Sunday, September 30, 2007

Nodame Cantabile


Pernah nonton Nodame Cantabile? Film bagus tuh! Aku "terjebak" nonton film ini gara-gara mampir ke kamar adekku yang biasanya nyanyi berkoar-koar, kok kali itu sepi, ngga taunya dia lagi serius di depan laptop pake earphone sambil nonton Nodame Cantabile. Aku tanya, film apaan tuh? Trus dia nyopot earphonenya dan, bla bla bla ngejelasin film itu sambil tetep nonton (aku pun ikut nonton). Adekku itu udah sampe di DVD terakhir, jadi setelah dia selesai, DVD-nya langsung aku bawa ke kamarku. Karena itu DVD pinjeman, jadi nontonnya harus buru-buru, apalagi udah harus dibalikin cepet karena yang punya udah nagih. Akhirnya aku minta perpanjangan waktu sama adekku supaya balikinnya hari sabtu aja (kemaren, .red). Untung yang minjemin baik, dibolehin balikin sabtu [Makasih yaaa...], dan aku berhasil menamatkan film itu dalam beberapa hari. [Yeyyy!!! :D]

Kalo mau tau ceritanya, ini aku kopiin artikelnya dari Wikipedia Indonesia.

Shinichi Chiaki is the top piano student at the Momogaoka College of Music and an excellent violinist, but Chiaki doesn't care about playing these instruments as much as he dreams of someday being a conductor. Chiaki, however, has several deeply rooted fears about traveling, and so finds himself "trapped" in Japan. Because he's trapped, Chiaki starts to question exactly how far he can possibly go in music, especially when he's passed over again and again by others he believes less worthy of musical scholarship and fame.

Recently dumped by his girlfriend for a "ham" looking fellow, passed over for a chance to go overseas, and removed from his star spot in the piano competition because he walked out on his piano instructor, Chiaki is at his limit. This is when he meets Nodame, or Megumi Noda. Nodame is a free — and filthy — spirit who reminds Chiaki that music can be fun and what drew him to be a conductor in the first place. In learning how to deal with Nodame, Chiaki learns how to deal with others. Chiaki begins to realize what is possible for him, even within the country of Japan.

For Nodame, Chiaki is everything she isn't. Clean, neat, dedicated, studious and inherently arrogant about his accomplishments and capabilities, Chiaki constantly bullies her into being more serious about life. He sees potential in her and her abilities as a pianist that she doesn't care about. She loves Chiaki and wants to be with him, but because she's not serious about her piano studies nor her personal hygiene, Chiaki always denies her affections.

Drawn together in a turbulent relationship, Chiaki's perfectionism and Nodame's untamed nature ends up complementing each other. As the story progresses, they mature as individuals, as musicians and as a couple.
.

Monday, September 24, 2007

FW: 10 Amalan yang TERBALIK

Sebuah email forward-an yang isinya menurutku bagus :) Ngga tau siapa penulis aslinya, tapi semoga ia mendapat pahala karena menyebarkan ilmu yang baik kepada saudara-saudaranya. Amin :)

10 AMALAN YANG TERBALIK

Kadang kita dapati amalan kita terbalik atau bertentangan dng apa yang sepatutnya dilakukan & dituntut oleh Islam.Mungkin kita tidak sadar atauikut-ikutan dng budaya hidup orang lain.
Contoh amalan yang terbalik :

1. Amalan Selamatan/kenduri beberapa malam setelah saudara/keluarga/tetangga kita meninggal (malam pertama, kedua, ketiga, ketujuh dan seterusnya) adalah terbalik dengan yang dianjurkan oleh Rosulullah SAW dimana Rosulullah telah menganjurkan tetangga memasak makanan/minuman untuk keluarga yang berduka guna meringankan kesedihan & kesusahan mereka. Keluarga yang telah ditimpa kesedihan tersebut terpaksa menyediakan makanan & membeli segala sesuatu untuk mereka yang datang membaca Tahlil/doa & mengaji. Tidakkah mereka yang hadir & makan tersebut tidak khawatir termakan harta anak yatim yang ditinggalkan oleh si mati atau harta peninggalan si mati yang belum dibagikan kepada yang berhak menurut Islam ?

2. Kalau datang ke resepsi/pesta pernikahan/khitanan selalu berisi hadiah/uang waktu bersalaman. Kalau tidak ada uang maka kita segan untuk pergi. Tetapi kalau mendatangi tempat orang meninggal. kita tidak malu untuk salaman tanpa isi/uang. Sepatutnya pada saat kita mendatangi tempat orang meninggallah kita seharusnya memberi sedekah. Sebenarnya jika ke Resepsi/pesta pernikahan/khitanan, tidak memberipun tidak apa-apa. Karena tuan rumah yang mengundang untuk memberi restu kepada mempelai & makan bukan untuk menambah pendapatannya.

3. Ketika datang ke sebuah gedung/rumah mewah atau menghadiri rapat dng pejabat, kita berpakaian bagus, rapi & indah tapi bila menghadap Allah baik di rumah maupun di Mesjid, pakaian yang dipakai adalah pakaian seadanya. Tidakkah ini suatu perbuatan yang terbalik?

4. Kalau bertamu ke rumah orang diberi kue/minum, kita merasa malu untuk makan sampai habis, padahal yang dituntut adalah jika hidangan tidak dimakan akan menjadi mubazir dan tidak menyenangkan tuan rumah.

5. Kalau Sholat Sunnah di Mesjid sangat rajin tapi kalau di rumah,
malas. Sedangkan sebaik-baik Sholat Sunnah adalah yang dilakukan di rumah seperti yang dianjurkan oleh Rosulullah SAW untuk menghindari rasa riya'/pamer.


6. Bulan Puasa adalah bulan mendidik nafsu termasuk nafsu makan yang berlebihan tetapi kebanyakan orang mengaku bahwa biaya makan dan belanja di bulan puasa adalah yang tertinggi dalam setahun. Padahal seharusnya yang terendah. Bukankah terbalik amalan kita?

7. Kalau untuk menjalankan ibadah haji, sebelum berangkat, banyak orang mengadakan Selamatan/do'a bersama tetapi setelah kembali dari Haji, tidak ada do'a bersama untuk bersyukur. Anjuran do'a bersama/selamatan dalam Islam diantaranya adalah karena selamat dari bermusafir/perjalanan jauh bukan karena akan bermusafir. Bukankah amalan ini terbalik? Atau kita mempunyai tujuan lain?

8. Semua orang tua akan kecewa jika anak-anaknya gagal dalam ujian. Maka dicari & diantarlah anak-anak ke tempat kursus walau dengan biaya tinggi. Tapi kalau anak tidak dapat membaca Al-Qur'an, mereka tidak berusaha mencari/mengantar anak-anak ketempat kursus baca Al-Qur'an atau kursus pelajaran Islam. Kalau guru kursus sanggup dibayar sebulan Rp.300.000,00 perbulan untuk satu pelajaran dan 8 kali pertemuan saja, tapi kepada Ustadz yang mengajarkan mengaji hanya Rp.100.000,00 perbulan untuk 20 kali pertemuan. pertemuan. Bukankah terbalik amalan kita? Kita sepatutnya lebih malu jika anak tidak dapat baca Al-Qur'am atau Sholat dari pada tidak lulus ujian.

9. Siang-malam, panas-hujan badai, pagi-petang kita bekerja mengejar rezeki Allah dan mematuhi peraturan kerja. Tapi ke rumah Allah (Mesjid) tidak hujan tidak panas, tidak siang, tidak malam tetap tidak datang ke Mesjid. Sungguh tidak tahu malu manusia begini, rezeki Allah diminta tapi untuk mampir ke rumahNya segan dan malas.

10. Seorang isteri kalau mau keluar rumah dengan suami atau tidak, berhias secantik mungkin. Tapi kalau di rumah....??? Sedangkan yang dituntut seorang isteri itu berhias untuk suaminya bukan untuk orang lain. Perbuatan amalan yang terbalik ini membuat rumah tangga kurang bahagia. Cukup dengan contoh-contoh di atas, Marilah kita berlapang dada menerima hakikat sebenarnya. Marilah kita beralih kepada kebenaran agar hidup kita menurut landasan dan ajaran Islam yang sebenarnya bukan yang digubah mengikuti selera kita. Allah yang menciptakan kita, maka biarlah Allah yang menentukan peraturan hidup kita.
Sabda Rosulullah SAW: "Sampaikanlah pesan-KU walau hanya satu ayat". (Riwayat Bukhari)___._,_.___

Sebenernya ada lagi yang aku liat kebalik. Kalo kita jalan-jalan ke mall atau lokasi mana pun, seringkali kita mendapati pasangan yang masih pacaran udah pegangan tangan, rangkul-rangkulan, dsb. Sedangkan pasangan yang sudah menikah dan punya anak, jarang kelihatan berpegangan tangan, rangkul-rangkulan, dsb. Padahal kan yang satu masih haram dan yang satu udah halal. Giliran udah halal kenapa malah ngga dilakukan? Kan aneh. Padahal bukannya dari tangan suami istri yang saling berpegangan itu, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela-sela jemarinya?
___._,_.___
“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a)
___._,_.___
Semoga dari amalan-amalan di atas, kita bisa melakukan yang benar dan ngga kebalik. Amin.

Tuesday, September 18, 2007

Marhaban Ya Ramadhan

Bulan ramadhan telah tiba. Tak terasa telah lewat masa 1 tahun semenjak ramadhan lalu. Ayo berlomba-lomba berbuat kebaikan. Buat yang belum bayar zakat, hayo bayar zakat. Ingat lho, dalam setiap rejeki yang kita terima, ada bagian milik orang lain, dan sudah di amanahkan bagi kita untuk menyalurkannya kepada si pemilik yang berhak. Jangan sampe kita lupa, maruk, gila harta, sampe hati kita tertutupi sehingga harta itu mau kita kuasai sendiri. Na'udzubillah. Astagfirullahaladzim. Harta yang kita miliki itu punya Allah, kita hanya pengelolanya, maka jadilah pengelola yang bertanggung jawab :)
.
Semoga di bulan ramadhan ini kita menjadi mahluk yang lebih baik di hadapan Sang Khalik, dan semoga setelah ramadhan pun kita terus berusaha menjadi mahluk yang lebih baik di hadapan-Nya.
.
Amin ya rabbal 'alamin.
.
(Mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan)

Update

Wah, maap saudara-saudara... ngga nyadar ternyata udah lama ngga buka dan ngga update blog. Hehehehe.... :P Ya udah, daripada sepi, ini ada cerpen yang belum dikasih judul. Silakan dinikmati.
.
Belum ada judul.
.
Bukan aku namanya kalau tidak tegas. Hari ini aku harus bertemu Mas Parto, dan mengatakan semuanya. Di café Ibu Idah, jam lima sore. Aku harus tepat waktu. Aku tidak ingin terlambat datang. Aku harus tiba lebih dulu, Mas Parto pasti baru sampai jam lima lewat, karena dari kantornya paling cepat sepuluh menit ia sampai di café Bu Idah.

Dia datang. Dengan kemeja lengan pendek berwarna putih bergaris vertikal, dipadu dengan celana bahan berwarna hitam, dia tampak sangat tampan. “Sial! Mengapa di saat seperti ini dia justru tampil sempurna?” batinku. Aku pun tak kalah serasi di matanya, aku memakai terusan berwana putih bergaris, senada dengan kemejanya, memakai sepatu hak tinggi berwarna putih, tas putih. Entah kenapa aku hari ini ingin bernuansa putih. Tuhan, jika kami harus tampil serasi, mengapa harus hari ini? Mengapa bukan dulu saat kami pergi ke pernikahan si Yani, atau ketika bertemu kawan-kawan lama mas Parto, atau ketika pergi berdua jalan-jalan? Atau kapan saja di masa lalu? Tapi kenapa harus hari ini?

”Ada apa memintaku ke sini Mir?” tanyanya sambil tersenyum. Ditanya begitu aku malah jadi bingung. ”Pesen minum dulu mas, jangan terburu-buru. Ayo silakan, aku udah pesen duluan tadi.” Akhirnya malah itu yang keluar dari mulutku. Lima menit, sepuluh menit, setengah jam berlalu dan aku masih belum bisa bicara tentang pokok pembicaraan, malah bahan obrolan kami semakin melebar ngawur.

”Ada apa sih? Apa kamu mau minta putus? Apa nikah? Atau kamu udah ditunangkan? Apa kamu hamil dengan laki-laki lain? Atau apa? Bicara Mir?! Aku malah pusing kalau kamu ngomong ngalor ngidul ngga jelas begini. Aku juga harus pulang. Anak istriku pasti sudah menunggu di rumah.”

”Mas, aku ….” Kalimat itu menggantung begitu saja tanpa ada lanjutan. Mas Parto menunggu lanjutan kalimat itu dengan wajah datar. Hening.

”Aku…. "
.
.
Tamat? Tentu saja belum. Maaf ya kalo bikin penasaran. Sebenernya aku abis ngutak-ngatik folder lama dan ketemu cerpen setengah jadi. Kenapa setengah jadi? Karena biasanya pas cerpennya udah jadi setengah, tiba-tiba rasa malas menyerang. Yah jadi mohon dimaklumi lah.... Saking lamanya ngga diterusin, aku udah lupa dulu mau bikin konflik apa dan tamatnya gimana. Yah jadi monggo saja, barangkali ada tips-tips atau masukan-masukan, aku terima.