Thursday, August 14, 2008

Seberapa besar pengaruh lingkungan kerjamu?

Lingkungan kerja, bagiku adalah salah satu faktor penentu betah atau tidaknya aku bekerja di suatu perusahaan. Teman-teman kerja yang menyenangkan, tim kerja yang kompak, hal-hal itu akan menjadi hal yang membuat aku senang datang ke kantor.

Apa sih definisi menyenangkan? Menurutku ini subyektif, tergantung masing-masing orang. Kalo untukku adalah yang enak diajak ngobrol dan asik diajak bercanda. Dua hal itu juga subyektif, tergantung selera orang masing-masing. Bukan hanya memilih pasangan, memilih teman juga cocok-cocokan. Memang, ketika kita berkenalan dengan seseorang, orang itu seketikan menjadi teman kita. Tapi apakah nantinya kita jadi sering ngobrol dengan dia, sering bercanda dengan dia, dan sebagainya, itu tergantung dari apakah kita merasa cocok dengan dia atau ngga. Ya kan?

Sekarang coba bayangin, misalnya dalam pekerjaan, gaji dan jenis pekerjaan (job desc) kamu lumayan (Dua faktor ini juga penting menurutku). Gaji lumayan tau lah ya maksudnya, tapi kalo yang aku maksud dengan jenis kerjaan lumayan, maksudnya lumayan bikin stress, hehehe…. Back to topic, udah gitu tim kerja kamu orang-orangnya serius, atau mungkin ga cocok aja sama kamu, misalkan bahan omongannya ga cocok, jenis bercandaannya ga cocok, dan sebagainya, dan sebagainya. Apa ngga nambah stress tuh?

Kalo misalkan tim kerjanya asik, menyenangkan, kan paling ngga bisa nurunin stress. Jadi kerja sambil ngobrol, ketawa-ketawa, kerjaan juga cepet selesai. Kerjaannya aja udah bikin stress, masa lingkungannya juga sih?

Eits, eits, tunggu, aku nih lagi ngomongin apa sih? Apakah ini curhat colongan? Yah, nilai sendiri deh…. Ada ide ngga gimana caranya menghibur diri untuk ngurangin stress? Lumayan, siapa tau berguna buat yang baca. Anggap yang minta ide ini adalah seseorang dengan pekerjaan lumayan padat sehingga ngga ada waktu buat browsing-browsing ataupun main game :)

Milik politikus dan artis kah?

Sekarang ini (waktu aku nulis ini, bukan waktu posting, karena nulisnya udah beberapa waktu lalu) lagi marak artis-artis terjun ke dunia politik. Eh, udah dari dulu deng. Mungkin lebih tepatnya kalo kusebut kembali marak karena dunia politik sedang ramai. Artis A jadi cawagub, artis B jadi calon walikota, artis C jadi caleg, dsb dsb. Karena hampir semua maju jadi wakil, kesannya artis-artis tersebut berguna untuk mendongkrak popularitas si calon ketuanya, juga sebagai penyandang dana. Ini sih cuma pemikiran pesimistis dari aku aja, sama sekali ngga objektif, yah… siapa tau mereka-mereka itu memang punya niat tulus dan serius untuk menjadi pemimpin yang baik. Semoga… semoga…!

Kalo dipikir-pikir, selain pengusaha besar (pengusaha besar pun biasanya dekat dengan pejabat-pejabat pemerintahan sih, atau si pejabat itu sendiri adalah pengusaha besar) pemegang kekuasaan dan uang di Negara kita ini, politikus dan artis yah? Indonesia ini, milik politikus dan artis kah?

Tuesday, August 12, 2008

Lebih enak pake sambel lho!

Gara-gara thypus, aku ngga boleh jajan sembarangan, udah gitu ada pantangan makanan pedas dan keras. Bye bye sambel dan kerupuk, hiks…. Tapi sebelnya, papaku kalo makan malah ngeledek sambil ketawa-ketawa, “Du, ini enak lho pake sambel….” Aku cuma bisa bilang, “Huaaaa…. Papa….” Eh, barusan mamaku bilang gini, “Du, kemplangnya** enak nih pake sambel.” Huaaaa….. mama…. Huh! Ini gara-gara mereka baru pulang dari lampung, jadi bawa-bawa makanan sana, untungnya ngga sempet beli mpek-mpek dan duren, huehehehehehe…. Yah gapapalah, ngeledek itu kan salah satu tanda sayang! (Is it?)

* Cerita ini kutulis sewaktu masih tergolek di atas kasur, di rumah….

** Kerupuk Palembang, orang biasanya taunya kerupuk Bangka, emang ada sambel khusus buat nemenin makan kerupuk ini

Gosip atau Fakta?

Waktu ngabisin waktu di RS, hiburanku waktu itu hanya TV. Bermodalkan remote dan gonta-ganti channel, jadilah tontonanku pindah dari satu infotainment ke infotainment lainnya. Bukannya sengaja nonton infotainment, tapi emang pada jam-jam tertentu semua channel menyuguhkan infotainment.

Berbekal hal itu, aku menyadari suatu perbedaan dari acara-acara tersebut. Infotainment yang menyuguhkan lebih banyak hasil wawancara dengan artis dan membiarkan penonton mengambil kesimpulan itu lebih bisa dipercaya dibandingkan infotainment memiliki prolog berlebihan sebelum wawancara bahkan pembawa acaranya terlalu banyak memberikan cerita, embel-embel, bumbu-bumbu di awal dan akhir wawancara, mendramatisir hasil wawancara dan memberikan sugesti bahwa apa yang dia sampaikan seolah-olah benar. Hati-hati, yang seperti itu lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, kalo udah nonton yang kayak gini, mendingan kamu ganti channel :D

Ada lagi fakta yang menarik, kisah berakhirnya masa pacaran ataupun perceraian yang baik-baik, biasanya hanya akan bertahan 1 hari karena dianggap tidak menarik bagi penonton. Sedangkan sebaliknya, perpisahan yang memiliki konflik, KDRT, pihak ketiga, dsb, akan bertahan berhari-hari bahkan berminggu-minggu di acara infotainment, apalagi kalo udah ga ada gosip lain, soalnya mereka anggap berita ini lebih menarik public, padahal publiknya udah eneg nontonnya. Eh, ga tau deng publiknya udah eneg atau belum, yang jelas aku sih udah :P

Monday, August 11, 2008

Hukum yang setara

Nyawa dibayar dengan nyawa. Uang dibayar dengan uang. Beberapa hari ini berita di televisi udah kayak infotainment, beritanya itu-itu aja (walaupun mungkin waktu aku memposting ini beritanya udah agak basi, karena aku nulisnya waktu masih tergolek di atas kasur karena bedrest). Yang pertama tentang Ryan si pembunuh, yang kedua tentang Artalyta si koruptor.

Ryan udah membunuh banyak nyawa (sebelas kalo ga salah, terakhir kutonton), sedangkan 1 nyawa aja udah sepantasnya dibayar dengan 1 nyawa, gimana kalo 11? Jadi kalo memang udah terbukti dia pembunuhnya, ya udah sepantasnya dia dihukum mati. Jika seandainya dia terbukti bekerjasama dengan pihak lain, ya hokum mati juga orang-orang itu.

Koruptor. Selama ini bercandaan orang-orang adalah, “Orang maling ayam sama korup bermilyar-milya hukumannya sama kok, jadi mendingan ambil target yang besar kan.” Kalo emang begitu hukumnya, lantas kenapa ga diubah? Seharusnya hukum penjara maling ayam dan maling uang milyaran bahkan trilyunan dibedakan donk! Plus mereka harus mengembalikan barang yang mereka ambil, yang bukan milik mereka.

Misal, maling ayam dihukum 1 tahun ditambah harus membayar uang sejumlah harga ayam yang diambil, atau kalo ayamnya masih hidup dan utuh ya kembaliin aja. Kalo ga punya duit, hokum penjaranya ditambah, misalkan jadi 2 tahun. Maling uang alias koruptor 600 Milyar misalnya, hukumannya 20 tahun penjara plus membayar uang sebesar 600 M. Kalo dia ngga punya uang sebanyak itu (misal duit korupnya udah terlanjur dipake), ya sita aja hartanya, rumah, mobil, tanah, perhiasan, dsb. Kalo dia punya perusahaan, keuntungan perusahaannya ya buat Negara, pokoknya sampe utangnya lunas (jangan lupa kasih batas waktu, misal kalo dalam 5 tahun ngga lunas juga ya hukuman penjaranya ditambah, jadi 30 tahun misalnya, atau seumur hidup).

Lagipula, kalo semua itu udah disita dan masih belum lunas, sapa suruh korup banyak-banyak. Lagian tuh duit sebanyak gitu buat apa sih? Beli pulau? Beli heli? Bikin perusahaan? Buat warisan 7 turunan? Atau apa? Heran, kok ya udah kaya masih belum puas juga….

Kembali ke topik, nah, lamanya hukuman penjara itu kan tergantung keputusan hakim. Perlu diingat juga, sebelum menjatuhkan hukuman, si pelaku harus bener-bener terbukti melakukan kesalahan, jangan sampe kita menghukum orang tak bersalah. Cukup logis ga sih? Sesuatu yang kita ambil dan bukan hak kita, ya udah seharusnya dikembalikan. Udah gede kok masih jadi maling? Apa udah lupa di sekolah dulu selalu diajarin kalo ngambil barang yang bukan milik itu dosa? Kan harus dibalikin. Kalo ngambil nyawa orang ya balikin, berhubung ga bisa balikin makanya kita harus memberikan nyawa kita. Kalo ngambil harta yang bukan milik sendiri, ya balikin, kalo ngga sanggup balikin, udah sewajarnya ada konsekuensi yang harus diterima. Adil ga sih hukum seperti yang baru aja aku jabarin? Menurutku sih cukup adil.

Allah Maha Tahu

Sebuah rencana berlibur ke Bali telah dipersiapkan. Cuti sudah di approve, tiket sudah ada, hotel dan mobil untuk di sana sudah dipesan, bahkan semua biaya tersebut sudah lunas. Rute sudah disiapkan, peta Bali sudah dibeli, biaya sehari-hari dan untuk oleh-oleh sudah diperkirakan, bahkan baju-baju untuk di sana sudah dipersiapkan. Menjelang kepergian, pekerjaan memang sedang bertumpuk, seringkali bergadang, ditambah sedang bayar puasa, badan pun jadi lemas, hampir setiap malam badan meriang.

Akhirnya aku memutuskan untuk ke dokter. Setelah menjalani tes darah, akhirnya diputuskan bahwa aku sakit thypus dan perlu rawat inap. Keputusan itu jatuh pada sabtu pagi, dua hari menjelang keberangkatan ke Bali dan satu hari menjelang resepsi pernikahan salah seorang sahabatku. Dua hal tersebut harus dikorbankan, aku tak bisa menghadiri resepsi tersebut dan rencana liburan ke Bali pun dibatalkan. Tiket dibatalkan hari itu juga, sedangkan hotel dan mobil tidak bisa dibatalkan hari itu karena kantor agennya tutup, bukan hari kerja. Tiket dan mobil baru bisa dibatalkan hari-H, hari senin, dan untungnya hanya kena charge 50%, bukan 100%.

Enam hari dirawat plus seminggu bedrest di rumah bukanlah hal yang menyenangkan. Mengingat kepala yang pusing, perut yang mual, makanan yang dipantang, dan aktivitas yang dibatasi. Orang yang ngga bisa diam kayak aku emang susah untuk disuruh diam.

Tapi tentunya, dibalik semua kejadian yang kita alami, selalu ada hikmahnya. Bahkan lebih dari itu, dibalik semua ini, ada sebuah hadiah besar yang diberikan Allah, yang dititipkan pada kami, dari kejadian ini. Allah memang Maha Besar, hanya Dia yang Maha Tahu. Manusia Boleh berencana, Tuhan yang menentukan.