Monday, July 12, 2010

That is why we call us human, not robot

Seandainya kamu adalah seorang pencipta robot dan kamu sedang memprogram sepuluh robot untuk mengepel rumah yang luas. Sebelum kamu menyalakannya, kamu memberikan satu program "pilihan" yang bisa membuat robotmu mau atau tidak melakukan program mengepel itu. Kamu memberikan waktu untuk semua robot itu dan kamu putuskan untuk mengistirahatkan robot-robot yang berhasil melakukan tugasnya di sebuah ruangan ber-ac yang luas, penuh mainan dan ada kasur yang empuk, sehingga dia bisa istirahat ataupun main sepuasnya. Dan kamu putuskan untuk membakar robot-robot yang gagal melakukan tugasnya. Kemudian sepuluh robot itu kamu nyalakan.

Ternyata, robot 1 malah tidur-tiduran, robot 2 santai-santai sambil nonton TV, robot 3 dan 4 malah berdua-duaan, robot 5 menghabiskan makanan, robot 6 memecahkan barang-barang, robot 7 keluyuran di halaman, robot 8 menceburkan diri di kolam dan langsung mati. Eit, ternyata tidak semua memilih untuk tidak mengepel. Robot 9 dengan tenang mengepel lantai, dia melakukannya dengan sungguh-sungguh dan teliti. Pekerjaannya bersih sekali, bahkan dia melakukannya dengan tersenyum, begitu terus sampai selesai.

Lalu, apa yang dilakukan si robot 10? Ternyata dia juga mengepel! Hanya saja, sebentar-sebentar dia berhenti, lalu mengeluh kecapaian sambil duduk beristirahat, terkadang berteriak-teriak, "KENAPA SIH AKU HARUS MELAKUKAN HAL INI?!" atau "KENAPA SIH AREA PELNYA LUAS AMAT?!" dan kalimat-kalimat serupa. Walau begitu, dia tetap meneruskan mengepel. Kamu hanya tersenyum melihat tingkahnya itu. Terkadang, ia tergoda untuk bersantai seperti robot 1 dan 2, tapi dia tidak melakukannya. Dan meski dia lapar, dia tidak makan seperti robot 5. Kemudian, "TIME'S UP!!!" Katamu.


Kamu matikan semua robot, padahal robot 10 baru menyelesaikan 7/8 lantai. Dengan yakin, kamu membakar robot 1 sampai 8, dan mengirim robot 9 ke ruangan ber-ac. Lalu, apa yang kau lakukan dengan robot-10? Dia istimewa, pikirmu. Walau banyak mengeluh dan beristirahat, dia tetap pada pendiriannya untuk mengepel. Baiklah, robot 10 juga boleh ke ruangan ber-ac, katamu.

Tidaklah mudah untuk menjadi seperti robot 9, kebanyakan dari kita malahan lebih mirip robot 10, menghabiskan waktu kita dengan mengeluh dan mengeluh. Tapi kalau kita tetap pada pendirian kita, tetap pada jalan-Nya yang benar, tidakkah suatu saat nanti mungkin kita akan memasuki "ruangan ber-ac" itu juga? Bahkan mungkin Tuhan tersenyum pada kita, mengingat tingkah kita yang lucu.

Mumpung waktu kita belum habis, dan menyadari bahwa kita tidak sesempurna robot 9, teruslah berusaha jadi lebih baik.

Nah, kalau dari sudut pandang ini, jelas kan bahwa kalau mau masuk ke ruangan ber-ac tergantung usaha kita.

We are human, not robot, and choices are the things that makes different.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasih suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

0 comments: