Wednesday, January 27, 2016

Hati-hati dalam memberi julukan

“Lila, kamu tahu ngga kalau nama itu doa?” tanya Kak Ayu memulai pembicaraan. Siang ini aku menemani kakak iparku itu menjemput Sarah, anak pertamanya yang berumur delapan tahun.

“Tahu kak, kenapa?”

“Nah, bagus kalau kamu sudah tahu. Itu bekal pertama untuk anakmu nanti.” Sahutnya sambil melirik sebentar sambil jempolnya menunjuk ke arah perutku yang belum terlihat membuncit. Umur janinku baru tujuh minggu.

“Tapi nama itu bukan cuma nama yang tertera di akte,” lanjutnya sambil terus menyetir mobil sedannya dengan kecepatan rata-rata, sebab tidak mungkin menyetir dengan cepat saat jalanan cukup ramai begini.

“Oh ya? Maksud Kak Ayu gimana?”

“Maksud kakak, nama panggilan atau julukan juga doa. Misalkan saja contoh yang paling sering terjadi, kalau ada anak kecil disuruh salam ke teman orangtuanya, lalu anak itu malahan sembunyi di belakang ibunya atau bapaknya, nanti dibilang begini, “Ih kok malu? Jangan malu, ini teman mama papa kok, ayo salam.” Lalu masih diteruskan lagi ke temannya, “maaf ya, anakku ini memang pemalu.” Nah itu kan berarti doa dari orangtuanya. Selain itu juga si anak yang mendengar malah merasa, “oh aku anak yang pemalu ya.” Dan kalau ini terjadi berulang-ulang, anak itu bisa jadi pemalu betulan.”

“Jadi kalau begitu gimana dong kak?”

“Dulu waktu Sarah kecil, dia juga suka  begitu. Kalau disuruh salam sama teman kakak malah sembunyi di belakang kakak. Tapi kalau teman kakak bilang, “Ih malu ya?” langsung kakak jawab, “Ngga kok, biasa lah baru kenal. Nanti juga kalau udah kenal jadi akrab.” Setelah itu kakak jongkok sambil bilang ke Sarah, “Sarah, ini teman mama, Sarah salam ya?” kalau dia mau ya alhamdulillah, kakak puji dia, kalau ngga mau ya ngga apa-apa. Toh sebenarnya teman kita juga ngga ambil pusing anak kita mau salam atau ngga.”

“Oh begitu ya kak, Lila baru tahu.”

“Nah karena itu hari ini kamu kakak ajak jemput Sarah, mudah-mudahan ada pelajaran yang bisa kamu ambil.” Kata Kak Ayu sambil mencari tempat parkir karena kami sudah sampai sekolah Sarah.

“Mamaaaa....” Sarah bersorak gembira dan berlari menyambut Kak Ayu saat kami memasuki halaman sekolah.

“Assalamu’alaykum cantik.” Sahut Kak Ayu menyambut Sarah dengan setengah berjongkok kemudian memeluknya.

“Wa’alaykumussalam Mama.” Sarah membalas erat pelukan Kak Ayu. Sungguh hubungan Ibu dan Anak yang menginspirasi.

“Umar.. Kak Sarah kangeeen banget sama Umar.” Peluk Sarah pada Umar, adiknya yang berumur empat tahun yang sedang kugandeng. “Sarah ngga kangen sama Tante Lila nih?” candaku padanya yang dijawab dengan cengengesannya, lalu dia pun memelukku.

Setelah berpelukan, Kak Ayu pun mengajakku ke tempat duduk panjang tak jauh dari tempat kami berdiri. Di sana para ibu sedang mengobrol sambil menunggu anak-anak mereka yang masih bermain.

“Assalamu’alaykum....” salam Kak Ayu pada ibu-ibu itu.

“Wa’alaykumussalam.. eh ada Mbak Ayu, ayu seperti namanya.” Jawab Ibu bergamis hitam putih. Aku setuju dengan ibu itu, Kak Ayu memang ayu, sesuai namanya. Ya mungkin seperti yang Kak Ayu bilang, nama adalah doa.

Kak Ayu pun memperkenalkan aku dengan teman-temannya. Saat itu, Sarah bertanya dengan sopan, “Mama, boleh Sarah main sebentar dengan teman-teman?”

“Boleh sayang. Sebentar saja ya, mau sepuluh atau lima belas menit?”

“Lima belas menit.”

“Oke, Mama pasang timer  lima belas menit, setelah itu pulang ya.”

“Oke Mama.”

Setelah Sarah pergi, teman Kak Ayu yang bergamis hitam putih tadi pun berkomentar, “Sarah itu anaknya baik banget ya.”

“Iya, sopan lagi.” Komentar yang lain.

“Iya, sudah gitu mau menepati janji lagi. Kalau sudah lima belas menit diajak pulang langsung mau.”
Komentar-komentar positif keluar dari mulut teman-teman Kak Ayu itu, yang hanya dijawab dengan “Alhamdulillah” oleh Kak Ayu.

“Iya, ngga kayak Nabila nih pemalu banget. Beraninya sembunyi di belakang ibunya aja.” Komentar terakhir itu membuatku tersadar bahwa di belakang ibu yang berbaju kuning itu ada seorang anak perempuan yang memegang baju ibunya.


“Nabila, sudah salam belum tuh sama Tante?” katanya sambil menunjukku. Bukannya mengulurkan tangan, anak itu semakin kuat menggenggam baju ibunya.

“Tuh kan, kamu mah pemalu banget.” Katanya sambil menengok pada anaknya, dan masih dilanjutkan sambil menatapku, “Nabila ini memang pemalu banget.”

“Ah, ngga kok Mbak, belum kenal aja kali. Nanti juga kalau udah kenal mau ngomong.” Kata Kak Ayu membela anak itu.

Lalu kulihat ibunya Nabila membuka mulut seperti mau menyanggah, tapi sudah didahului oleh ibu-ibu yang lain.

“Ah, daripada Asad tuh nakal banget! Kalau dibilangin ngga mau nurut.”

“Oh si Rasyad sebenarnya baik Mbak, cuma biasalah anak-anak kalau lagi serius main, suka ngga dengar suara kita, mungkin cara kita memanggilnya yang perlu diubah.” Kak Ayu pun membela anak yang bernama Rasyad.

Lagi-lagi, kali ini saat ibunya Rasyad mau menyanggah, sudah didahului oleh yang lain. Hampir semua ibu-ibu di situ mengeluhkan masalah anaknya, ada yang berkata anaknya ngga bisa diam, ada yang anaknya asyik main gadget seharian, ada yang bikin rumah berantakan, ada yang bilang anaknya pembohong. Dan setiap ada yang mengeluh, Kak Ayu berusaha memberi nasihat.

Tapi ternyata, tidak semua orang mau menerima nasihat. Tampaknya ibu-ibu ini hanya ingin bercerita, bukan mau mencari solusi. Sayang sekali, padahal kalau mereka mau mendengarkan Kak Ayu, mungkin anak-anak mereka ini, yang sedang mereka jelek-jelekkan ini, bisa jadi lebih baik di mata mereka, dan hubungan mereka dengan anak-anak mereka juga jadi lebih baik.

Yang aneh, mereka menimpali dengan, “kamu sih enak Mbak Ayu, anakmu penurut”, atau “Ah kamu ngga akan mengerti Yu, anak kamu kan jujur”, dan komentar-komentar senada. Seakan-akan Sarah dan adik-adiknya dilahirkan dengan sifat sempurna, tanpa campur tangan dan didikan Kak Ayu. Memang betul, itu karunia Allah. Tapi sebagai adik, aku melihat sendiri bagaimana Kak Ayu mendidik anak-anaknya. Bagaimana kejujuran, kelembutan, dan kesabaran abangku dan Kak Ayu menjadi keteladanan langsung bagi anak-anaknya.

Hiruk-pikuk obloran itu ditambah oleh seorang anak lelaki yang menghampiri seorang ibu berbaju merah dengan rok bunga-bunga dan berkata, “Ma, pinjam handphone!”. Namun berkali-kali anak itu meminta, ibunya tidak meladeninya. Akhirnya anak itu berteriak dan memecah hiruk-pikuk itu, “MAMAAAA!!!”

“Apa sih teriak-teriak?! Ngga lihat apa Mama lagi ngobrol?! Bikin malu aja!”

“Pinjem handphone!”

“Ngga boleh!”

“MAMA PELIT!” teriak anak itu sambil menarik rok ibunya ke bawah. Ibunya berteriak dan untungnya sang ibu juga cepat menahan roknya sehingga tidak melorot ke bawah.

Anak itu pun berlari diiringi teriakan ibunya, “DASAR ANAK SETAAAAN!!!”

Aku melongo dibuatnya, kemudian kulihat Kak Ayu sedang menatapku penuh arti. Baiklah kak, aku mengerti, pelajaran di mobil tadi kuterima dengan baik, batinku.

Kak Ayu pun memanggil Sarah karena timer sudah berbunyi. Kami berpamitan dengan ibu-ibu yang lain untuk pulang. Dalam perjalanan menuju tempat parkir mobil, aku terpikir, “Loh kalau anaknya disebut anak setan berarti ibunya adalah .... “

Lalu aku pun tersenyum-senyum sendiri.



TAMAT.


2 comments:

Kanianingsih said...

Makasih mba diingatkan untuk memanggil anak dg nama yg baik

nalanda catumorli said...

Sama-sama mba :)