Wednesday, February 10, 2016

Dinding yang nakal

Pernahkah ketika anakmu jatuh atau kepentok, kalimat seperti ini yang keluar?

“Aduh, sakit ya? Dindingnya nakal ya. Huh! Huh!” sambil memukul dinding yang nakal.

Yang disalahkan kadang bukan cuma dinding, bisa juga lantai yang nakal, atau lemari yang nakal, atau meja yang nakal, atau kursi yang nakal.

Saat mengucapkan kalimat itu, sadarkah kita apa yang sedang kita lakukan?
1.       Kita mengajarkan anak berbohong
Betulkah benda-benda itu yang nakal? Bukan kan? Berarti kita sedang berbohong. Berbohong pada anak, berarti mengajarkan berbohong pada anak, sebab kita memberikan contoh. Jadi kalau suatu saat anak kita berbohong, jangan salahkan teman-temannya, lingkungannya, atau sekolahnya. Tapi salahkan diri sendiri, berkaca dan introspeksi, apa yang sudah kita lakukan padanya semasa dia kecil.

2.       Kita mengajarkan anak mencari kambing hitam, tidak sportif.
Ketika anak kita jatuh, itu kesalahannya sendiri, bukan benda di sekitarnya. Apakah suatu saat nanti kalau dia main bola dan membuat kaca jendela pecah, yang salah adalah jendelanya? Jendela nakal! Kenapa jendela ada di situ? Atau kalau nanti ada buku sekolah yang tertinggal di rumah, itu salah bukunya? Kenapa bukunya ngga masuk tas? Atau salah ibunya, kenapa ibu ngga masukin ke tas? Lah yang sekolah siapa?

Apa sih salahnya kita bersimpati kepada anak dengan berkata, “Sakit ya nak? Mana yang sakit sini ibu lihat.” Lalu kita mengusap kepalanya, menciumnya, dan berkata, “Lain kali hati-hati ya nak.”


Ada yang salah dengan kalimat itu? Kita bersimpati, kita jujur, dan kita sportif. Dengan harapan sikap itu akan menular pada anak kita.

2 comments:

Reza Andrian said...

Kelihatannya sepele memang, nyalahin benda mati yang padahal gak salah apa-apa. Untung benda mati.. coba kalau benda hidup. Mungkin dia akan membela diri hohoho. Tapi dari hal yang kita anggap sepele itu, bisa berpengaruh besar bagi si anak :)

nalanda catumorli said...

Iya kelihatannya sepele, padahal dampaknya bisa besar..