Wednesday, March 22, 2006

Minta maaf

Sebuah penggalan kata dari suatu film india yang sedang ditonton asisten rumah tanggaku [Tapi aku ikutan nonton, hwehehehe..] : Meminta maaf tidak akan membuat seseorang lebih rendah ataupun lebih tinggi. Aku suka kalimat itu. Mengajarkan budaya minta maaf. Kalau diperhatikan, memang terkadang orang susah sekali meminta maaf. Kenapa ya? Padahal ngga ada salahnya lho. Coba aja bayangkan ketika ada seseorang yang menurut kita salah. Trus kita kesel. Eh, tiba-tiba dia minta maaf. Biasanya sih ya, reaksi normal kita langsung senyum, trus bilang ”iya, gapapa..” atau mungkin sok jual mahal dulu tapi sebenernya dalam hati udah maafin. Tapi coba bayangin deh, sewajarnya sih ada perasaan lega di hati kita. Jadi, kenapa harus malu meminta maaf kalau ternyata itu bisa membuat perasaan seseorang lega?

Bukan cuma itu, masih ada lagi yang perlu dibudidayakan [Budi? Daya? Siapa tuh? Hehehe.. Abaikan saja komen-komen di balik tanda kurung ini..Ga meaning!] yaitu terimakasih dan tolong.

Ketika kita memberi, sudah sewajarnya kita tidak mengharapkan apapun, namun dengan kata terimakasih dari orang yang kita beri, rasanya menyenangkan. Ada rasa puas disana. Merasa berguna. Jadi, kenapa harus malu berterimakasih kalau kita bisa membuat orang merasa berguna?

Ketika kita meminta sesuatu, penambahan kata tolong sudah sewajarnya akan membuat orang dengan senang hati membantu kita, tidak merasa diperintah, tidak merasa ditindas, tidak menyinggung perasaan orang yang kita mintai tolong. Kalau kita bisa membuat orang yang kita mintai tolong tidak merasa keberatan dan tidak merasa lebih rendah dari kita, apa salahnya?

Jadi, aku meminta maaf atas segala perbuatan salah yang pernah kubuat.
Aku berterimakasih atas segala yang pernah kuterima.
Dan aku minta tolong, beri comments donk….! [Loh?!?]

Mari kita budayakan minta maaf, terimakasih, dan tolong.
C u around...

Tuesday, March 21, 2006

Mulai sekarang, panggil aku gadis

[Under file: Cerita]
.
[Kok terdengar seperti judul sinetron ya?]

Beberapa waktu yang lalu, seperti biasa aku pulang melalui jalur menara mulia-komdak dengan berjalan kaki. Tetapi hari itu ada yang berbeda. Apakah itu? Sesampainya di halte komdak, terdengar seseorang memanggil namaku, “aduuu…”. Sebut saja orang ini oknum “G”. Ternyata oh ternyata, dia sudah memanggil-manggil aku sejak keluar dari gedung menara mulia. Berhubung namaku adu, jadi dia diliatin sama pengemudi mobil-mobil, motor-motor, bahkan parahnya sama penumpang bis-bis yang lewat. Mungkin mereka pikir, “Ngapain nih cewek mengaduh-aduh sepanjang jalan?” [Huahahaha..]

Keesokan harinya, oknum G ini mengadu pada teman-teman tentang kejadian itu dan mencetuskan ide, “Mulai sekarang kita harus memikirkan, kalo ketemu adu di jalan harus di panggil nama apa?”

Kemarin, aku satu lift dengan oknum G ini, dan di situlah tercetus ide bahwa dia akan memanggilku gadis, gadis ke empat, terinspirasi dari blog-ku ini. Tapi kusanggah, “Jangan gadis ke empat, kok kesannya gimana gituh.. Udah, gadis aja.” Lalu setelah itu kami berjalan sepanjang menara mulia-komdak, kali ini oknum G berjalan tanpa harus dilihat-lihat orang lain. [Hahahaha..]

Jadi… Mulai sekarang, panggil aku gadis. [Sok manis ngga sih?]

Tuesday, March 07, 2006

Monday, March 06, 2006

Cape + Seneng = ?

[Under file: Cerita]
.
Weekend kemaren aku ke lampung. Ada tahlilan saudaraku dan lamaran sepupuku. Jadwalnya dadakan banget dan cukup padat. Berikut kronologisnya. [Silakan baca kalo mau, silakan tinggalkan kalo ngga mau. Bukan pilihan yang sulit kok, hehehe..]

Rabu, 1 Maret 2006. Malam itu nyokap ngasih tau ada acara keluarga ini.

Kamis, 2 Maret 2006. Aku bikin surat cuti untuk hari jumat. Karena jadwal bosku yang padat, akhirnya surat cuti baru di-approve jam 6 sore. Untungnya orang HRD belom pada pulang. Pfiuuuhh…Hari itu aku pulang jam 7 malem. Karena capek, akhirnya belom sempet packing buat ke lampung.

Jumat, 3 Maret 2006. Mengingat hari ini aku libur jadi santai-santai [Yipppiiiiieeeee….]. Jam 11 siang baru packing trus makan. Jam dua, aku, kakakku, mama dan papaku, asisten rumah tanggaku (ART-ku), dan om aku berangkat dari rumah menuju sekolah adikku. Jemput dia. Disana beli-beli cemilan dulu buat di kapal sambil nunggu adikku pulang.

Aku kira setelah jemput adikku, kami langsung menuju ke lampung. Ternyata ngga, kami mampir dulu ke rumah sakit, jenguk tanteku [Semoga cepet sembuh..]. Alhasil, baru jam lima lewat sampe di kapal. Udah gitu dapet kapal yang gede lagi, jadinya lelet deh... Percaya atau ngga, baru jam setengah sebelas sampe tujuan, Hotel Balong Kuring. Langsung beres-beres dan tidur. [Zzzz.... cape...]

Sabtu, 4 Maret 2006. “Bagun tidur kuterus mandi.. Tidak lupa menggosok gigi..” Aduh itu lagu cocok banget dinyanyiin di pagi itu. Setelah mandi, aku keliling-keliling hotel [Ngga lupa foto-foto tentunya] sementara orangtuaku mengantar ART-ku pulang ke rumahnya. Kirain hotelnya kecil, ngga taunya luas banget. Di belakangnya ada banyak kolam ikan, yang di atasnya ada pondok-pondok tempat makan, jadi bisa menikmati makan siang ditengah kolam, sambil ngasih makan ikan. Ada kolam renang plus water boom, tapi bayar Rp. 15.000, jadi males. Trus ada kuda dan soang-soang [Ini hotel apa peternakan sih??]. Setelah puas keliling-keliling, kami sarapan. [Hmm.. nasi gorengnya enak lhooo]

Siang itu saudaraku mampir, dia ngasih duren ke papaku. Jadinya siang itu kami sekeluarga makan ikan gurame bakar di pondok di tengah kolam, di tambah duren dari saudaraku [Hmm… Nikmat…]. Pas lagi makan, mamaku cerita kalo untuk orang-orang yang menginap di hotel boleh pakai kolam renang gratis. [Yaa mama… Coba bilang dari tadi…]. Berhubung jadwal padat ditambah siang yang panas, rencana berenang ditunda. Akhirnya kami berkunjung ke rumah saudara-saudara [Banyak banget soalnya saudara di lampung], trus sorenya mancing ikan dulu di salah satu tempat milik saudaraku. [Hehehe… bener-bener menikmati liburan deh ;p]. Malamnya, ikut acara tahlilan. Jam sembilan lewat acaranya selesai, trus pulang. Sampe di hotel jam setengah sebelas malem.

Minggu, 5 Maret 2006. Disuruh siap-siap secepatnya, jam sembilan berangkat ke tempat saudaraku yang dilamar. Yah, akhirnya rencana berenang dibatalkan. Jam satu siang acaranya selesai, kami pun menjemput ART-ku di rumahnya. Sampai di sana, ternyata dia lagi pergi ke rumah temannya. Akhirnya kami susul dia dengan membawa tas berisi pakaiannya. Sesampainya di rumah temannya, katanya ART-ku itu baru aja pulang. Akhirnya kami kembali lagi ke rumahnya [Dikerjain sama ART nehh… Untungnya ketemu, kalo sampe selisih jalan lagi bisa gawat..]. Karena kejadian itu akhirnya baru jam empat kami menuju pelabuhan Bakaheuni. Jam enam lewat sampe pelabuhan dan jam setengah tujuh kapal berangkat. Berhubung ini juga kapal yang cukup besar, jadi baru jam sembilan sampai di pelabuhan merak. Akhirnya sampe di rumah jam setengah sebalas lagi..

Pfiuuh… Ternyata tiga malam ini selalu berakhir di jam setengah sebelas… Cape sih.. Tapi seneng.. Hehe..