Sunday, February 07, 2016

Air hujan yang asin

Waktu itu aku mendapat broadcast message yang isinya tentang pengalaman seorang perempuan bersama saudaranya (kalau ngga salah ponakannya) yang terombang-ambing di laut akibat karamnya kapal yang mereka tumpangi.
Yang membuat takjub adalah bagaimana mereka menghadapi hal tersebut. Jika ini dialami oleh kita, apa yang akan kita lakukan? Akankah kita tetap bersyukur dan berdoa? Atau kita pasrah? Atau justru menyalahkan Tuhan?
Yang dilakukan perempuan ini dan saudaranya adalah tetap bersyukur dan berprasangka baik terhadap Allah. Mereka tetap shalat, meski waktu shalat hanya bisa mereka perkirakan saja, sebab memperkirakan waktu di tengah lautan lepas bukanlah hal mudah.
Ketika saudaranya ini lapar dan haus, setelah terombang-ambing berjam-jam, bukannya marah atau mengeluh, perempuan ini menyarankan saudaranya yang masih kecil itu untuk menelan air liurnya dengan niat menghilangkan lapar dan dahaga. Mengapa tidak minum air laut? Sebab air laut yang asin itu bukannya menghilangkan dahaga, malah akan menambah kehausan.
Entah berapa lama kemudian, hujan turun dan mereka bersyukur akan hal tersebut. Sebab air hujan yang tawar akan melegakan dahaga mereka yang kehausan. Mereka bersyukur....
Lalu, apakah kita yang dengan mudah mendapatkan air minum ini sudah bersyukur? Bahkan aksesnya mungkin sangat mudah. Tinggal berjalan beberapa langkah, menekan tombol, dan cuurrr.. segelas air putih segar pun didapatkan dari sebuah galon yang duduk manis di atas dispenser.
Itu baru satu hal: Air. Bagaimana dengan nikmat-nikmat Allah yang lain? Yang luar biasa banyaknya.
Betul sekali firman-Nya, sedikit sekali di antara kita yang bersyukur.
“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” [Q.S Al-A’raaf (7):10]
Lalu bagaimana kalau air hujan itu diturunkan asin?
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” [Q.S Al-Waqi’ah (56):68-70]


2 comments:

kornelius ginting said...

Terkadang kita tidak menyadari yang kita miliki.. sampai kita benar2 kehilangan ya ... #terkadang ya

nalanda catumorli said...

Iya betul..