Wednesday, March 28, 2007

Pemilihan presiden (seandainya)

Mari kita berandai-andai…. Seandainya pemilihan presiden seperti melamar kerja biasa, seperti iklan-iklan yang ada di koran. Misalnya saja, ”Dibuka lowongan untuk pemilihan Presiden Indonesia tahun XXXX. Persyaratan: Minimum S1, jurusan apa saja. Pengalaman kerja minimum 10 tahun. Jujur, bertanggungjawab, berpikiran positif, mudah beradaptasi, bisa bekerja perorangan maupun dalam grup, inisiatif, berambisi, tidak mudah tergiur uang. Jika anda merasa memiliki persyaratan di atas, silakan kirim cv anda ke alamat YYYY.” Mungkin juga ditambah persyaratan-persyaratan lain yang dianggap perlu, seperti surat rekomendasi dari dosen, untuk mencegah terjadinya pemalsuan ijasah. Setelah itu CV di terima oleh badan tertentu, atau mungkin juga DPR. Kemudian diseleksilah CV yang memenuhi persyaratan.
Wawancara disiarkan secara langsung di semua saluran televisi, atau televisi tertentu saja karena proses wawancara kemungkinan akan berlangsung lama sehingga jika semua televisi acaranya sama kemungkinan lama-lama penonton akan bosan. Proses ini akan berlangsung menarik karena kita bagaikan menonton acara-acara pencarian idola seperti yang ada di beberapa stasiun televisi sekarang ini. Untuk menghindari adanya pemalsuan ijasah, ketika proses wawancara, sang pewawancara melakukan video call ke dosen yang memberikan rekomendasi. Diharapkan, ada beberapa dari rakyat yang menonton yang merupakan lulusan dari universitas sang pelamar, senhingga bisa mengklarifikasi langsung ke badan tersebut melalui line-line telepon yang telah disediakan, apakah dosen yang sedang muncul adalah benar-benar dosen univeritas tersebut atau bukan, atau bisa juga mengklarifikasi apakah sang pelamar benar-benar lulusan universitas tersebut atau bukan. Mungkin perlu juga diadakan dalam sesi wawancara, penjelasan secara singkat tentang tugas akhir sang pelamar (skripsi, tesis, ataupun disertasi). Setelah melewati beberapa proses, tentunya banyak peserta yang tersisih dan hanya tertinggal lima orang calon kuat. Dari calon sebanyak lima orang ini, kita adakan pemilu seperti biasa, jangan melalui voting sms atau telpon, karena kemungkinan besar akan terjadi banyak-banyakan sms dari pihak atau golongan tertentu. Ketika pemilihan umum berlangsung, diperlukan kejujuran dan keadilan dari berbagai pihak, agar tidak terjadi manipulasi suara. Siapapun yang terpilih, semua harus bisa berbesar hati dalam menerimanya. Proses dalam pemilihan kabinetnya juga memakai seleksi yang serupa, dan diharapkan hasilnya bisa maksimal.

Bagaimana ya seandainya itu terjadi? Seperti apakah Presiden Indonesia yang terpilih? Yang jelas, paling tidak presidennya lulusan kuliah, sehingga kalau ia berkoar-koar agar rakyatnya sekolah, masuk akal karena ia pun sekolah.

Tuesday, March 27, 2007

Bulan


Aku adalah bulan yang selalu memandangi bumi dengan sinar redupnya
Aku adalah bulan yang tak peduli seberapa pun pekatnya malam
Aku adalah bulan yang tak peduli seberapa pun sisa sinar yang kumiliki

Aku tak peduli aku sabit
Aku tak peduli aku gerhana
Aku tak peduli awan
Aku tak peduli hujan
Aku tak peduli bintang
Juga matahari
Aku adalah bulan yang selalu memandangi bumi dengan sinar redupnya

Thursday, March 22, 2007

Saturday, March 17, 2007

Wednesday, March 14, 2007

Thursday, March 08, 2007

Rexona

Pernah liat iklan rexona yang versi ballerina kan? Terus terang, menurutku iklan itu jelek banget. Di iklan itu digambarkan seorang murid yang berprestasi dalam balet, digunjingkan hanya karena ketiaknya basah. Apakah manusia sekarang hanya mementingkan penampilan saja? Kemana hilangnya tari balet yang telah dia suguhkan dengan baik? Hilang begitu saja hanya karena ketiaknya basah. 

Apakah manusia sekarang hanya bisa melihat dari sisi yang buruk? Apakah bakat seseorang langsung dilupakan hanya karena sedikit kekurangan pada fisiknya? Apakah mereka yang meledek itu sudah merasa sempurna? Apakah ketiak kering berarti baik? Bukankah berkeringat itu adalah hal yang wajar? Hal yang manusiawi? Apakah ketiak kering yang dijanjikan oleh produk rexona itu sehat? Kemana dilarikannya keringat kita yang seharusnya keluar itu? Bisakah mereka menjamin itu sehat? 

Bayangkan kalau saja itu terjadi pada kenyataan, bayangkan sang ballerina cilik itu adalah kita, saudara kita, atau anak kita. Bayangkan seandainya dia tidak menemukan rexona sebagai jalan keluar. Kemungkinan besar yang terjadi adalah ballerina cilik itu tidak akan berani lagi untuk menari ballet dan dia akan membuang bakatnya yang bagus itu begitu saja. Bayangkanlah betapa sedikit cibiran kita bisa berarti banyak bagi seseorang. Apakah kita akan merasa bangga kalau berhasil membuat orang kehilangan impiannya? Apakah kita tidak merasa berdosa sudah membuat orang kehilangan kepercayaan dirinya? Kenapa cibiran dan gunjingan itu tidak kita ganti dengan senyuman dan pujian yang bisa membuat orang senang? Apakah kita tidak ingin menjadi orang yang baik, yang berguna bagi orang lain?

Surat untuk sang penawar hati

Setahun yang lalu aku dinas keluar kota, Surabaya tepatnya. Aku menginap di salah satu hotel berbintang di sana. Setiap pagi sebelum bertugas ke kantor, aku menggunakan fasilitas sarapan yang disediakan hotel. Semua pelayannya ramah, selalu tersenyum ketika menyambut tamu. Termasuk dia. Dia yang semula tak kusadari kehadirannya. Dia yang awalnya kuacuhkan saja ketika mengambil piring kotor atau memberikan secangkir teh di mejaku. Aku mulai menyadari keberadaannya ketika tanpa sengaja aku menangkap sorotan matanya yang sedang memperhatikanku.

Semenjak itu, kuperhatikan dia sering melayani mejaku dan selalu berdiri sambil tersenyum ramah serta mengucapkan terimakasih setiap kali aku selesai sarapan. Keramahan yang wajar dari seorang petugas hotel, pikirku. Maka selalu kubalas pula senyumnya seraya mengucapkan, sama-sama.

Tanpa terasa tiga minggu sudah lewat dari hari pertama sejak aku menginap di hotel itu. Seorang temanku dikirim pada hari itu untuk membantuku mengerjakan proyek yang sedang kutangani. Temanku menginap di hotel yang sama denganku, sehingga pagi itu kami makan bersama. Ketika kami sarapan bersama, ada yang berubah. Dia berubah. Sikapnya berubah. Menjadi acuh. Tak lagi melayani mejaku. Tak lagi tersenyum saat kami selesai sarapan. Dia malah mengalihkan matanya untuk mengerjakan yang lain. Seolah-olah sengaja menghindar. Dari apa? Dariku? Kenapa? Kami tidak saling kenal. Aku tidak pernah bercakap-cakap dengannya selain mengucapkan kata, sama-sama. Hari itu, kupikir yang kurasakan hanyalah perasaanku, tapi kurasa tidak. Karena keesokan harinya, dia masih bertingkah sama. Kenapa? Kenapa dia berubah sejak melihatku sarapan bersama temanku? Kami tidak saling kenal.


Pada dua hari berikutnya, tidak kulihat dia. Kurasa dia memang tidak hadir. Kenapa? Tak peduli. Bukan urusanku. Kebetulan itu memang hari terakhirku di sana, karena aku tidak kenal jadi tidak bertemu pun tidak apa-apa. Toh kami tidak saling kenal. Ketika hendak beranjak keluar dari ruang makan, seorang pelayan menahanku dan berkata, ”Maaf, ada titipan untuk anda”. Sebuah surat. Setelah mengucapkan terimakasih, aku pun pergi meninggalkan hotel. Aku dan temanku dijemput oleh supir kantor yang akan mengantarkan kami ke bandara. Temanku duduk di depan dan aku di belakang. Di dalam mobil kubuka surat itu.

Kepada yang terhormat, seseorang yang belum pernah saya ketahui namanya,

Maaf jika surat saya ini dirasa lancang bagi anda. Saya selalu memperhatikan anda sejak pertama kali bertemu. Anda terlihat beda di mata saya. Entah kenapa tanpa sadar mata saya selalu memperhatikan anda. Maaf atas kelancangan saya dan maaf jika itu membuat anda merasa terganggu. Bagi saya, memperhatikan anda memberikan sesuatu yang berbeda pada diri saya. Ah, anda tentu tahu maksud saya. Ini mungkin aneh. Aneh bagi anda. Juga bagi saya.

Terus terang, perasaan saya tak menentu ketika melihat anda sarapan bersama dengan teman anda. Kecewa, marah, sedih, kesal, semuanya bercampur menjadi satu, sehingga tanpa disengaja sikap saya jadi berubah. Entah kenapa…. Padahal bukankah kita tidak saling mengenal? Bahkan saya tidak mengerti mengapa saya menulis surat ini. Ah, mungkin karena saya masih penasaran pada satu hal, saya belum mengetahui nama anda.

Jika anda berkenan, bersediakah anda memberitahu nama anda ke nomor yang saya sertakan pada surat ini? Saya tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin tahu nama anda.

Saya yang menunggu,

Dina (0813-14215036)

Entah apa perasaanku saat itu. Tapi respon pertamaku adalah menghubungi nomor itu lewat sms.

“Maaf jika keramahanku membuat kamu salah mengartikan. Senyumanku semata-mata hanyalah mencoba membalas keramahanmu dengan sewajarnya. Sama sekali tak terbersit dalam pikiranku selain membalas keramahanmu selama aku menginap di sini. Suratmu sampai di tanganku tepat pada waktunya, karena ini hari terakhirku di Surabaya. Pagi ini aku akan kembali ke Jakarta. Oia, namaku Nina.”

Tak lama kemudian handphone-ku berbunyi. Dibalas. ”Makasih atas balasannya mbak Nina. Baiklah kalau begitu, semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan. (Dina)”

Hari ini, aku kembali lagi ke hotel ini. Seperti biasa, dinas. Tanpa sadar, kucari sosoknya. Dia tidak ada. Kenapa? Untuk apa kucari sosoknya? Toh kami tidak saling kenal. Ah, apa yang kurasakan ini? Mengapa aku mencari sosoknya?

Tamat.