Sunday, February 14, 2016

Marak kampanye LGBT, cintaku dan cintamu

Akhir-akhir ini media sedang marak mengenai isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Aku bukan ingin membahas mengenai pengertiannya, karena sudah cukup banyak artikel yang membahasnya. Aku ingin membahas sebuah tahap sebelum seseorang memasuki ranah LGBT.

LGBT adalah perbuatan yang dilarang dalam agama islam, banyak orang yang sudah tahu itu. Lantas kenapa mereka masih melakukan? Karena mereka kalah. Ya, pelaku LGBT adalah orang-orang yang kalah dari hawa nafsu mereka.

Ada yang terbawa lingkungan, ada yang merasa terperangkap dalam tubuh yang salah. Apapun alasannya, itu adalah nafsu yang harus dilawan. Biasanya, sebelum terjerumus dalam perilaku LGBT, mereka merasakan SSA, singkatan dari Same Sex Attraction, alias mereka merasakan ketertarikan terhadap sesama jenis. Pada tahap ini, bukan waktunya menyerah kalah pada hawa nafsu, tapi waktunya melawan, fight back! Jangan mau kalah.

Caranya bagaimana? Mintalah pertolongan pada Allah, dan banyak-banyaklah mempelajari Al-Quran. Bukankah Al-Quran itu obat segala penyakit hati? Dan Same Sex Attraction itu adalah salah satu penyakit hati? Yang namanya penyakit ya harus berusaha disembuhkan.

Penyakit hati ada banyak, contohnya saja, iri, dengki, sombong, kikir, dan lain-lain. Kadarnya juga berbeda, ibarat penyakit badan, ada yang ringan, ada yang berat. Tapi kadar penyakit hati itu bagaimana, Allah lah yang paling tahu.

Orang yang diberikan penyakit sombong banyak yang berusaha sembuh. Orang yang diberi penyakit pelit, juga banyak yang berusaha sembuh. Begitu juga dengan yang suka menggunjing, atau penyakit hati lainnya. Kalau yang diberi penyakit hati jenis lain saja mau berusaha sembuh, mengapa pelaku LGBT tidak?

Selamat bagi yang berusaha sembuh, semoga Allah memberi kemudahan. Yang aneh adalah orang-orang yang bangga dengan perilaku LGBT mereka, penyakit kok dipelihara?

Menjawab pertanyaan mereka, “Kalau kaum Nabi Luth diazab karena perilaku homoseksualnya, kenapa kami tidak diazab seperti mereka?”  Nah inilah, sebaiknya sebelum melontarkan pertanyaan, perhatikan dulu bagaimana kisah para Nabi itu. Sebelum kaum-kaum itu diazab, para Nabi dan pengikutnya yang setia yang mentauhidkan Allah dan mengikuti Nabi akan diselamatkan terlebih dahulu, sehingga yang diazab adalah benar-benar kaum yang membangkang dan tidak mau menuruti perintah Allah.

Ada lagi, coba perhatikan Al-Quran, surat Al-Anfal (8) ayat ke 33:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka sedang mereka meminta ampun.”

Bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, azab tidak akan turun selama beliau masih hidup, dan selama masih ada umat muslim yang meminta ampun atau beristighfar.

Jadi intinya, selama pelaku LGBT masih hidup di antara orang-orang yang beristighfar, mereka tidak akan diazab seperti kaum-kaum terdahulu, azab mereka adalah setelah mati dan setelah kiamat.


Jaman sekarang ini, kampanye LGBT seolah semakin marak, semakin terbuka dan meluas. Untuk apa sibuk kampanye? Padahal, cinta pada sesama manusia adalah sesuatu yang rentan, sesuatu yang mudah lapuk. Sedangkan cinta kepada Tuhan adalah sesuatu yang agung, jauh lebih indah, dan layak diperjuangkan. Jika kalian pelaku LGBT berjuang atas nama HAM, maka kami pun berjuang atas nama agama. Jika kalian memperjuangkan cinta kepada sesama jenis, maka kami pun memperjuangkan cinta kami kepada Tuhan.

2 comments:

Yurmawita Adismal said...

Factor tokoh juga turut andil membesarkan nama lbgt lihatlah di tv setiap panggung ada komunitas ini mereka mendapat eksistensi..

nalanda catumorli said...

Iya mba, kehadiran tokoh publik membuat komunitasnya semakin terasa biasa dan wajar di sebagian masyarakat