Thursday, March 08, 2007

Surat untuk sang penawar hati

Setahun yang lalu aku dinas keluar kota, Surabaya tepatnya. Aku menginap di salah satu hotel berbintang di sana. Setiap pagi sebelum bertugas ke kantor, aku menggunakan fasilitas sarapan yang disediakan hotel. Semua pelayannya ramah, selalu tersenyum ketika menyambut tamu. Termasuk dia. Dia yang semula tak kusadari kehadirannya. Dia yang awalnya kuacuhkan saja ketika mengambil piring kotor atau memberikan secangkir teh di mejaku. Aku mulai menyadari keberadaannya ketika tanpa sengaja aku menangkap sorotan matanya yang sedang memperhatikanku.

Semenjak itu, kuperhatikan dia sering melayani mejaku dan selalu berdiri sambil tersenyum ramah serta mengucapkan terimakasih setiap kali aku selesai sarapan. Keramahan yang wajar dari seorang petugas hotel, pikirku. Maka selalu kubalas pula senyumnya seraya mengucapkan, sama-sama.

Tanpa terasa tiga minggu sudah lewat dari hari pertama sejak aku menginap di hotel itu. Seorang temanku dikirim pada hari itu untuk membantuku mengerjakan proyek yang sedang kutangani. Temanku menginap di hotel yang sama denganku, sehingga pagi itu kami makan bersama. Ketika kami sarapan bersama, ada yang berubah. Dia berubah. Sikapnya berubah. Menjadi acuh. Tak lagi melayani mejaku. Tak lagi tersenyum saat kami selesai sarapan. Dia malah mengalihkan matanya untuk mengerjakan yang lain. Seolah-olah sengaja menghindar. Dari apa? Dariku? Kenapa? Kami tidak saling kenal. Aku tidak pernah bercakap-cakap dengannya selain mengucapkan kata, sama-sama. Hari itu, kupikir yang kurasakan hanyalah perasaanku, tapi kurasa tidak. Karena keesokan harinya, dia masih bertingkah sama. Kenapa? Kenapa dia berubah sejak melihatku sarapan bersama temanku? Kami tidak saling kenal.


Pada dua hari berikutnya, tidak kulihat dia. Kurasa dia memang tidak hadir. Kenapa? Tak peduli. Bukan urusanku. Kebetulan itu memang hari terakhirku di sana, karena aku tidak kenal jadi tidak bertemu pun tidak apa-apa. Toh kami tidak saling kenal. Ketika hendak beranjak keluar dari ruang makan, seorang pelayan menahanku dan berkata, ”Maaf, ada titipan untuk anda”. Sebuah surat. Setelah mengucapkan terimakasih, aku pun pergi meninggalkan hotel. Aku dan temanku dijemput oleh supir kantor yang akan mengantarkan kami ke bandara. Temanku duduk di depan dan aku di belakang. Di dalam mobil kubuka surat itu.

Kepada yang terhormat, seseorang yang belum pernah saya ketahui namanya,

Maaf jika surat saya ini dirasa lancang bagi anda. Saya selalu memperhatikan anda sejak pertama kali bertemu. Anda terlihat beda di mata saya. Entah kenapa tanpa sadar mata saya selalu memperhatikan anda. Maaf atas kelancangan saya dan maaf jika itu membuat anda merasa terganggu. Bagi saya, memperhatikan anda memberikan sesuatu yang berbeda pada diri saya. Ah, anda tentu tahu maksud saya. Ini mungkin aneh. Aneh bagi anda. Juga bagi saya.

Terus terang, perasaan saya tak menentu ketika melihat anda sarapan bersama dengan teman anda. Kecewa, marah, sedih, kesal, semuanya bercampur menjadi satu, sehingga tanpa disengaja sikap saya jadi berubah. Entah kenapa…. Padahal bukankah kita tidak saling mengenal? Bahkan saya tidak mengerti mengapa saya menulis surat ini. Ah, mungkin karena saya masih penasaran pada satu hal, saya belum mengetahui nama anda.

Jika anda berkenan, bersediakah anda memberitahu nama anda ke nomor yang saya sertakan pada surat ini? Saya tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin tahu nama anda.

Saya yang menunggu,

Dina (0813-14215036)

Entah apa perasaanku saat itu. Tapi respon pertamaku adalah menghubungi nomor itu lewat sms.

“Maaf jika keramahanku membuat kamu salah mengartikan. Senyumanku semata-mata hanyalah mencoba membalas keramahanmu dengan sewajarnya. Sama sekali tak terbersit dalam pikiranku selain membalas keramahanmu selama aku menginap di sini. Suratmu sampai di tanganku tepat pada waktunya, karena ini hari terakhirku di Surabaya. Pagi ini aku akan kembali ke Jakarta. Oia, namaku Nina.”

Tak lama kemudian handphone-ku berbunyi. Dibalas. ”Makasih atas balasannya mbak Nina. Baiklah kalau begitu, semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan. (Dina)”

Hari ini, aku kembali lagi ke hotel ini. Seperti biasa, dinas. Tanpa sadar, kucari sosoknya. Dia tidak ada. Kenapa? Untuk apa kucari sosoknya? Toh kami tidak saling kenal. Ah, apa yang kurasakan ini? Mengapa aku mencari sosoknya?

Tamat.

4 comments:

KaKaYaNu said...

du cerita lo serem du...jgn2 dina itu penunggu hotel itu du...bokin cerita yg jgn serem2 doong..huhehehe..asli gue dag dig dug bacanya...sueer ga bo'ong...asli..asli..terlarut gini gue *hayyyyaaaahhh..* nice story du...:p

gadis keempat said...

hahaha.. dodol lo nu..

della said...

Gpp kok Du, K Della pernah baca kalo tiap orang punya kecenderungan buat jatuh cinta ma sesama jenis, tapi kadarnya beda-beda. Makanya ada yang jadi gay, ada yang tetep suka sama lawan jenis tapi kadang bisa deg-degan juga sama sesama jenis.
It's normal gitu loohhh..
Jadi ngapain pake nama palsu segala? :)))))

gadis keempat said...

Grrrrr!!!! Knp seh ngga ada yg percaya adu bs buat cerpeeeennnn...