#Misi21


Kemarin gw baru aja ikut “Career Days Fair” di kantor. Waktu email-nya dateng dari HRD tanggal 19, gw baca kan isinya, Career Workshop: "Forget what you think you know about job & career" with Rene Suhardono, Career Coach (mandatory registration). Reaksi gw langsung, “widiiiihhh, ini dia nih, oke pembicaranya. Ikut ah!” Soalnya gw punya bukunnya dia, yang judulnya, “Your job is not your career”, jadi langsung aja gw kasih tau temen gw yang juga punya buku itu, dan langsung reply tuh email.


Nunggu beberapa hari, balesan dari HRD ngga ada. Gw pikir gw ga dapet seat. Alhamdulillah yaa *syahrini style* tanggal 27 email invitation-nya nongol.




Gw dateng ontime. Jujur, selama sesi itu, gw enjoy banget. Seakan zombie yang ada di dalam diri gw, yang udah terkungkung dalam rutinitas, yang hidup tapi setengah hidup, akhirnya pergi dari diri gw. Gw baru sadar, ternyata selama ini isi kepala gw sangat bising! Dan untuk itu gw perlu obat, yang gw dapatkan dari acara ini.

Think less. Feel more.



Gw ini seorang wanita. Seorang istri. Seorang ibu. Gw tidak punya komplain terhadap keluarga gw. It’s all ok. Fine. Kualitas hubungan gw dengan suami dan anak gw, gw anggap baik. Gw beruntung, bisa mendapatkan pekerjaan yang tidak menuntut untung dateng on-time. Prinsip yang ada di kantor gw adalah, yang penting kerjaan selesai. Jadi gw bisa dateng siang dan pulang sore. Sebelum berangkat kerja, bangun pagi gw masih bisa main dulu sama anak gw (2.5 thn), mandiin dia, nyuapin dia. Hal-hal yang biasanya didambakan ibu-ibu bekerja. Makan siang, makan sore, dan mandi sore, yah realistis aja karena gw ada di kantor, maka itu gw serahkan pada orang lain (baca: pembantu atau caregiver di daycare, tergantung sikon). Sore/malam di rumah, gw pasti langsung mandi biar segar. Agenda abis itu, nemenin anak main lagi sampe tidur. Baru biasanya gw makan dan sisa waktunya buat gw dan suami, atau buat gw sendiri (baca: me-time).




Terus terang, sebagai seorang ibu sebenarnya berat ninggalin anak bekerja. Tapi untuk ninggalin pekerjaan, otak gw dan lingkungan sekitar gw bising! Banyak pertimbangan ini-itu ini-itu. Apalagi gw memang cukup beruntung dengan pekerjaan sekarang, masih punya waktu berkualitas buat anak gw, dan terus terang penghasilan gw sebagai engineer lumayan juga. Tapi masalahnya, yang namanya engineer itu kan standby 24/7 dan yang bikin males adalah kalo ada kerjaan tengah malem. *begadang jangan begadaaang* *tuh kan bising*

Sebenarnya udah punya rencana untuk berhenti kerja, yaitu kalau punya anak kedua, atau anak mulai sekolah. Tapi itu pun gw ngga mau jadi ibu rumah tangga full. Gw masih mau punya penghasilan. Karena itu, sebelum salah satu dari dua kondisi di atas tercapai, gw membuat rencana-rencana. Tapi ya itu, namanya semangat itu kan naik turun, dan kadang gw ngga percaya diri meneruskan rencana-rencana itu. Dan gw takut nanti ketika salah satu kondisi di atas tercapai, gw ngga siap untuk resign. Dan bla bla bla, bla bla bla.. Tuh kan, bising......... Yang ditulis sih enak bisa dibaca, yang bergema di otak ini loh timpal-timpalan, tindih-tindihan..... Hush! Adu, shut up!
Think less. Feel more. Think less. Feel more. Think less. Feel more.

Ada lagi yang gw rasa perlu gw lakukan. Setelah gw mengikuti sesi dari Rene ini, ada aktifitas yang dinamakan:

#Misi21

Yaitu melakukan 21 hal baru dan berbeda dalam 21 hari berturut-turut. Kuncinya: do what you’ve always wanted, do what you fear, do random act of kindness. Kata kunci lain: NEW-AWESOME-SINLESS.
Pertama kali denger, ah pengen ah. Tapi lama-lama mikir, nanti jadi distraction dalam mencapai rencana-rencana gw lagi. Trus mikir lagi, ah bodo ah ikut aja! Tuh kan gw... kebanyakan mikir!

Think less. Feel more. Think less. Feel more. Think less. Feel more.

Gw memutuskan untuk ikut #Misi21! Semoga suara-suara bising yang bilang ini adalah distraction itu suara iseng, ga bener! Live a life to the fullest! Go away you zombie!


0 Response to "#Misi21"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel