Monday, August 11, 2008

Hukum yang setara

Nyawa dibayar dengan nyawa. Uang dibayar dengan uang. Beberapa hari ini berita di televisi udah kayak infotainment, beritanya itu-itu aja (walaupun mungkin waktu aku memposting ini beritanya udah agak basi, karena aku nulisnya waktu masih tergolek di atas kasur karena bedrest). Yang pertama tentang Ryan si pembunuh, yang kedua tentang Artalyta si koruptor.

Ryan udah membunuh banyak nyawa (sebelas kalo ga salah, terakhir kutonton), sedangkan 1 nyawa aja udah sepantasnya dibayar dengan 1 nyawa, gimana kalo 11? Jadi kalo memang udah terbukti dia pembunuhnya, ya udah sepantasnya dia dihukum mati. Jika seandainya dia terbukti bekerjasama dengan pihak lain, ya hokum mati juga orang-orang itu.

Koruptor. Selama ini bercandaan orang-orang adalah, “Orang maling ayam sama korup bermilyar-milya hukumannya sama kok, jadi mendingan ambil target yang besar kan.” Kalo emang begitu hukumnya, lantas kenapa ga diubah? Seharusnya hukum penjara maling ayam dan maling uang milyaran bahkan trilyunan dibedakan donk! Plus mereka harus mengembalikan barang yang mereka ambil, yang bukan milik mereka.

Misal, maling ayam dihukum 1 tahun ditambah harus membayar uang sejumlah harga ayam yang diambil, atau kalo ayamnya masih hidup dan utuh ya kembaliin aja. Kalo ga punya duit, hokum penjaranya ditambah, misalkan jadi 2 tahun. Maling uang alias koruptor 600 Milyar misalnya, hukumannya 20 tahun penjara plus membayar uang sebesar 600 M. Kalo dia ngga punya uang sebanyak itu (misal duit korupnya udah terlanjur dipake), ya sita aja hartanya, rumah, mobil, tanah, perhiasan, dsb. Kalo dia punya perusahaan, keuntungan perusahaannya ya buat Negara, pokoknya sampe utangnya lunas (jangan lupa kasih batas waktu, misal kalo dalam 5 tahun ngga lunas juga ya hukuman penjaranya ditambah, jadi 30 tahun misalnya, atau seumur hidup).

Lagipula, kalo semua itu udah disita dan masih belum lunas, sapa suruh korup banyak-banyak. Lagian tuh duit sebanyak gitu buat apa sih? Beli pulau? Beli heli? Bikin perusahaan? Buat warisan 7 turunan? Atau apa? Heran, kok ya udah kaya masih belum puas juga….

Kembali ke topik, nah, lamanya hukuman penjara itu kan tergantung keputusan hakim. Perlu diingat juga, sebelum menjatuhkan hukuman, si pelaku harus bener-bener terbukti melakukan kesalahan, jangan sampe kita menghukum orang tak bersalah. Cukup logis ga sih? Sesuatu yang kita ambil dan bukan hak kita, ya udah seharusnya dikembalikan. Udah gede kok masih jadi maling? Apa udah lupa di sekolah dulu selalu diajarin kalo ngambil barang yang bukan milik itu dosa? Kan harus dibalikin. Kalo ngambil nyawa orang ya balikin, berhubung ga bisa balikin makanya kita harus memberikan nyawa kita. Kalo ngambil harta yang bukan milik sendiri, ya balikin, kalo ngga sanggup balikin, udah sewajarnya ada konsekuensi yang harus diterima. Adil ga sih hukum seperti yang baru aja aku jabarin? Menurutku sih cukup adil.

1 comments:

ailtje said...

saya salah satu orang yang paling menentang tentang hukuman mati. Ketika terjadi pembunuhan, sebuah keluarga sudah cukup sedih, mengapa masih perlu menambah energi negatif dengan membunuh si pembunuh.

Lagipula, siapa sih kita, hanya manusia dan sejak kapan Tuhan memberi kita hak untuk membunuh? Termasuk menghukum si pembunuh dengan kematian? ^_^