Tuesday, November 25, 2008

Cinta bisa kadaluarsa? I don’t think so!

Aku ngga setuju kalo ada yang bilang cinta bisa kadaluarsa. Kadaluarsa adalah suatu kata yang diperuntukkan bagi sesuatu yang terus bertumbuh, bertambah tua, dan mati. Contohnya manusia, hewan, tumbuhan. Makanan terbuat kalo ngga dari hewan ya tumbuhan, atau keduanya, makanya punya kadaluarsa. 

Cinta itu termasuk rasa, dia bisa meningkat, bisa menurun, bukan kadaluarsa. Mau itu cinta ke Tuhan atau sesama manusia ya sama aja, bisa naik bisa turun. Cinta pada Tuhan lebih sering kita sebut iman. 

Pernah ga sih kita ngomong ke temen atau sodara atau siapa aja kalo lagi males beribadah, kaya gini, “Duh iman gw lagi turun nih….” Dan perkataan-perkataan semacam itu? Giliran iman kita lagi naik, kita rajin beribadah, rajin berdoa, merasa dosa kita segunung dan ingin berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya supaya pahala kita jumlahnya ngalahin dosa. Pas iman kita lagi turun, kadang kita ngerasa, “Yah whatever happen, happen lah, emang dosa gw banyak kok….” Dan perasaan-perasaan semacamnya. 

Cinta ke sesama manusia juga sama aja, kalo lagi turun, paling kita bilang, “lagi ilfeel” atau “lagi males” atau “lagi bete” dan semacamnya. Kalo kita lagi ilfeel alias cinta lagi turun, kita ngerasa, “Duh kayanya gw ga cocok banget deh sama dia…” atau “Ih coba dia begini ya, dia begitu ya…” dan hal-hal lain yang pokoknya semua tentang dia terlihat salah dan ga cocok. Begitu kita lagi sayang-sayangnya, alias cinta lagi meningkat, kita ngerasa, “Wah, beruntung banget gw punya pasangan kaya dia, begini begini, begitu begitu….” 

Apakah naik turunnya perasaan itu bisa dibilang kadaluarsa? Bukan! Sekali kadaluarsa, berarti sesuatu itu tidak bisa berguna lagi. Apakah makanan yang kadaluarsa bisa enak lagi? Ngga. Apakah tumbuhan mati bisa hidup lagi? Apakah hewan mati bisa hidup lagi? Apakah manusia mati bisa hidup lagi? Ngga bisa. Ada perkecualian, dengan kehendak Tuhan YME. Tapi kita lagi ngga ngomongin itu. Kalo kita ngomongin sesuatu yang mati bisa hidup lagi dengan kekuasaan-Nya, topik ini bisa jadi melenceng. Konteks kita sekarang bukan tentang kiamat, dunia-akhirat, surga-neraka, dan semacamnya. 

Kembali ke topik, seandainya cinta bisa kadaluarsa, kenapa ada CLBK (Cinta Lama Bangkit Kembali,.red) ? CLBK itu ibarat makanan enak, trus kadaluarsa, trus enak lagi. Mungkin ngga? Ngga mungkin. Maka itu cinta bukan kadaluarsa, dia hanya naik turun. Karena ia termasuk rasa, maka kita biasanya hanya mengikuti alurnya. Saat ia naik, kita menikmatinya. Saat ia turun, kita terbawa sedih. Saat ia terus turun dan turun, kita menganggap dia mati. 

Kita biasa seperti itu terhadap rasa, terhadap cinta. Seolah-olah kita tidak membiarkan sedikit pun celah bagi akal, atau kalau dipasangkan dengan konteks cinta, biasa kita sebut dengan logika. Jika kita memberikan celah bagi logika, biarkan dia dengan sengaja menumbuhkan kembali perasaan cinta itu ketika dia mulai turun. Biarkan dia memaksakan kata memaafkan masuk ketika ego kita sedang tinggi-tingginya. Biarkan ia memasukkan kata kenangan saat rasa sayang surut. Biarkan ia memasukkan kata buah hati ketika komunikasi retak, dan seterusnya, dan sejenisnya. 

Cinta itu bisa dipertahankan, kalau kita mau. Apakah cinta bisa kadaluarsa? Tidak. Karena cinta adalah rasa.

Sunday, November 23, 2008

Super reality show yang “reality”?

Tadi aku abis nonton reality show “Super nanny”. Just wondering, kira-kira itu reality show atau “reality” show ya??? Tapi apapun yang sebenarnya, bagus juga acaranya, soalnya ada pelajaran yang bisa kita petik di sana, terutama mengenai psikologi anak. Bermanfaat, apalagi bagi yang punya anak-anak seumur 4-10 tahun, pas lagi bandel-bandelnya. Lebih cocok lagi kalo kebetulan kasus yang lagi ditayangin mirip dengan kasusnya si penonton. Banyak pelajaran yang bisa diambil, terutama mengenai pentingnya komunikasi dan kerjasama yang baik antara suami-istri sehingga membesarkan anak-anak bisa menjadi hal yang menyenangkan, bukan justru membuat stress dan putus asa. Wondering(lagi), seandainya aja reality show di Indonesia juga ada yang seperti ini, maksudnya punya acara yang bisa diambil pelajarannya. Terlepas apakah itu reality ataukah “reality”, yang penting isi dari acara itu. Ngga perlu disebutin lah satu-satu acara reality show di Indonesia apa aja, kita semua tau apa aja dan kaya apa tipikal reality show di Indonesia. Rasanya, acara televisi di Indonesia benar-benar mengalami kemunduran.
.
.
Apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah hal ini ya? Mogok nonton tv? Pasang tv kabel (duh bahasanya….)? Nonton dvd? Soalnya posisiku (dan mungkin banyak orang) adalah sebagai penonton, orang awam, bukan orang dari dunia pertelevisian yang mungkin bisa bertindak langsung dalam menghadapi hal ini. Kan maunya pulang kantor atau hari libur nyalain tv berharap dapat tayangan yang menghibur atau paling ngga dapet ilmu baru, bukannya tambah stress, ngeliat hal-hal yang ngga mendidik, nonton hal-hal yang berbau negatif, dan sebagainya, dan sebagainya (sampe 2x saking jeleknya). Wahai orang-orang dunia pertelevisian di luar sana, ubahlah tontonan kami! Ciptakanlah tontonan yang lebih berguna! Siapa tau dapet pahala lho :P (apalagi kalo tontonannya bisa menambah ilmu, bagi-bagi ilmu kan insyaallah berpahala :P)

Friday, November 14, 2008