Monday, January 30, 2006

Perjalanan pulang weekend kemarin

[Under file: Cerita]

Walaupun bis yang kunaiki ngga sekeren ini, tp gpplah.. The story goes on..

Jumat kemarin, setelah selesai mengerjakan suatu report, aku pulang ke rumah. Setelah bengong beberapa lama, aku tersadar bahwa di perempatan slipi, bis yang kutumpangi [Numpang? Bayar ngga? Hehehe…] berhenti. Aku melihat ke atas, ”Oh, lampu merah.”, pikirku. Eh, tapi apa itu? Ada sesuatu yang baru dan bertengger di lampu merah tersebut. Wah! Ada penghitung mundur digital! Penghitung mundur itu menunjukkan angka 9. Dengan noraknya aku ikut menghitung dalam hati, “8..7..6..5..4..3..”. Detik ke-2, lampu kuning menyala. Lalu pada detik ke-1, lampu hijau pun menyala. Setelah itu waktunya kembali menunjukkan angka 90. Aku pun langsung berpikir, “Oh.. ternyata lampu hijau itu lamanya 90 detik toh.. Asik nih, ada mainan baru, hehehe.. Bisa dipake juga buat anak kecil yang lagi belajar ngitung..” Nah, yang aku pengen tahu, penghitung mundur digital yang di perempatan slipi itu baru atau aku yang baru merhatiin ya?

Ada yang tau?

Friday, January 27, 2006

Baca!

[Under file: Cerita]


Baca. Aku sadar di rumahku terdapat banyak sekali buku. Selain komik tentunya. Buku pelajaran, novel, buku tentang agama, tentang hukum, tentang bumi, tentang alam semesta, tentang bahasa, tentang makanan, tentang lukisan, dan masih banyak lagi. Bahasanya pun beragam, ada bahasa indonesia, bahasa inggris, bahasa belanda, dan bahasa perancis. Di antara semua jenis buku tersebut, yang sudah kubaca semua hanyalah komik [Hehehe…]. Buku pelajaran tidak semuanya pernah kubaca, karena ada buku-buku pelajaran kuliah milik kakak-kakakku yang berbeda jurusan kuliahnya.

Dulu kupikir, “Ah, untuk apa dibaca, toh ngga kepake.” Tapi sekarang, setelah berada di dunia kerja dan terbawa arus rutinitas kerja, aku sadar, aku haus. Haus membaca. Terikat dengan kebiasaan membaca buku pelajaran dari SD, membaca tulisan dari komputer rasanya berbeda dengan membaca buku. Walau sudah terbiasa membaca di depan layar komputer, ataupun mencari bahan dengan browsing di internet, lama-lama aku kangen juga memegang buku.

Sekarang, aku punya target. Dalam setahun ini, akan kuhabiskan buku-buku yang ada di lemari rumahku. Menghabiskan bukan berarti memakan lho… Hahaha.. Meskipun begitu, tidak semua buku akan kubaca, aku akan tetap pilih-pilih bukunya [Lah…]. Yah, kita lihat saja apakah dalam setahun ini aku akan membuktikan perkataanku atau tidak.

Sampai ketemu lagi…..

Thursday, January 26, 2006

Huah..!


[Under file: Cerita]

Breath adu! Breath! Why..? Karena hari ini tiba-tiba aja kerjaan gw menggambreng! [Bahasa apaan tuh?] Setelah sekitar tujuh jam penuh bekerja, yah dikurangin waktu makan dikit deh, soalnya makan juga buru-buru.. Setelah ngurusin training, bikin TA, cheque request, BAST, new format monthly report (agak-agak bikin repot nih format barunya, soalnya data-data gw belom diolah…), ngejer-ngejer orang-orang untuk minta approval, akhirnya sekarang gw bisa sedikit bernapas lega karena pekerjaan yang membumbung tinggi mulai menipis. Hasilnya? Yah begini deh.. Nge-Blog dulu… Hehehe… Padahal pekerjaan yang mulai menipis itu masih membumbung alias belum tipis-tipis amat.. tapi gw memilih santai dulu.. Huahahaha… Lagian nulis ini kan cuma bentar, pekerjaan bisa menunggu lah ;p Sebenernya sih masih lumayan banyak, karena gw perlu mengolah data yang ada dari Februari taun kemaren sampe Januari taun ini.. Ok deh, itu dulu, mari kita selesaikan antrian pekerjaan yang ada ini..

Electra record February 2005 – January 2006.. Here i come!!!

C u all..



PS: Sorry gw ngga mencantumkan asal gambarnya, gw lupa linknya darimana....

Wednesday, January 25, 2006

“Nalanda Catumorli” versus “Adu”

[Under file: Cerita]
.
Cerita ini akan dimulai dari suatu perkenalan. Misalkan seseorang itu bernama A. ”Hai, namaku A. Nama kamu siapa?” Seperti biasa, aku akan menjawab, ”Nalanda”. Kemudian yang terjadi adalah seperti yang sudah-sudah, muncul pertanyaan yang senada dengan, ”Nama panggilannya siapa?”. Bagaikan sudah ada settingan default-nya, aku akan menjawab singkat, ”Adu”. Nah ini dia pertanyaan memancing dan selalu ada, si A akan merespon, ”Kok bisa dipanggil adu? Dapet darimana?”. Nah, kalo udah dikasih pertanyaan kayak gini, aku udah ngga heran lagi, sampe mikir, “Kok bisa ya semua orang bertanya hal yang sama?” Saking terbiasanya dengan pertanyaan itu, aku biasanya menjawab, “Ceritanya panjang.”

Sebenernya sih ceritanya pendek, cuma karena aku sudah berkenalan dengan banyak orang dan menceritakan asal-usul nama “adu”, makanya ceritanya jadi panjaaaaaaang.... Nah makanya sekarang asal-usul nama “adu” mau aku ceritain di blog ini. Biar jawaban “Ceritanya panjang” diganti dengan “Liat aja di blog saya/ aku/ gw.”

Asal usul nama “adu” yang aku tahu ada dua versi. Tapi aku ambil salah satu versi yang menurutku lebih masuk akal dan versi inilah yang selalu kupakai dalam bercerita. Tanpa mengurangi rasa hormat dari pemilik kedua versi tersebut, cerita ini akan kumulai…

Ada seorang anak kecil manis, imut-imut [Narsis mode +ON], namanya Nalanda. Anak kecil ini menggemaskan dan subur, alias ndut. Karena itu, dia dipanggil oleh keluarganya tercinta dengan nama Naldut (Nalanda gendut). Anak kecil manis, imut-imut, mengemaskan, dan lain sebagainya ini mencoba menyebut namanya sendiri, berhubung kejadiannya ini terjadi waktu anak kecil manis, imut-imut, mengemaskan, dan lain sebagainya ini belum lançar berbicara, yang keluar dari mulutnya bukannya “Naldut” tapi “Adu”. Tamat.

Tuh pendek kan ceritanya... Apalagi kalo ”Anak kecil manis, imut-imut, mengemaskan, dan lain sebagainya” ini di-cut jadi ”Anak kecil” aja. [Hehehe…]

Ada satu lagi pertanyaan yang biasanya muncul. Pertanyaan ini datang kalau orang sudah mengetahui nama lengkapku, Nalanda Catumorli. Dimulai dengan komentar, “Nama yang lucu/ aneh/ dsb” dan diikuti dengan pertanyaan, “Artinya apa sih?”

Nah ini dia jawabannya. “Nalanda” diambil dari potongan nama kakak-kakakku (Ada 3). Ngga usah detail per suku kata dapat darimana ya… “Catumorli” diambil dari bahasa sansekerta “Catur” yang artinya empat dan bahasa palembang “Morli” yang artinya gadis. Biar lebih manis dan gampang menyebutnya, “Catur” dipotong menjadi “Catu”. Jadi bisa dibilang Nalanda Catumorli artinya adalah Nalanda, gadis keempat.

Aku cerita ini bukan berarti aku ngga suka namaku lho.. Aku suka sekali namaku dan aku berterimakasih pada orangtuaku yang sudah memberikan nama yang indah ini. Thanks Ma, Pa, love you always :)

Yup! Sudah dulu ya..

Monday, January 23, 2006