pada Allah semenjak kecil sehingga dia akan beranjak shalat dengan senang hati?

Biasanya anak yang ditakut-takutin pakai nama Allah untuk shalat adalah mulai anak tujuh tahun, karena perintah shalat bermula dari tujuh tahun. Tapi coba perhatikan baik-baik haditsnya, dalam hadits itu anak umur tujuh tahun mulai diperintahkan shalat, kalau umur sepuluh tahun masih ngga shalat maka boleh dipukul. Dan tentu saja, ini bukan pemukulan yang melukai, dan bukan pemukulan di muka, karena dalam islam tidak boleh memukul muka.

Artinya apa? Kita punya waktu tiga tahun untuk melatih anak shalat, dari umur tujuh sampai sepuluh. Tiga tahun itu berapa hari? Tiga tahun itu ada sekitar 1095 hari (365x3). Berapa kali shalat? Kalau yang wajib saja yang kita ambil, sehari 5x, berarti dalam tiga tahun ada 5475 kali shalat. Kita punya waktu LEBIH DARI 5000 kali untuk melatih anak shalat. Ayo mari kreatif. Jangan pakai jalan pintas. Allah bukan Maha Pemarah.


Wallahu a’lam.

Tuesday, February 02, 2016

Monday, February 01, 2016