Wednesday, March 09, 2016

Anak suka mengamuk saat minta dibelikan mainan? Mungkin ini penyebabnya.

Pernahkah suatu ketika saat ke pasar, ke mall, ke supermarket, anak kita merengek minta mainan? Ada yang bahkan sampai mengamuk berguling-guling. Supaya ngga malu, akhirnya orangtuanya mengambil jalan pintas agar anaknya diam.

Mainan itu dibelikan.

Keadaan ini biasanya bermula dengan dialog yang kurang lebih seperti ini:

“Ma, mau mainan ini?”
“Ngga boleh.”
“Mau ini!”
“Ngga boleh!”

Kemudian anak menangis. Karena malu dan ngga tega, akhirnya mainan pun dibelikan. Ini namanya tidak konsisten, tadi tidak boleh sekarang boleh.

Lalu apa yang ada di pikiran anak? Oh, kalau menangis artinya permintaan akan dikabulkan, mainan akan dibelikan. Secara logika masuk akal bukan?

Kemudian berikutnya terjadi lagi, saat ini orangtua mulai tahan dengan tangisan anak. Maka anak akan menangis lebih kencang. Dan kalau pada titik ini permintaan anak kembali dikabulkan (minta mainan, makanan, atau apa pun) maka anak akan berpikir bahwa semakin kencang menangis maka permintaan akan dikabulkan.

Kemudian kalau terjadi lagi, dan orangtua semakin tahan dengan tangisan anak yang kencang, maka anak akan menangis dan mengamuk. Kalau ketika ini orangtua tetap mengabulkan, maka kemungkinan besar menangis dan mengamuk akan menjadi kebiasaan anak saat meminta sesuatu.

Apa salahnya sebelum berangkat buat perjanjian, “nanti di sana ngga beli mainan ya.”

Atau kalau kasihan pada anak bisa juga belikan yang lain, anggap saja sebagai hadiah karena si anak sudah berbaik hati menemani kita belanja. Katakan saja begini misalnya, “Nanti di sana ngga beli mainan ya. Tapi kalau kamu bisa anteng nemenin mama belanja, pulangnya mama beliin donat.”

Atau memang dari awal janjikan saja belikan mainan, “Nanti kalau kamu anteng, pulangnya mama belikan mainan, kamu boleh pilih satu, tapi yang harganya di bawah dua puluh ribu ya.”

Atau bisa apa pun, tergantung kita. Tapi ingat, buat perjanjiannya SEBELUM BERANGKAT. Dan yang lebih penting, TEPATI! Jangan PHP alias Pemberi Harapan Palsu.

Kalau anak sudah terlanjur terbiasa mengamuk bagaimana? Ya tetap lakukan perjanjian sebelum berangkat, kalau dia minta mainan maka ingatkan dia tentang perjanjian awal. Kalau ada tanda-tanda mau mengamuk langsung saja pulang daripada malu. Yang penting tetap melaksanakan janji awal. Kalau belum selesai belanja maka lanjutkan belanja lain kali. Atau kalau memang belanja itu penting, supaya tidak terganggu, lebih baik anak tidak diajak.


Semoga bermanfaat. 

5 comments:

Bang Day said...

ya sama mba.. bikin perjanjian walo kadang tetap aja ngamuk :(

yuni zuhri said...

Hehehhe.. idem mba. Susah susah gampang kalo menghadapi anak anak ini. Tetapi kadang saya luluhnya karena suka ngga tega liat mata rayuan anaknya. Hehehe

yurmawita said...

seringnya gitu ya mba..kita ga tegaan sama anak padahal itu adalah senjata mereka untuk meminta sesuatu dilain hari.. oh bunda pasti mau ngabulkan pintaku kalau aku nangis kenceng..

Iman Lukman NulHakim said...

Ibu saya juga sudah berbuat perjanjian mbak " nanti di sana ngga beli mainan ya " seperti itu pada adki2 saya, tapi tetap saja kalau sudah ada mainan yang di sukai akan minta di beliin, kalo tidak ya nangis mbak ...

nalanda catumorli said...

Karena itulah orangtua yang harus bisa konsisten untuk menolak permintaan anak.